Semua peserta memperoleh manfaat karena semakin banyak pihak yang bergabung, semakin besar pula nilai jaringan tersebut.
Dalam ilmu ekonomi, fenomena ini dikenal sebagai network effects.
Public Digital Infrastructure menghadirkan efek jaringan tersebut dalam skala nasional.
Mengapa Industri Perbankan Indonesia Dapat Menjadi Penggerak Utama
Indonesia memiliki satu keunggulan yang sering kali kurang mendapat perhatian.
Industri perbankannya telah membangun salah satu basis pelanggan digital yang paling terpercaya di Indonesia.
Selama puluhan tahun, bank telah berinvestasi membangun kepercayaan masyarakat.
Mereka mengembangkan sistem manajemen risiko yang kompleks.
Memenuhi regulasi yang ketat.
Memiliki identitas nasabah yang telah terverifikasi.
Serta memproses miliaran transaksi keuangan setiap harinya.
Dalam era Public Digital Infrastructure, seluruh aset tersebut memiliki nilai strategis yang jauh melampaui fungsi perbankan tradisional.
Bank tidak lagi harus memandang dirinya hanya sebagai penyedia layanan keuangan.
Bank dapat berkembang menjadi buyer application yang terpercaya, menghubungkan nasabah dengan ekosistem ekonomi digital yang jauh lebih luas.
Daripada membangun ratusan kerja sama bilateral dengan merchant satu per satu, bank cukup terhubung ke sebuah ekosistem terbuka yang telah mempertemukan ribuan penjual melalui standar yang sama.
Model ini mengubah ekonomi transformasi digital secara mendasar.
Bank tetap berfokus pada keunggulan utamanya:
membangun kepercayaan,menjaga hubungan dengan nasabah,menyediakan layanan pembayaran,memberikan pembiayaan,mengelola risiko.
Sementara itu, merchant tetap fokus menjual produk.
Perusahaan logistik fokus pada distribusi.
Perusahaan teknologi fokus menciptakan inovasi.
Seluruh proses integrasi dijalankan oleh infrastruktur bersama.
Pendekatan seperti ini jauh lebih mudah dikembangkan dibandingkan meminta setiap organisasi membangun seluruh kemampuan ekosistem secara mandiri.
Yang Harus Diadaptasi Bukan Hanya Teknologi, tetapi Juga Tata Kelola
Pelajaran terbesar yang dapat dipetik Indonesia dari pengalaman India sesungguhnya bukan terletak pada teknologinya.
Melainkan pada tata kelola (governance).
Permasalahan teknologi relatif lebih mudah diselesaikan.
Sebaliknya, persoalan tata kelola jauh lebih kompleks.
Siapa yang menetapkan standar teknis?
Bagaimana sengketa diselesaikan?
Bagaimana syarat partisipasi dikembangkan dari waktu ke waktu?
Bagaimana inovasi tetap tumbuh tanpa mengorbankan interoperabilitas?
Bagaimana netralitas komersial tetap dijaga?
Bagaimana kepercayaan seluruh peserta ekosistem dapat dipertahankan?
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut akan menentukan apakah Public Digital Infrastructure dapat tetap terbuka, dipercaya, dan berkelanjutan dalam jangka panjang.
Teknologi membangun ekosistem.
Namun tata kelola lah yang menjaganya tetap hidup.
Karena itu, kerja sama Indonesia dan India seharusnya tidak hanya mencakup kolaborasi teknologi.
Tampilkan Semua
