Meningkatnya tekanan terhadap lingkungan dan regulasi global seperti EU Deforestation Regulation (EUDR), Sustainable Development Goals (SDGs), serta komitmen zero-deforestation korporasi besar, menandai era baru bagi industri kakao. Produksi kakao regeneratif, yang dikembangkan melalui sistem agroforestri, daur ulang nutrisi, dan ketertelusuran digital, kini menjadi strategi kunci untuk mencapai keberlanjutan sekaligus profitabilitas jangka panjang.
Pada tahun 2024, program TRANSFORM: Bestari Challenge yang digagas oleh Unilever, FCDO, dan EY, mengundang pelaku usaha Indonesia untuk menghadirkan solusi inovatif dalam mendukung pencapaian SDGs, dengan hibah hingga £300.000 bagi pemenang. Program akselerator ini memadukan pendanaan dengan dukungan bisnis strategis untuk menjawab tantangan pembangunan berkelanjutan. Pada Oktober 2024, Sugata terpilih sebagai salah satu dari tiga pemenang utama, memperoleh dukungan untuk mengimplementasikan proyek kakao regeneratif di Aceh Tenggara selama 18 bulan.
Untuk mempercepat pelaksanaan di lapangan, Sugata menggandeng KOLTIVA sebagai mitra pelaksana, menghadirkan keahlian dalam penerapan sistem ketertelusuran digital, pelatihan di tingkat petani, serta pengambilan keputusan berbasis data. Melalui lima pilar kegiatan utama — Gender Action Learning System (GALS), Pengelolaan Lahan Percontohan, Pertanian Regeneratif dan Agroforestri, Pengelolaan Limbah Kakao, serta Pemantauan Emisi Gas Rumah Kaca (GHG Monitoring) — kolaborasi ini menanamkan prinsip keberlanjutan di setiap kebun dan setiap keputusan petani.
“Yang kami bangun bersama Sugata, Unilever, dan FCDO di Aceh bukan sekadar proyek, melainkan cetak biru masa depan industri kakao berkelanjutan,” ujar Joe Keen Poon, Executive Chairman of the Board KOLTIVA. “Bagi kami, petani kecil berhak mendapatkan lebih dari sekadar kepatuhan regulasi; mereka berhak atas teknologi, pelatihan, dan kesempatan yang adil untuk berkembang di pasar global. Dengan menghubungkan data lapangan secara real-time, pengambilan keputusan inklusif gender, dan pemantauan karbon dalam satu sistem, kami membuktikan bahwa regenerasi dan profitabilitas dapat berjalan beriringan — bahkan, keduanya adalah satu-satunya jalan ke depan.”
Sejak akhir 2024, Sugata dan KOLTIVA telah mengembangkan kurikulum pelatihan, membangun lahan percontohan, dan melatih pelatih utama untuk mempercepat implementasi di lapangan. Dalam satu tahun pertama, lebih dari 500 petani kakao di 21 desa telah mendapatkan pelatihan melalui KoltiSkills, 10 lahan percontohan regeneratif didirikan dengan pemantauan emisi langsung, serta lima unit biochar dipasang untuk mengubah limbah kakao menjadi kompos, mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia. Selain itu, 173 lahan telah disurvei untuk pemantauan emisi GHG, sementara lebih dari 100 rumah tangga kini menerapkan pengambilan keputusan inklusif gender melalui pendekatan GALS.
Tampilkan Semua

