Pengenaan tarif terhadap beberapa mitra dagang utama, termasuk negara-negara yang telah lebih dulu terkena dampaknya seperti Tiongkok, Meksiko, Kanada, dan Kolombia, ditambah dengan ancaman tarif baru terhadap Uni Eropa, dapat memperburuk kondisi inflasi. Negara-negara yang masuk dalam daftar tarif AS menyumbang sekitar USD $1,7 triliun terhadap total impor AS pada tahun 2024, yang setara dengan 6% dari Produk Domestik Bruto (GDP) AS. Jika kebijakan ini terus berlanjut atau bahkan berkembang menjadi perang dagang yang lebih luas, dampak terhadap harga barang dan jasa akan semakin besar. Hal ini tentu akan menjadi pukulan bagi investor yang berharap suku bunga terus turun, karena inflasi yang kembali meningkat dapat memaksa The Fed untuk kembali mengetatkan kebijakan moneter.
Salah satu kebijakan kontroversial Donald Trump yang berpotensi mendorong inflasi adalah rencana deportasi massal pekerja imigran ilegal di Amerika Serikat. Sebagian besar pekerja ini berasal dari kawasan Amerika Tengah dan memasuki AS tanpa dokumen resmi, tinggal melebihi izin yang diberikan (overstay), atau menyalahgunakan dokumen visa mereka. Para imigran ini umumnya menerima upah lebih rendah dibandingkan pekerja warga negara AS, sehingga banyak bisnis bergantung pada tenaga kerja mereka untuk menekan biaya operasional. Keberadaan pekerja dengan bayaran lebih murah memungkinkan perusahaan menawarkan harga barang dan jasa yang lebih terjangkau bagi konsumen. Jika kebijakan deportasi besar-besaran diberlakukan, akses terhadap tenaga kerja murah akan berkurang drastis, yang pada akhirnya dapat meningkatkan biaya produksi dan menaikkan harga barang serta jasa di berbagai sektor, mulai dari pertanian, konstruksi, hingga jasa rumah tangga.
Namun, di sisi lain, beberapa kebijakan Trump lainnya diyakini dapat berkontribusi terhadap penurunan inflasi, khususnya di sektor energi. Trump berencana memberikan keleluasaan yang lebih besar bagi industri minyak dan gas AS untuk melakukan eksplorasi serta eksploitasi sumber daya energi domestik, termasuk di lahan milik pemerintah federal. Dengan mendorong produksi minyak dalam negeri, AS dapat mengurangi ketergantungannya pada impor energi dan lebih terlindungi dari fluktuasi harga minyak global. Kebijakan ini diharapkan dapat menekan harga bahan bakar dalam negeri, yang sebelumnya melonjak akibat menurunnya produksi minyak domestik dan dampak dari perang Rusia-Ukraina pada tahun 2022. Salah satu faktor utama pendorong inflasi pada periode tersebut adalah meningkatnya biaya logistik akibat lonjakan harga bahan bakar. Dengan meningkatkan kemandirian energi, AS berpotensi menjaga stabilitas harga dan mengurangi tekanan inflasi dalam jangka panjang.
Tampilkan Semua
