JAKARTA, CILACAP.INFO – Student Leaders Conference (SLC) 2026 diselenggarakan Universitas Pelita Harapan (UPH) pada 10 September 2026, di Auditorium D-501 di Kampus UPH Lippo Village, Karawaci, Tangerang. Diikuti oleh lebih dari 300 student leaders secara daring dan luring, SLC 2026 menjadi ruang bagi para pengurus organisasi mahasiswa untuk memperkuat kapasitas kepemimpinan mereka.
Menjadi pemimpin organisasi mahasiswa bukan sekadar menjalankan program kerja. Seorang student leader perlu memahami lingkungan tempat ia memimpin, membangun sistem yang terarah, menyampaikan gagasan dengan tepat, dan menjalin kolaborasi dengan berbagai pihak. Kemampuan tersebut menjadi bekal penting agar kepemimpinan mahasiswa tidak berhenti pada pelaksanaan kegiatan, tetapi mampu berdampak.
Hal tersebut menjadi fokus dalam Student Leaders Conference (SLC) 2026 yang diselenggarakan Universitas Pelita Harapan (UPH) pada 10 September 2026, di Auditorium D-501 di Kampus UPH Lippo Village, Karawaci, Tangerang. Diikuti oleh lebih dari 300 student leaders secara daring dan luring, SLC 2026 menjadi ruang bagi para pengurus organisasi mahasiswa untuk memperkuat kapasitas kepemimpinan mereka.
SLC 2026 membekali para student leaders melalui empat aspek utama, yaitu memahami konteks, membangun sistem, membawa pesan, dan menciptakan kolaborasi.
Memahami Nilai UPH untuk Menjalankan Kepemimpinan
Sebelum memimpin orang lain, seorang pemimpin perlu memahami bahwa dirinya merupakan representasi organisasi yang dipimpinnya. Oleh karena itu, pemahaman terhadap lingkungan universitas menjadi dasar penting bagi student leaders dalam menjalankan organisasi.
Pada sesi “UPH Knowledge”, Dr. Andry Panjaitan, M.T., CPHCM., Associate Vice President of Student Development, Alumni, and Corporate Relations UPH, menekankan pentingnya memahami visi, misi, nilai, profil lulusan, tujuan, hingga kode etik universitas. Pengetahuan tersebut membantu mahasiswa menjalankan organisasi dan mengambil keputusan dengan melihat konteks yang lebih luas dari sekadar kepentingan program kerja.
“Kalian bukan hanya leaders biasa, tetapi transformational servant leaders. Kepemimpinan kalian bukan sekadar tentang memimpin, tetapi tentang bagaimana kalian melayani dan melalui pelayanan itu memberikan dampak. Karena itu, menjadi pemimpin organisasi juga berarti mengambil bagian dalam menyiapkan pemimpin masa depan, sekaligus membangun kolaborasi dan sinergi dengan organisasi lain,” ujar Dr. Andry.
Dr. Andry menambahkan bahwa UPH mengembangkan kurikulum holistis yang mencakup aspek akademik, kehidupan kemahasiswaan, hingga pembentukan spiritual. Pendekatan pendidikan ini bertujuan untuk membentuk mahasiswa tidak hanya dari sisi pengetahuan dan kompetensi, tetapi juga karakter, serta nilai yang perlu diwujudkan dalam kehidupan mereka, termasuk ketika menjalankan peran sebagai student leaders.
Tampilkan Semua