Mengubah Dukungan Menjadi Kolaborasi
Kepemimpinan juga membutuhkan kemampuan membangun relasi serta mengubah dukungan menjadi kolaborasi yang bermakna. Hal ini disampaikan oleh Evangli Jiferly Langkun, S.I.Kom., Corporate Relations Officer UPH, melalui sesi “Strategic Sponsorship”. Ia mengajak para student leaders memahami bahwa sponsorship bukan sekadar upaya mencari dukungan, melainkan proses membangun kemitraan strategis yang mampu menciptakan nilai bagi kedua belah pihak.
Jiferly menjelaskan bahwa sponsorship perlu dipahami sebagai hubungan yang saling menguntungkan sehingga organisasi perlu menawarkan manfaat yang jelas bagi mitra. Organisasi juga perlu membangun komunikasi dan negosiasi yang baik untuk mencapai kesepakatan yang memberikan manfaat bagi kedua belah pihak. Hubungan tersebut tidak berhenti setelah kegiatan selesai, tetapi perlu dijaga melalui pemenuhan komitmen dan penyampaian laporan kepada sponsor.
“Sponsorship bukan tentang meminta bantuan, tetapi membangun kerja sama jangka panjang yang memberikan value bagi kedua belah pihak. Jadi, jangan hanya datang untuk meminta, tetapi pikirkan juga apa yang bisa kita berikan. Karena pada akhirnya, sponsorship bukan hanya tentang berapa banyak yang kita dapatkan, tetapi berapa besar value yang bisa kita ciptakan bersama,” ujar Jiferly.
Membawa Bekal SLC ke Perjalanan Organisasi
Bagi para student leaders, SLC 2026 menjadi ruang untuk memahami arah dan nilai UPH sekaligus memperkuat kesiapan dalam menjalankan tanggung jawab organisasi selama satu periode kepengurusan. Hal ini dirasakan Gwen Josephine Ho Lase, mahasiswa Hubungan Internasional 2024 sekaligus Ketua Majelis Perwakilan Mahasiswa (MPM) UPH periode 2026/2027, yang menilai pembekalan ini membantunya semakin siap menjalankan peran dan tanggung jawab sebagai pemimpin organisasi.
“Student Leaders Conference ini menjadi bekal penting bagi kami, terutama bagi leaders yang baru mulai menjalankan kepengurusan. SLC mengingatkan kembali pada visi dan misi UPH serta bagaimana organisasi kami menjadi bagian dari lingkungan UPH. Berbagai pembekalan yang diberikan juga membantu kami lebih siap menjalankan tanggung jawab, menghadapi proses selama satu tahun ke depan, dan menjalankan peran sebagai pemimpin dengan lebih percaya diri,” ujar Gwen.
Melalui SLC 2026, para student leaders mendapatkan pembekalan untuk memahami bahwa kepemimpinan berarti melayani, bertanggung jawab, bekerja sama, dan berkontribusi. Bekal tersebut menjadi langkah awal bagi mahasiswa untuk menjalankan perannya sebagai pemimpin organisasi dengan lebih siap. Hal ini sejalan dengan komitmen UPH untuk menghadirkan pendidikan holistis dan berbagai program pengembangan diri yang mampu mempersiapkan mahasiswa menjadi pemimpin masa depan yang takut akan Tuhan, unggul, dan berdampak bagi masyarakat.

