“Untuk itu, sebagai student leaders kalian tidak hanya bertugas untuk menggerakkan kegiatan, tetapi juga harus menjadi teladan bagi komunitas kampus melalui sikap dan nilai yang kalian bawa,” tambah Dr. Andry.
Memimpin dengan Sistem yang Terarah
Ide dan program yang baik membutuhkan tata kelola yang jelas agar dapat dijalankan secara bertanggung jawab. Melalui sesi “Organizational Governance”, Shera Anthony, S.E., Student Development and Alumni Engagement (SDAE) Operation and Compliance Officer UPH, membekali para student leaders dengan pemahaman tentang tata kelola organisasi, mulai dari penyusunan program kerja, pembuatan proposal, pelaporan, hingga pengelolaan keuangan yang transparan.
Tata kelola yang baik tidak hanya membuat organisasi berjalan lebih tertib, tetapi juga membangun kepercayaan dan menciptakan sistem yang dapat diteruskan oleh kepengurusan berikutnya.
“Ketika terjun langsung dalam organisasi, kalian belajar merencanakan dan mengeksekusi program, mengelola keuangan dan sumber daya manusia, serta bertanggung jawab atas setiap prosesnya. Karena itu, penting untuk memegang prinsip kewajaran, keterbukaan, kemandirian, akuntabilitas, dan responsibilitas. Organisasi adalah wadah untuk belajar tata kelola yang baik dan bertanggung jawab, termasuk mendokumentasikan setiap proses agar dapat menjadi pembelajaran bagi generasi berikutnya,” jelas Shera.
Membawa Pesan dengan Komunikasi Strategis
Bagi student leaders, kemampuan menyampaikan informasi dan gagasan menjadi bagian penting dalam menjalankan organisasi. Dalam sesi “Strategic Communication for Student Leaders”, Alexandra Tatgyana Suatan, S.Gz., M.Si., Head of Corporate Communications UPH, mengajak mahasiswa melihat komunikasi bukan sekadar tentang mengikuti aturan, tetapi juga memahami intensi, tujuan, kejelasan pesan, dan tanggung jawab di balik setiap konten yang dibuat.
Menurut Alexandra, membangun komunikasi organisasi tidak cukup hanya dengan memastikan logo ditempatkan dengan tepat. Brand lebih dari sekadar elemen visual; brand adalah tentang bagaimana sebuah organisasi dikenali dan dirasakan oleh khalayaknya. Hal ini dibangun melalui identitas visual, voice and tone, pesan yang disampaikan, nilai yang dibawa, serta standar yang diterapkan secara konsisten. Bagi organisasi kemahasiswaan yang merupakan bagian dari UPH, konsistensi tersebut menjadi penting karena setiap konten yang diproduksi tidak hanya merepresentasikan organisasi masing-masing, tetapi juga turut menjadi bagian dari identitas dan cerita besar UPH.
“Create with purpose. Be creative. Berani mengeksplorasi, mencoba hal-hal baru, dan bereksperimen. Be intentional, pahami betul apa yang ingin kalian komunikasikan, bagikan, atau publikasikan. Be responsible, karena ketika kalian berkomunikasi sebagai bagian dari organisasi, kalian membawa nama organisasi dan juga nama UPH. Tetapi lebih dari itu, ingatlah bahwa pada akhirnya kita hidup dan berkarya di hadapan Allah. Kita diciptakan menurut gambar dan rupa-Nya, sehingga apa yang kita buat dan bagaimana kita berkomunikasi juga seharusnya mencerminkan penghormatan kita kepada-Nya dan kepada sesama. Setiap konten yang kalian buat menjadi bagian dari cerita UPH, tetapi lebih dari itu, biarlah apa yang kita komunikasikan menjadi kesaksian yang dirasakan tentang siapa yang kita representasikan. Jadi, buatlah dengan kreatif, bermakna, dan bertanggung jawab,” ujar Alexandra.
Tampilkan Semua
