JAKARTA, CILACAP.INFO – Dana darurat sebaiknya mudah diakses saat dibutuhkan. Sayangnya, masih banyak orang yang fokus mengumpulkan dana darurat, tetapi lupa memastikan penempatannya sudah sesuai dengan kebutuhan.
Pertanyaan seperti “dana darurat berapa?”, “dana darurat berapa persen dari gaji?”, atau “dana darurat berapa kali gaji?” memang sering muncul. Namun, jumlah dana bukan satu-satunya hal yang perlu diperhatikan. Cara menyimpan dana darurat juga berpengaruh terhadap kemudahan menggunakannya saat kondisi mendesak.
Lalu, kesalahan apa saja yang masih sering dilakukan?
Dana Darurat Berapa yang Ideal?
Tidak ada angka yang berlaku untuk semua orang karena kebutuhan setiap orang berbeda.
Meski begitu, banyak panduan perencanaan keuangan menggunakan kisaran berikut sebagai acuan:
Lajang: sekitar 3–6 kali pengeluaran bulanan.
Sudah menikah: sekitar 6–9 kali pengeluaran bulanan.
Memiliki tanggungan: sekitar 9–12 kali pengeluaran bulanan.
Angka tersebut bukan aturan baku. Besarnya dana darurat tetap perlu disesuaikan dengan kondisi keuangan, pekerjaan, jumlah tanggungan, dan kebutuhan masing-masing.
Dana Darurat Berapa Persen dari Gaji?
Banyak orang juga bertanya, dana darurat berapa persen dari gaji yang sebaiknya disisihkan setiap bulan?
Tidak ada persentase yang wajib diikuti. Sebagian orang memilih menyisihkan sekitar 10–20% dari penghasilan hingga target dana darurat tercapai.
Kalau nominal tersebut terasa berat, tidak masalah memulai dari jumlah yang lebih kecil. Konsistensi biasanya lebih penting daripada mengejar nominal besar di awal.
Kesalahan Menyimpan Dana Darurat
1. Mencampur Dana Darurat dengan Uang Belanja
Kesalahan yang paling sering terjadi adalah menyimpan semua uang dalam satu rekening.
Akibatnya, dana darurat ikut terpakai untuk kebutuhan sehari-hari tanpa disadari.
Memisahkan dana sesuai tujuan dapat membantu menjaga disiplin sekaligus memudahkan memantau perkembangannya.
2. Menggunakan Dana Darurat untuk Keinginan Sesaat
Dana darurat seharusnya digunakan untuk kondisi yang benar-benar mendesak, misalnya:
– Kehilangan pekerjaan.
– Biaya pengobatan.
– Perbaikan kendaraan yang digunakan untuk bekerja.
– Kebutuhan mendesak lainnya.
Belanja diskon atau liburan dadakan sebaiknya tidak diambil dari dana darurat.
3. Menargetkan Nominal Terlalu Besar
Sebagian orang menunda membangun dana darurat karena merasa harus langsung mengumpulkan puluhan juta rupiah.
Padahal, dana darurat bisa dibangun secara bertahap sesuai kemampuan.
Mulai dari nominal kecil tetap lebih baik dibanding terus menunda.
4. Tidak Menambah Dana Darurat Saat Penghasilan Naik
Kenaikan penghasilan sering diikuti kenaikan gaya hidup.
Tampilkan Semua

