JAKARTA, CILACAP.INFO – Jika Anda berdiri di tengah proyek gudang yang baru dimulai, semua besi terlihat hampir sama: besar, abu-abu, dan tampak sangat kuat. Namun, bagi para pemilik bisnis, keputusan memilih antara Baja WF (Wide Flange) atau H Beam adalah pertarungan nyata antara menekan budget hari ini atau menjaga kelangsungan operasional di masa depan.
Sekilas memang mirip, tapi di dunia konstruksi industri, salah pilih material bisa berarti kerugian ratusan juta rupiah akibat biaya perbaikan struktur yang tak terduga.
Jebakan “Harga Murah” di Awal Proyek
Banyak pemilik gudang terjebak pada angka di atas kertas saat tender dimulai. Baja WF sering kali memenangkan hati karena harganya yang lebih ekonomis dan profilnya yang lebih ramping, sehingga tonase total dalam rancangan terlihat lebih ringan dan murah.
Hadi Sunyoto (48), seorang pemilik pabrik pengolahan plastik di Jawa Barat, berbagi pengalamannya saat membangun gudang pertamanya beberapa tahun lalu.
“Waktu itu saya pilih WF karena ingin mengejar efisiensi budget sekitar 15%. Pikir saya, toh fungsinya sama-sama rangka baja. Tapi begitu mesin produksi mulai berjalan 24 jam dan getarannya konstan, struktur atap mulai terasa ‘berisik’. Setelah dicek, ada beberapa titik yang mulai melendut karena tidak kuat menahan getaran lateral mesin. Akhirnya saya harus keluar biaya lagi untuk suntik kolom tambahan. Jauh lebih mahal dibanding selisih harga H Beam di awal,” ungkap Hadi.
H Beam: Investasi untuk “Tidur Nyenyak”
Berbeda dengan WF yang lebih ramping, H Beam memiliki dimensi flens (sayap) dan web (badan) yang lebih tebal dan seimbang. Karakteristik ini membuatnya jauh lebih stabil dalam menahan beban vertikal maupun horizontal secara bersamaan.
Bagi Rian Pratama, seorang pengusaha logistik yang kini mengelola gudang seluas 5.000 m², beralih ke H Beam untuk proyek keduanya adalah keputusan terbaik yang pernah ia ambil.
Tampilkan Semua

