Ikatan Indonesia–India yang Tak Terpisahkan

Ikatan Indonesia–India yang Tak Terpisahkan
Ikatan Indonesia–India yang Tak Terpisahkan

Pada 2023, lebih dari 35.500 penerima manfaat memperoleh dukungan dari program tersebut.

Di sisi lain, India melalui National Education Policy 2020 membentuk National Research Foundation (Anusandhan) yang mulai beroperasi pada 2023 dengan dana sekitar 14,5 miliar dolar AS untuk memperkuat riset dan inovasi di berbagai perguruan tinggi.

Salah satu mekanisme kerja sama yang telah terbukti efektif sepanjang sejarah adalah kemitraan antar lembaga pendidikan dan riset. Ilmu pengetahuan berkembang melalui kolaborasi, bukan kompetisi.

Karena itu, hubungan akademik antara India dan Indonesia seharusnya menjadi salah satu prioritas utama dalam memperkuat kemitraan strategis kedua negara.

Sayangnya, kondisi saat ini masih jauh dari ideal. India mengalokasikan sekitar 56 miliar dolar AS untuk pendidikan tinggi pada 2025, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.

Indonesia sendiri menganggarkan sekitar 43 miliar dolar AS untuk sektor pendidikan, dengan sekitar 11 persen dialokasikan bagi program beasiswa, penelitian, dan pengembangan sumber daya manusia.

Namun, keterhubungan kedua sistem pendidikan masih sangat terbatas. Australia, Amerika Serikat, Jepang, dan Jerman masih menjadi tujuan utama mahasiswa Indonesia yang melanjutkan studi ke luar negeri.

India bahkan belum menjadi salah satu destinasi pilihan. Pada 2022, hanya sekitar 115 mahasiswa Indonesia yang belajar di India, sementara jumlah mahasiswa India yang menempuh pendidikan tinggi maupun riset di Indonesia bahkan kurang dari sepuluh orang.

Padahal, dari sudut pandang ekonomi, kerja sama pendidikan memberikan manfaat jangka panjang yang sangat besar.

Investasi di bidang pendidikan menghasilkan peningkatan produktivitas, mendorong pertumbuhan pendapatan, memperbaiki distribusi kesejahteraan, serta menciptakan lingkungan sosial ekonomi yang lebih baik bagi kedua negara.

Apabila abad ke-21 benar-benar akan menjadi Abad Asia, maka dua demokrasi terbesar di kawasan ini harus memperbanyak kemitraan akademik, membangun lebih banyak jembatan riset, dan membuka kesempatan yang lebih luas bagi mahasiswa serta peneliti untuk belajar dan berinovasi bersama.

India dan Indonesia pernah menjadi pelopor Konferensi Asia-Afrika di Bandung pada 1955. Pada masa itu, kedua negara berupaya mencari model pembangunan yang sesuai dengan kebutuhan dan karakter negara-negara yang baru merdeka.

Saat itu, keduanya masih menghadapi berbagai tantangan ekonomi, politik, dan sosial.

Kini, kondisinya telah jauh berbeda. India dan Indonesia telah berkembang menjadi negara dengan pengaruh ekonomi dan politik yang jauh lebih besar serta mulai memainkan peran aktif dalam membentuk tatanan geopolitik dan ekonomi internasional yang baru.

Tampilkan Semua
Cilacap Info
IKUTI BERITA LAINNYA DIGOOGLE NEWS

Berita Terkait