Saatnya Indonesia–India Pererat Hubungan Saling Menguntungkan

Saatnya Indonesia–India Pererat Hubungan Saling Menguntungkan
Saatnya Indonesia–India Pererat Hubungan Saling Menguntungkan

Dengan demikian, hubungan kedua negara tidak hanya menghasilkan surplus perdagangan, tetapi juga mempercepat transformasi ekonomi Indonesia menuju negara industri yang lebih maju dan berdaya saing global.

Ketimpangan juga masih terlihat dalam bidang investasi. Data menunjukkan bahwa investasi India di Indonesia jauh lebih besar dibandingkan investasi Indonesia di India.

Pada 2025, investasi India di Indonesia mencapai sekitar US$237,6 juta, sedangkan investasi Indonesia di India hanya sekitar US$9,8 juta.

Kesenjangan ini menunjukkan bahwa hubungan investasi kedua negara masih memiliki ruang yang sangat besar untuk dikembangkan secara lebih seimbang.

BRICS

Momentum tersebut semakin penting karena Indonesia dan India kini berada dalam satu forum strategis yang sama, yakni BRICS. Indonesia resmi menjadi anggota penuh BRICS pada 6 Januari 2025 sebagai anggota ke-11.

Bersama India, Indonesia juga merupakan anggota World Trade Organization (WTO) dan Group of Twenty (G20). Indonesia memang berbeda dengan India karena juga menjadi anggota Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) dan Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC).

Sebaliknya, India memiliki pengaruh yang jauh lebih besar dalam BRICS dan berbagai forum Global South.

Keanggotaan bersama di BRICS seharusnya tidak dipandang sebagai simbol politik semata. BRICS merupakan wadah kerja sama Selatan-Selatan yang bertujuan memperkuat pembangunan, perdagangan, investasi, inovasi, serta reformasi tata kelola ekonomi global agar lebih inklusif.

Indonesia masuk BRICS bukan untuk menjauh dari Amerika Serikat ataupun Eropa, melainkan untuk memperluas ruang diplomasi dan pilihan ekonomi.

Politik luar negeri Indonesia tetap berlandaskan prinsip bebas dan aktif: bersahabat dengan semua negara dan tidak menjadi bagian dari blok kekuatan mana pun.

Dalam BRICS sendiri, konfigurasi kekuatan nasional menunjukkan dinamika yang menarik. Jika diukur berdasarkan kekuatan nasional secara menyeluruh, tiga negara paling berpengaruh adalah Tiongkok, India, dan Rusia.

Tiongkok unggul dalam ekonomi, teknologi, industri, dan kapasitas manufaktur. India unggul dalam pertumbuhan ekonomi, bonus demografi, inovasi digital, serta prospek jangka panjang.

Rusia tetap menjadi kekuatan utama dalam bidang militer, energi, dan strategi keamanan. Dalam diplomasi internasasional, Tiongkok, India, Rusia, dan Brasil memainkan peran paling menonjol, sementara dalam sektor energi, Arab Saudi, Rusia, Iran, dan Uni Emirat Arab menjadi aktor utama.

Indonesia memang belum termasuk tiga besar dalam kekuatan ekonomi global, teknologi, ataupun diplomasi.

Namun, Indonesia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki banyak negara lain: posisi geopolitik yang sangat strategis, demokrasi yang relatif stabil, ekonomi terbesar di Asia Tenggara, cadangan mineral kritis yang sangat besar, serta kemampuan memainkan peran sebagai middle power yang menjembatani berbagai kepentingan internasional.

Kemitraan Strategis

Mengapa Indonesia dan India perlu mempererat kemitraan strategis? Jawabannya dapat dijelaskan melalui pemikiran dua tokoh besar hubungan internasional, Hans J. Morgenthau dan Joseph S. Nye Jr. Morgenthau, pelopor teori realisme dalam hubungan internasional, menjelaskan bahwa setiap negara pada dasarnya akan memperjuangkan kepentingan nasionalnya.

Tampilkan Semua
Cilacap Info
IKUTI BERITA LAINNYA DIGOOGLE NEWS

Berita Terkait