Saatnya Indonesia–India Pererat Hubungan Saling Menguntungkan

Saatnya Indonesia–India Pererat Hubungan Saling Menguntungkan
Saatnya Indonesia–India Pererat Hubungan Saling Menguntungkan

India saat ini merupakan salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia. Menurut proyeksi International Monetary Fund (IMF) dan World Bank, India diperkirakan akan menjadi ekonomi terbesar ketiga dunia dalam dekade mendatang.

Dengan jumlah penduduk 1,4 miliar, populasi terbesar di dunia, bonus demografi yang kuat, industri teknologi informasi yang matang, serta keberhasilan membangun Digital Public Infrastructure melalui identitas digital, sistem pembayaran digital, dan jaringan perdagangan digital, India telah menjadi salah satu pusat inovasi global.

Sementara itu, Indonesia merupakan ekonomi terbesar di Asia Tenggara dengan sumber daya alam strategis, populasi lebih dari 285 juta jiwa, posisi geografis yang menghubungkan Samudra Hindia dan Pasifik, serta potensi besar dalam hilirisasi mineral kritis, transisi energi, dan ekonomi digital.

Berbagai proyeksi dari OECD, PwC, dan Goldman Sachs menunjukkan bahwa Indonesia berpeluang menjadi salah satu ekonomi terbesar dunia pada pertengahan abad ini apabila berhasil meningkatkan produktivitas, kualitas sumber daya manusia, dan kemampuan teknologi.

Artinya, Indonesia dan India sesungguhnya memiliki karakter yang saling melengkapi. Sayangnya, hubungan ekonomi kedua negara masih belum mencerminkan potensi tersebut.

Dalam perdagangan, Indonesia memang menikmati surplus yang cukup besar terhadap India. Ekspor Indonesia masih didominasi batu bara, minyak sawit, karet, mineral, serta berbagai komoditas berbasis sumber daya alam.

Sebaliknya, India mengekspor produk farmasi, mesin, kendaraan, teknologi informasi, jasa digital, dan berbagai produk manufaktur bernilai tambah tinggi.

Surplus perdagangan tentu merupakan kabar baik bagi Indonesia. Namun, dalam perspektif ekonomi pembangunan, surplus yang bertumpu pada ekspor komoditas primer belum cukup untuk membawa Indonesia menjadi negara maju.

Pandangan ini sejalan dengan pemikiran ekonom pembangunan seperti Ha-Joon Chang dari Korea Selatan dan Alice H. Amsden dari Amerika Serikat.

Keduanya menunjukkan bahwa hampir semua negara yang berhasil melakukan catch-up terhadap negara maju mulai dari Jepang, Korea Selatan, hingga Taiwan tidak hanya mengandalkan perdagangan bebas, tetapi juga membangun industri nasional melalui kebijakan negara yang terarah, investasi pada teknologi, pengembangan sumber daya manusia, serta transfer pengetahuan.

Menurut mereka, kemajuan ekonomi tidak lahir dari ekspor bahan mentah, melainkan dari kemampuan menciptakan produk bernilai tambah tinggi dan menguasai teknologi.

Karena itu, hubungan ekonomi Indonesia–India sudah saatnya memasuki babak baru. Fokus kerja sama tidak lagi hanya meningkatkan volume perdagangan, tetapi juga mendorong investasi dua arah, transfer teknologi, riset bersama, pengembangan industri manufaktur, ekonomi digital, kecerdasan buatan, semikonduktor, farmasi, serta pembangunan ekosistem inovasi.

Tampilkan Semua
Cilacap Info
IKUTI BERITA LAINNYA DIGOOGLE NEWS

Berita Terkait