Menaker Imbau WFH, Bagaimana Cara Jaga Produktivitas dan Kualitas Layanan Perusahaan?

Ilustrasi Berita (Sumber: RevComm)
Ilustrasi Berita (Sumber: RevComm)

JAKARTA, CILACAP.INFO – Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli mengimbau perusahaan swasta, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) untuk melaksanakan kerja dari rumah (work from home/WFH) selama satu hari dalam satu minggu. Kebijakan ini dilakukan sebagai upaya memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mendorong pola kerja yang produktif, adaptif, dan berkelanjutan.

“Para pimpinan perusahaan swasta, BUMN, dan BUMD diimbau untuk menerapkan Work From Home (WFH) bagi pekerja/buruh selama satu hari kerja dalam satu minggu sesuai kondisi perusahaan, dengan pengaturan jam kerja yang ditetapkan oleh masing-masing perusahaan,” ujar Menaker pada konferensi pers di Gedung Kementerian Ketenagakerjaan, Jakarta, Rabu (1/4/2026). 

Menaker juga menegaskan bahwa pelaksanaan WFH tetap harus menjamin hak pekerja. Upah/gaji dan hak lainnya dibayarkan sesuai ketentuan serta tidak mengurangi cuti tahunan. Di sisi lain, pekerja tetap berkewajiban menjalankan tugasnya, sementara perusahaan perlu memastikan produktivitas dan kualitas layanan tetap terjaga.

Menjaga Produktivitas dan Kualitas Layanan Menjadi Tantangan

Dalam skema kerja WFH, produktivitas menjadi lebih sulit diukur. Ketika karyawan bekerja dari rumah, perusahaan tidak memiliki visibilitas langsung terhadap aktivitas kerja sehari-hari. 

Meeting tetap berlangsung dan laporan tetap dibuat, namun hal tersebut belum tentu mencerminkan hasil kerja yang sebenarnya. Dalam beberapa kasus, aktivitas terlihat tinggi, tetapi progres pekerjaan tidak selalu sebanding.

Tantangan serupa juga terjadi pada kualitas layanan. Tim yang berinteraksi dengan pelanggan, seperti sales dan customer service, tetap menjalankan tugasnya melalui panggilan telepon maupun meeting online

Namun, tanpa sistem yang memadai, perusahaan tidak memiliki gambaran yang utuh mengenai isi dan kualitas percakapan tersebut. Hal ini menyulitkan perusahaan untuk memastikan apakah komunikasi berjalan efektif atau terdapat peluang yang terlewat.

Dalam praktiknya, komunikasi menjadi faktor kunci yang memengaruhi produktivitas dan kualitas layanan. Meskipun sebagian besar koordinasi internal dan interaksi dengan pelanggan kini dilakukan melalui platform digital, tidak semua percakapan terdokumentasi dengan baik atau dapat dianalisis lebih lanjut.

Akibatnya, perusahaan berpotensi kehilangan informasi penting yang sebenarnya dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kinerja tim.

MiiTel: AI untuk Visualisasikan dan Monitoring Komunikasi Bisnis

Untuk menjawab tantangan ini, perusahaan dapat mengadopsi solusi berbasis AI seperti MiiTel yang memungkinkan perusahaan memahami apa dan bagaimana komunikasi dilakukan, baik melalui telepon maupun meeting.

Melalui fitur seperti auto recording, transkripsi voice-to-text, AI summary, hingga analisis percakapan, perusahaan dapat memperoleh gambaran yang lebih jelas terhadap aktivitas komunikasi yang terjadi.

Tampilkan Semua
Cilacap Info
IKUTI BERITA LAINNYA DIGOOGLE NEWS

Berita Terkait