Lebih lanjut, Teddy menyatakan bahwa capaian ini merupakan buah dari transformasi berkelanjutan di seluruh lini produksi. Tahun 2025 menjadi fase pembuktian dengan produksi yang melampaui kapasitas terpasang. Memasuki 2026, PTPN I berkomitmen menjaga momentum dengan target produksi minimal 30 juta liter. “Hingga saat ini, kontrak on hand kami telah mencapai 13,5 juta liter atau sekitar 50 persen dari target tahunan,” ujar Teddy.
Namun, ia juga menekankan bahwa akselerasi industri biofuel nasional membutuhkan sinkronisasi kebijakan yang kuat antar pemangku kepentingan. Kami siap mengutilisasi seluruh kapasitas produksi jika program mandatori berjalan penuh. Fokus kami saat ini adalah mendorong terciptanya regulasi yang kompetitif, terutama terkait insentif cukai, agar bioetanol domestik memiliki daya saing yang kuat di tengah gempuran produk impor,” tegasnya.
Komisaris Utama PT Enero, Tuhu Bangun, menyampaikan optimisme serupa. Ia mengingatkan bahwa PT Enero yang berdiri pada 2013 merupakan hasil kerja sama Kementerian Perindustrian dengan NEDO (New Energy and Industrial Technology Development Organization) Jepang, dan sejak awal dirancang sebagai pionir konversi BBM berbasis tanaman.
“Saat ini adalah titik strategis bagi Enero menjemput masa depan terbaik. Bukan sekadar bisnis, tetapi juga masa depan bangsa menuju kemandirian energi, masa depan dunia menuju zero emission, dan masa depan kesejahteraan karyawan. Itu adalah goal yang ingin dicapai sejak awal berdiri. Saya tahu persis karena waktu itu menjadi salah satu inisiator dalam memanfaatkan molases PG Gempolkrep yang melimpah,” kata Tuhu Bangun.
Direktur PT Enero, Puji Setiyawan, menyampaikan apresiasi kepada pemegang saham dan seluruh elemen perusahaan. Menurutnya, keunggulan teknologi dan mitigasi operasional yang diterapkan telah selaras dengan visi strategis Holding Perkebunan Nusantara.
Tampilkan Semua

