Tren social commerce semakin kuat. Konsumen tidak lagi hanya mencari produk melalui mesin pencari, tetapi menemukannya dari video pendek, live shopping, dan kolaborasi kreator. Konversi dan awareness kini bisa terjadi di platform yang sama — tanpa harus keluar dari aplikasi.
Hal lain yang menjadi sorotan adalah pentingnya first-party data sebagai aset strategis. Dengan hilangnya cookie pihak ketiga dan semakin ketatnya regulasi privasi, bisnis dituntut membangun database pelanggan sendiri melalui CRM, WhatsApp, email, dan program loyalitas. Bahkan, WhatsApp kini berfungsi sebagai chat-based funnel utama yang menggantikan peran tradisional landing page dalam proses konversi, terutama untuk produk dengan nilai tinggi dan layanan B2B.
Kreator dan komunitas juga telah menggantikan iklan sebagai mesin utama kepercayaan. Konsumen cenderung mempercayai pengalaman kreator dan komunitas daripada klaim satu arah dari brand. Model kolaborasi jangka panjang, co-creation, dan affiliate-based creator ecosystem menjadi pendekatan yang lebih efektif dan berkelanjutan.
Terkait strategi kanal, pendekatan omnichannel bukan lagi keunggulan, melainkan standar. Konsistensi pesan, data, dan pengalaman harus dijaga di seluruh platform — mulai dari TikTok, Google, marketplace, hingga WhatsApp dan email. Tantangan terbesar bukan berada di banyak platform, tetapi menjaga alur dan narasi yang utuh di antaranya.
Di Indonesia, fenomena seperti Treatonomics (belanja sebagai bentuk self-reward), dominasi super-app, serta pentingnya narasi halal sebagai gaya hidup menjadi faktor lokal yang mempercepat disrupsi strategi digital marketing. Selain itu, mayoritas konsumen kini merupakan generasi digital-native yang lebih kritis, cepat mengambil keputusan, dan menuntut transparansi serta autentisitas dari brand.
Pada akhirnya, pendekatan performance marketing pun bergeser dari metrik superfisial seperti klik dan impressions menuju outcome bisnis nyata seperti revenue, profit margin, dan customer lifetime value (CLV). Kampanye yang terlihat ramai, tapi tidak berdampak langsung ke pertumbuhan bisnis, mulai ditinggalkan.
Tampilkan Semua

