Pertama, membangun kejelasan entitas (entity clarity). AI bekerja dengan memahami entitas seperti brand, orang, produk, dan layanan. Website perlu secara konsisten menjelaskan siapa brand tersebut, bergerak di bidang apa, serta apa keahlian utamanya. Ketidakjelasan identitas membuat AI kesulitan mengaitkan brand dengan topik tertentu.
Kedua, memperkuat struktur semantik dan topikal. Konten tidak lagi berdiri sendiri. AI lebih mudah mengambil informasi dari website yang memiliki struktur topikal jelas, saling terhubung, dan membentuk semantic content network. Artikel, halaman layanan, dan profil penulis harus saling memperkuat konteks.
Ketiga, membangun sinyal kepercayaan (trust signals). AI cenderung memilih sumber yang memiliki indikator kepercayaan kuat. Ini mencakup profil penulis yang jelas, pengalaman nyata, referensi eksternal, serta konsistensi informasi. Trust menjadi faktor penting dalam sistem AI yang bersifat probabilistik.
Keempat, mengoptimalkan keterbacaan dan keterkutipan konten. AI mengambil potongan teks yang jelas, ringkas, dan langsung menjawab pertanyaan. Struktur paragraf, heading, daftar poin, serta definisi yang eksplisit meningkatkan peluang konten untuk dikutip.
Kelima, memahami bahwa AI bersifat kontekstual dan berbasis probabilitas. Jawaban AI dapat berbeda tergantung lokasi, bahasa, dan konteks pengguna. Karena itu, laporan AI Visibility tidak boleh dibaca sebagai sebab-akibat langsung, melainkan sebagai indikasi peluang dan korelasi.
“Banyak brand keliru menyimpulkan bahwa jika mereka tidak muncul di AI hari ini, berarti strategi mereka gagal. Padahal AI bekerja secara dinamis dan kontekstual. Optimasi harus dilihat sebagai proses jangka menengah hingga panjang,” tambah Viktor.
AI Visibility Bukan Pengganti SEO, Melainkan Evolusi
Doxadigital menegaskan bahwa AI Visibility tidak menggantikan SEO tradisional, melainkan melengkapinya. Ranking tetap relevan, namun tidak lagi cukup sebagai satu-satunya indikator keberhasilan.
Tampilkan Semua

