Menakar Peluang Sektor Booming 2026: Sinyal Saham Bank Bangkit, Begini Peluangnya

Mikirduit
Mikirduit

2. Kenaikan biaya operasional (kurang efisien) sehingga menekan kinerja laba bersih. Seperti, saham PT Bank Multiarta Sentosa Tbk. (MASB). Saham bank KBMI 1 ini mencatatkan pertumbuhan pendapatan bunga bersih sebesar 9,76 persen menjadi Rp689 miliar. Namun, laba bersihnya turun 1,46 persen menjadi Rp156 miliar. Padahal, dari segi pencadangan tidak ada kenaikan signifikan (hanya naik di bawah 1 persen) menjadi Rp42,56 miliar. Namun, ternyata penekan laba bersih karena operasional yang kurang efisien. MASB mencatatkan kenaikan rasio beban operasional dibandingkan dengan pendapatan operasional (BOPO) menjadi 86,62 persen dibandingkan dengan 84,88 persen.

3. Adanya tekanan di pendapatan bunga bersih serta kenaikan pencadangan yang cukup signifikan. Hal ini dialami oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.(BBRI) yang mencatatkan penurunan laba bersih sebesar 12,07 persen menjadi Rp36,64 triliun pada kuartal III/2025. Tekanan laba bersih BBRI disebabkan dari segi pendapatan bunga bersih turun 0,64 persen menjadi Rp84,49 triliun, serta pencadangan naik 19,5 persen menjadi Rp30,35 triliun,

Surya mengatakan dengan realita kinerja keuangan beberapa saham bank yang tertekan akibat beban bunga atau cost of fund, kenaikan pencadangan, atau operasional yang kurang efisien jika dibandingkan dengan pendapatan yang didapatkan, artinya jika ada perbaikan ekonomi dari efek penurunan suku bunga bank sentral bisa jadi akumulasi perbaikan kinerja saham bank yang juga tertekan oleh beban bunga yang cukup tinggi di 2025.

Sederhananya, jika ada bank dengan kondisi laba bersih di 2025 tertekan karena faktor kenaikan pencadangan yang signifikan, serta beban bunga yang tinggi sehingga bisa mencatatkan kinerja laba yang rendah. Lalu, pada 2026, bank tersebut sudah lebih confidence untuk memangkas anggaran pencadangan, dengan kondisi beban bunga yang lebih rendah. Hasilnya, ada potensi pertumbuhan laba bersih di 2026 dari level low base di 2025.

“Namun, tantangannya adalah periode kapan suku bunga bank sentral dipangkas hingga mentok di dasar. Jika hal ini terjadi di 2026, bisa terasa di semester II/2026 atau mundur hingga 2027. Faktor lainnya adalah tinggal bagaimana pemerintah bisa mengatasi dampak bencana Sumatra agar bisa cepat pulih sehingga bisa mendorong perekonomian dengan era suku bunga rendah saat ini,” ujarnya.

Strategi Investasi di Saham Bank

Dengan posisi harga saham beberapa bank sedang terdiskon, periode saat ini (akhir 2025 hingga awal 2026) menjadi periode yang tepat untuk mulai melakukan strategi dollar cost averaging di saham bank dengan fundamental bagus dan penguasaan pasar cukup besar, serta dividen menarik.

Tampilkan Semua
Cilacap Info
IKUTI BERITA LAINNYA DIGOOGLE NEWS

Berita Terkait