BBHI mencatatkan rapor hijau dari segala indikator, kecuali NPL net yang mencatatkan rapor kuning. (bukan hal buruk dan cenderung netral).
Jika melihat rasio keuangannya, BBHI sudah mulai normalisasi menjadi bank dengan tingkat LDR sudah di bawah 100 persen. Meski catatannya, tingkat NPL gross (baru bukan bawaan Bank Harda) mencatatkan kenaikan menjadi 1,52 persen dibandingkan 0,55 persen. Kenaikan ini selaras dengan ekspansi kredit yang tumbuh 13,39 persen menjadi Rp8,47 triliun.
Dari segi kinerja laba bersih, BBHI mencatatkan kenaikan 25 persen menjadi Rp379 miliar. Kenaikan kinerja BBHI bisa dibilang agresif yang normal mengingat pendapatan bunga bersih naik 28 persen menjadi Rp1 triliun, sedangkan pencadangan naik 410 persen menjadi Rp274 miliar.
Adapun, kinerja BBHI hingga November 2025 menunjukkan perlambatan dibandingkan dengan September 2025. Laba bersih BBHI hanya tumbuh 21,47 persen menjadi Rp447 miliar, sedangkan pendapatan bunga tumbuh 28,9 persen menjadi Rp1,3 triliun. Dari segi pencadangan naik 328 persen menjadi Rp367 miliar.
Krom Bank (BBSI)
BBSI menjadi bank dengan pertumbuhan kinerja paling agresif dan berkualitas kedua sepanjang kuartal III/2025 dengan poin sebesar 289. BBSI mencatatkan hampir seluruhnya dengan rapor hijau kecuali NPL gross dan laba bersih.
Jika dilihat, dari segi pertumbuhan kredit cukup agresif dengan adanya kenaikan 87 persen menjadi Rp7,96 triliun. Anomali pertumbuhan kredit itu didorong optimalisasi suntikan dana right issue (hal itu terlihat dari LDR masih di atas 100 persen).
Dari pertumbuhan kredit yang agresif itu, BBSI mencatatkan pendapatan bunga bersih naik 87,14 persen menjadi Rp1,26 triliun. Namun, laba bersihnya hanya tumbuh 17,7 persen menjadi Rp126 miliar.
Kami menilai, hal ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor seperti:
Adanya kenaikan pencadangan sebesar 117 persen menjadi Rp902 miliar
Tingkat beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) perseroan yang naik menjadi 89 persen dibandingkan dengan 81 persen pada periode sebelumnya
Sementara itu, tingkat NPL gross perseroan sekitar 2,64 persen. Posisi NPL gross ini sudah membaik dibandingkan dengan sebelumnya 2,7 persen. Lalu, untuk NPL net-nya masih cukup baik hanya 0,1 persen dan mengalami penurunan dari sebelumnya 0,24 persen.
Untuk NIM terlihat sangat besar, yakni mencapai 20 persen selaras dengan karakter bank digital yang memberikan kredit dengan bunga kredit dalam berbagai bentuk.
Kinerja BBSI per Oktober 2025 juga mulai mengalami perlambatan dari segi laba bersih yang hanya tumbuh 10,92 persen menjadi Rp133 miliar. Meski, pendapatan bunga bersih tumbuh 88,64 persen menjadi Rp1,46 triliun. Faktornya sama seperti yang kami paparkan sebelumnya, salah satunya adanya kenaikan pencadangan 120 persen menjadi Rp1,05 triliun.
Bank Jago (ARTO)
ARTO menjadi bank dengan tingkat ekspansi dan kualitas kinerja dengan poin tertinggi sepanjang kuartal III/2025. Satu-satunya rapor kuning ARTO hanya ada di CIR yang masih sekitar 58 persen.
Tampilkan Semua
