Dari sisi manajemen aset, Kartika Sutandi dari Jarvis menyoroti isu paling mendasar: likuiditas. Bobot Indonesia di indeks global MSCI turun dari 4 persen menjadi 1.3 persen dalam satu dekade. Ketika bobot suatu negara terlalu kecil, manajer dana global berhenti memberikan perhatian aktif. Menurut Kartika, likuiditas domestik yang dalam adalah kunci untuk menarik kembali minat global.
Panel juga mengangkat tiga kasus besar penipuan di Indonesia yang menyerupai tragedi keuangan India di masa lalu, seperti manipulasi saham tidak likuid, pencurian akun melalui phishing, dan kompromi API antara broker dan bank RDN. Penjelasan ini diberikan oleh Lily Widjaja dari Asosiasi Perusahaan Efek, yang menekankan bahwa masalah ini terjadi bukan karena kelemahan sistem inti bursa, melainkan celah dalam proses di tingkat anggota. Analisis ini kemudian ditegaskan oleh Shuvam Misra dari Remiges Technologies, yang mengatakan bahwa pola ini identik dengan apa yang terjadi di India sebelum reformasi teknologinya.
Di akhir diskusi, Sachin Gopalan menggambarkan ekosistem Indonesia sebagai orkestra dengan banyak pemain berbakat namun belum memiliki konduktor. Panel sepakat bahwa Indonesia memiliki semua elemen yang diperlukan untuk melakukan lompatan besar. Tantangannya bukan pada kemampuan, tetapi pada ritme dan koordinasi. Bila seluruh pemangku kepentingan bergerak serempak, transformasi lima sampai tujuh tahun seperti India bukanlah mimpi.
Saatnya India Indonesia Bergerak Bersama
InvestorTrust Capital Market Forum 2025 berakhir dengan kesadaran kolektif bahwa Indonesia memiliki kesempatan langka untuk mempercepat pendalaman pasar modalnya dan mengejar ketertinggalan dalam waktu yang jauh lebih singkat dibandingkan negara lain. Tiga keynote dari India dan Indonesia menunjukkan bahwa visi dan arah sudah jelas. Diskusi panel memperlihatkan bahwa infrastruktur, regulasi, dan pelaku industri kini berada di titik yang sama dalam memahami urgensi transformasi.
Namun seluruh pembicara sepakat bahwa keberhasilan Indonesia tidak akan ditentukan oleh satu lembaga atau satu kebijakan. Transformasi ini hanya akan terwujud bila seluruh pihak — pemerintah, regulator, bursa, pelaku industri, bank, dan investor — bergerak dalam ritme yang sama. Teknologi dapat mempercepat, regulasi dapat memperkuat, dan edukasi dapat memperluas dampak, tetapi koordinasi lah yang akan menentukan seberapa cepat Indonesia mencapai tujuan.
Indonesia berada di titik awal perjalanan baru. Dengan ekosistem yang semakin terhubung, visi yang semakin selaras, dan kemauan politik yang semakin jelas, pasar modal Indonesia memiliki peluang untuk menjadi mesin pertumbuhan yang inklusif, modern, dan berdaya saing global. Seperti yang disampaikan di forum, pertanyaannya bukan lagi apakah Indonesia dapat mengejar ketertinggalan, tetapi apakah kita dapat bergerak cukup cepat — dan bergerak bersama.
Tampilkan Semua
