Ramamurthy juga membawa peserta forum ke dalam perjalanan digital India, ketika bursa beralih dari sistem manual menjadi ekosistem digital penuh yang kini dapat memproses lebih dari satu miliar order derivatif per hari, dengan kemampuan mencapai dua juta order per detik pada jam perdagangan tersibuk. Pertumbuhan investor ritel sebesar 400 persen dalam lima tahun terakhir, katanya, adalah hasil dari kemudahan akses, keamanan, dan transparansi yang didorong oleh teknologi. Ia menutup dengan menawarkan kerja sama penuh kepada Indonesia, seraya menyatakan bahwa kesamaan struktur ekonomi kedua negara menjadikan pertukaran pengalaman ini sangat relevan.
Mencari Ritme Bersama untuk Transformasi Sistem
Setelah paparan keynote, diskusi panel mengambil alih panggung dan membawa audiens lebih dalam ke tantangan praktis yang dihadapi Indonesia. Panel yang dipandu oleh Direktur InvestorTrust, Sachin Gopalan, mempertemukan regulator dari OJK, Bursa Efek Indonesia (BEI), KSEI, KPEI, serta perwakilan industri seperti UBS, Jarvis Asset Management, dan Remiges. Hasilnya adalah gambaran yang jujur sekaligus optimistis mengenai apa yang harus dilakukan Indonesia untuk mencapai pasar modal berkelas dunia.
Broto Endianto, Kepala Pengembangan IT BEI, mengungkapkan bahwa Indonesia sudah berada di jalur yang benar. BEI menargetkan pembaruan trading engine pada 2026 dengan teknologi yang jauh lebih modern, termasuk penggunaan kecerdasan buatan untuk mendeteksi pola transaksi abnormal dan meningkatkan kapasitas sistem. Namun Broto mengingatkan bahwa bursa tidak dapat bekerja sendiri. Dengan 93 broker anggota dan banyak titik simpul lain di ekosistem pasar modal, peningkatan kapasitas teknologi harus terjadi secara menyeluruh, bukan hanya pada satu lembaga.
Dari sisi regulator, Pepek Marsiah dari OJK memberikan gambaran bahwa pengawasan manual sudah tidak relevan dalam pasar dengan 2.3 juta transaksi harian. OJK kini menggunakan big data dan machine learning untuk mendeteksi anomali secara real time. Pepek menegaskan bahwa koordinasi antara regulator, SRO, dan pelaku industri harus diperkuat agar pasar modal Indonesia mampu tumbuh tidak hanya besar, tetapi juga sehat dan terpercaya. “Kita perlu bekerja bersama. Dengan koordinasi, kita bisa tumbuh lebih tinggi lagi,” ujarnya.
Suara industri memberi perspektif tambahan. Ranju Parambi, Managing Director UBS, mengingatkan bahwa Indonesia tidak akan mencapai pertumbuhan ekonomi tinggi bila hanya mengandalkan konglomerat atau BUMN. Entrepreneur, katanya, adalah pencipta lapangan kerja dan penggerak inovasi. Namun tanpa akses modal risiko, mereka tidak dapat berkembang menjadi perusahaan skala besar. Baginya, memperluas jalur IPO dan meningkatkan daya tarik pasar modal adalah prioritas.
Tampilkan Semua
