Transformasi ini mendapat sambutan hangat dari pelaku industri kreatif yang hadir di festival tersebut. Salah satunya adalah Wiwi Paimun, CEO Onuka Chocolate, yang turut menjadi exhibitor.
“Saya sangat terinspirasi. Visi beliau menguatkan apa yang kami coba lakukan—mengangkat budaya dalam produk. Packaging cokelat Onuka juga tersemat cerita rakyat Indonesia,” ungkap Wiwi, yang dikenal sebagai pelaku UMKM artisan cokelat asli Indonesia.
Mangkunegaran bukan sekadar keraton—ia adalah simbol perjuangan. Berdiri atas tekad Pangeran Sambernyawa, kerajaan ini lahir dari keberanian. Semangat yang dimiliki Mangkunegaran ini memiliki korelasi dengan Kota Surabaya yang terkenal dengan keberanian nyali penduduknya, hal itu pun bukan kebetulan semata. Kakek Gusti Bhre tercatat sebagai salah satu pahlawan nasional yang menorehkan jejak perjuangannya di Surabaya.
Founder Punggawa Budaya Nusantara, Nathan Santoso, turut memberikan pandangan dalam penyerahan plakat tersebut. “Banyak orang lupa bahwa Surabaya dan Mangkunegaran punya sejarah perlawanan yang saling berkait. Mangkunegaran bukan kerajaan pasif. Ia lahir dari perang. Ia mewakili keberanian. Dan hari ini, semangat itu tidak lagi berupa senjata, tetapi berupa keyakinan untuk menjadikan budaya sebagai alat perjuangan yang baru—yang lembut tapi mengakar, yang tidak membakar, tapi mengubah.”
Plakat Kehormatan yang diberikan oleh Punggawa Budaya Nusantara bukan sekadar simbol seremonial. Ia menjadi pernyataan generasi baru yang menyadari pentingnya budaya—dan kini turut memperjuangkannya. Generasi yang dulu dianggap jauh dari sejarah, justru kini berdiri di garda depan untuk merayakan tokoh yang berhasil mengubah persepsi budaya dari sesuatu yang membebani menjadi sesuatu yang membebaskan.(*)
Tampilkan Semua