IELC 2025 Kukuhkan Experiential Tourism sebagai Arah Baru Wisata yang Berdampak pada Peningkatan Kapasitas SDM Bangsa

IELC 2025 Kukuhkan Experiential Tourism
IELC 2025 Kukuhkan Experiential Tourism

Kresno Wiyoso (Pendiri AELI) membuka sesi dengan gagasan konsep ‘Sekolah Wisata’ — yakni sekolah yang menyenangkan, kontekstual, dan membuat siswa “bermain untuk belajar.” Ia menegaskan bahwa pembelajaran paling berdampak adalah yang lahir dari pengalaman, bukan sekadar materi.

Vicky Gosal (Karash Adventure Indonesia) membagikan pengalaman bagaimana aktivitas petualangan seperti hiking, rafting, atau survival dapat menjadi ruang pembentukan karakter — jika difasilitasi secara sadar dan reflektif.

Dian Wibowo (DPD AELI DIY) menjelaskan proses penyusunan modul pendampingan desa wisata berbasis EL yang kini telah diadaptasi di berbagai wilayah. Modul ini memungkinkan desa bukan hanya jadi objek wisata, tapi juga subjek pembelajaran.

Deden Nursan (ASIDEWI) mengingatkan bahwa pengalaman di desa wisata tidak bisa dibiarkan mengalir begitu saja. Harus ada desain yang berbasis Experiential Tourism, agar wisatawan bukan hanya datang dan berfoto, tapi terlibat, belajar, dan terhubung dengan kehidupan desa.

Harry D. Nugraha (EGO Global Asia) menutup sesi dengan menyoroti pentingnya merancang produk wisata experiential yang tidak hanya bermakna, tetapi juga menarik secara komersial. Ia mengusulkan perlunya “ramuan bersama” yang bisa dijual dan diadopsi oleh seluruh ekosistem EL Indonesia agar dapat tumbuh berkelanjutan.

Talkshow ini menjadi bukti bahwa Experiential Tourism bukan hanya gagasan, tetapi praktik yang telah mengakar — dan siap tumbuh lebih besar lewat kolaborasi antar pelaku EL di Indonesia.

Showcase: Merasakan Langsung Experiential Tourism di TMII

Setelah mendengarkan narasi besar dan menyerap inspirasi dari para pelaku lapangan, peserta diajak untuk “walk the talk” melalui sesi showcase langsung di kawasan wisata TMII.

Didesain sebagai pengalaman fasilitatif, peserta tidak hanya berkeliling atraksi wisata, tetapi juga merasakan langsung pendekatan experiential tourism melalui aplikasi EL 5.0 dengan aktivitas, tantangan, dan refleksi yang dipandu oleh fasilitator anggota AELI.

Dengan melibatkan area-area tematik dan atraksi budaya di TMII, peserta merasakan bagaimana destinasi bisa diubah menjadi ruang belajar yang hidup — bukan dengan menambah materi, tapi dengan membangkitkan keterlibatan, rasa ingin tahu, dan pemaknaan personal.

Showcase ini menjadi perwujudan nyata dari semangat IELC 2025: From Destination to Transformation.

Peluncuran Buku & Tindak Lanjut Strategis: Menyalakan Gerakan, Menguatkan Ekosistem

Sebagai penutup konferensi, AELI meluncurkan buku berjudul “The Light of Experiential Learning Indonesia” — sebuah karya kolektif yang merekam semangat, praktik, dan refleksi dari berbagai pelaku experiential learning di Indonesia.

Tampilkan Semua
Cilacap Info
IKUTI BERITA LAINNYA DIGOOGLE NEWS

Berita Terkait