Pengalaman berbagai negara dalam melakukan pengembangan industri menunjukkan satu pola yang konsisten: kehadiran negara dalam industri baja merupakan prasyarat penting bagi pembangunan basis industri nasional yang tangguh. Negara selalu hadir sebagai pengendali, baik melalui kepemilikan langsung seperti BUMN, maupun melalui regulasi strategis. Lebih penting lagi, negara tidak seharusnya keluar dari sektor industri vital ini, bahkan setelah mencapai status industri maju. Sebab baja bukan hanya soal produksi, tetapi tentang kendali atas kepentingan dan kedaulatan nasional.
Nilai Strategis Industri Baja
Dalam setiap tahap pembangunan ekonomi nasional, industri baja selalu menempati posisi yang fundamental. Baja bukan hanya bahan baku—ia merupakan syarat dasar bagi berdirinya infrastruktur, tumbuhnya industri manufaktur, berkembangnya sektor energi, serta berfungsinya sistem pertahanan. Dengan cakupan peran strategis yang sedemikian luas, tidak berlebihan bila baja disebut sebagai the mother of all industries.
Karakter baja sebagai enabling industry menjadikannya tidak tergantikan. Hampir seluruh proyek strategis negara—dari jalan tol, rel kereta, jembatan, pelabuhan, hingga pembangkit listrik dan fasilitas militer—bertumpu pada pasokan baja yang andal. Bahkan sektor-sektor prioritas pemerintah seperti transisi energi, kendaraan listrik, dan pemrosesan mineral strategis pun tidak mungkin berlangsung tanpa basis pasokan baja nasional yang kuat.
Selain berperan sangat penting bagi pertumbuhan industri lainnya, industri baja juga memiliki nilai ekonomi yang besar dan strategis. Laporan Oxford Economics (2019) mencatat bahwa setiap satu dolar nilai tambah dari sektor baja dapat mendorong penciptaan nilai ekonomi sebesar USD 2,50 di sektor lain. Setiap dua pekerja di industri baja mendukung 13 pekerjaan tambahan di sektor hulu dan hilirnya, menjadikan total sekitar 40 juta pekerja dalam rantai pasok global yang bergantung pada industri ini. Bahkan jika dihitung dengan pendekatan luas (broad measure), kontribusi industri baja mencapai USD 8,2 triliun atau setara 10,7% dari PDB global, serta menopang hingga 259 juta lapangan kerja di seluruh dunia.
Bagi Indonesia, dampak ekonomi dari penguatan industri baja sangatlah signifikan. Peningkatan kapasitas industri baja menjadi 100 juta ton per tahun pada 2045—sesuai visi Indonesia Emas— diperkirakan akan menciptakan dampak ekonomi senilai Rp 6.020 triliun, serta membuka hingga 12 juta lapangan kerja.
Selain dampak ekonomi yang sangat besar, nilai strategis industri baja juga terletak pada perannya dalam pertahanan dan kedaulatan nasional. Di banyak negara, baja diposisikan sebagai elemen vital dalam sistem pertahanan dan ketahanan. Kemandirian militer, logistik saat krisis, dan kemampuan tanggap darurat pada bencana semuanya bergantung pada pasokan baja dalam negeri yang dapat diandalkan. Karena itu, banyak pemerintahan—termasuk di negara-negara maju—tetap mempertahankan kontrol atas sektor ini, baik melalui BUMN maupun lewat kebijakan protektif dan mekanisme screening investasi strategis.
Tampilkan Semua
