JAKARTA, CILACAP.INFO – FisTx, pelopor teknologi nano akuakultur Indonesia, hadirkan Nano Disinfektan dan Nano Silver untuk biosekuriti tambak, lindungi udang melalui air dan pakan.
Sleman, FisTx (PT Aditya Inovasi Makmur), perusahaan teknologi akuakultur asal Sleman, Yogyakarta, menghadirkan Nano Disinfektan dan Nano Silver, dua produk berbasis teknologi nano yang membantu petambak mengendalikan penyakit udang seperti EHP, AHPND, WSSV, hingga White Feces Disease (WFD) dari dua sisi sekaligus melalui air kolam dan campuran pakan. Fistx Indonesia merupakan perusahaan pertama di Indonesia yang memproduksi dan menerapkan teknologi nano untuk biosekuriti akuakultur secara komersial.
Penyakit Udang Mengancam Komoditas Ekspor Andalan
Udang adalah penyumbang terbesar ekspor perikanan Indonesia. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat nilainya US1,87 miliar atau sekitar Rp31,5triliun sepanjang2025,setara 29,8persen dari total ekspor perikanan US6,27 miliar.
Nilai itu bergantung pada kesehatan tambak. Tinjauan ilmiah mencatat White Spot Syndrome Virus (WSSV) dapat menyebabkan kematian 80–100 persen udang terinfeksi dalam 5–10 hari. Penyakit AHPND dilaporkan menimbulkan kerugian hingga US$11 miliar di Asia pada 2010–2016. Petambak Indonesia pun masih berhadapan dengan EHP, WFD, WSSV, IMNV, dan AHPND.
Antibiotik bukan jalan keluar yang aman. Tinjauan riset tentang resistensi antimikroba di akuakultur menyebut gen resisten dapat bertahan di lokasi budidaya bahkan setelah bertahun-tahun tanpa antibiotik.
Dua Lapis Biosekuriti: Air dan Pakan
Nano Disinfektan (nano copper) mengandung 150.000 ppm ion nano copper dan ditebar ke air kolam untuk sterilisasi, menaikkan nilai ORP, serta mengendalikan Vibrio. Dosis pencegahan dimulai dari 0,05 ppm setiap 7–14 hari.
Nano Silver dicampur ke pakan agar patogen dihadapi langsung di saluran pencernaan udang. Konsentrasinya mulai dari 1.000 ppm ion nano silver dan juga aman digunakan saat masa transportasi udang.
Kedua produk memakai partikel aktif berukuran 4–7 nanometer. Uji Transmission Electron Microscope (TEM) di Laboratorium Kimia FMIPA UGM mengonfirmasi ukuran partikel konsisten dan tersebar merata tanpa penggumpalan. Partikel ini menembus membran sel patogen, menghambat enzim dan produksi energinya, lalu memicu radikal oksigen yang merusak DNA. Karena menyerang di banyak titik, menurut FisTx, patogen sulit membangun resistensi seperti pada antibiotik.
“Selama ini petambak udang Indonesia bergantung pada disinfektan kimia konvensional atau antibiotik yang punya dua masalah besar: memicu resistensi bakteri dan meninggalkan residu berbahaya. Teknologi nano bekerja berbeda – partikelnya menembus langsung dinding sel patogen, menonaktifkan enzim dan produksi energinya, hingga merusak DNA-nya,” kata Rico Wisnu Wibisono, CEO FisTx.
Tampilkan Semua
