Waspadai Osteoporosis, Patah Tulang Panggul Dapat Meningkatkan Risiko Kematian pada Lansia

WASPADAI OSTEOPOROSIS PATAH TULANG PANGGUL DAPAT MENINGKATKAN RISIKO KEMATIAN PADA LANSIA (1)
WASPADAI OSTEOPOROSIS PATAH TULANG PANGGUL DAPAT MENINGKATKAN RISIKO KEMATIAN PADA LANSIA (1)

JAKARTA, CILACAP.INFO – Osteoporosis merupakan kondisi ketika kepadatan dan kualitas tulang menurun sehingga tulang menjadi lebih rapuh dan rentan mengalami patah tulang. Penyakit ini sering kali berkembang tanpa gejala yang jelas hingga terjadi patah tulang.[1] Secara global, diperkirakan lebih dari 500 juta orang hidup dengan osteoporosis, di mana sekitar 1 dari 3 perempuan dan 1 dari 5 laki-laki berusia di atas 50 tahun akan mengalami fraktur fragilitas atau patah tulang akibat kerapuhan tulang[1,3]. Di Indonesia, pertambahan jumlah penduduk lanjut usia juga menjadi perhatian karena dapat meningkatkan beban osteoporosis. Angka osteoporosis diproyeksikan meningkat hingga 135% pada 2050[6].

Seiring dengan meningkatnya risiko osteoporosis, deteksi dini dan penanganan yang tepat menjadi semakin penting untuk membantu mencegah patah tulang serta dampaknya terhadap kualitas hidup. Dalam momentum Hari Osteoporosis Sedunia yang diperingati setiap 20 Oktober, Siloam Hospitals TB Simatupang mengajak masyarakat untuk lebih memperhatikan kesehatan tulang melalui evaluasi faktor risiko, pemeriksaan medis sesuai indikasi, serta konsultasi dengan dokter spesialis. Didukung oleh layanan ortopedi dan traumatologi, kedokteran olahraga, serta fasilitas diagnostik, Siloam Hospitals TB Simatupang mengedepankan pendekatan multidisiplin untuk membantu pasien mendapatkan penanganan yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan medisnya[1,2,5].

Dokter Spesialis Ortopedi dan Traumatologi, Konsultan Panggul dan Lutut Siloam Hospitals TB Simatupang, dr. Wijaya Johanes Chendra, Sp.OT., Subsp. PL(K) MMRS, AIFO-K, FICS, menjelaskan “Secara anatomi dan klinis, patah tulang akibat osteoporosis paling sering terjadi pada tiga lokasi utama yang rentan (predilection sites), yaitu panggul atau paha atas (hip), tulang belakang (vertebrae), dan pergelangan tangan (distal radius) [1,2,4]. Fraktur panggul merupakan salah satu komplikasi paling berat karena berkaitan erat dengan penurunan kemandirian, kecacatan jangka panjang, hingga peningkatan risiko kematian pada lansia[1,2]. Sementara itu, fraktur tulang belakang sering kali tidak terdiagnosis, tetapi dapat menyebabkan kronis, perubahan postur tubuh (kifosis), serta penurunan tinggi badan[1,4].”

“Sebagai silent disease, osteoporosis perlu diwaspadai karena dapat menyebabkan patah tulang dengan dampak serius. Penanganannya bergantung pada lokasi dan kondisi patah tulang. Untuk patah tulang panggul umumnya memerlukan operasi untuk memperbaiki atau mengganti bagian tulang yang patah, dan tindakan dianjurkan dilakukan sedini mungkin setelah kondisi pasien dinilai sudah memungkinkan. Pada patah tulang pergelangan tangan, operasi dapat dipertimbangkan jika posisi tulang bergeser atau tidak stabil. Sementara itu, patah tulang belakang umumnya dapat ditangani tanpa operasi terlebih dahulu, meskipun tindakan tertentu dapat diperlukan jika nyeri berat menetap atau terdapat gangguan saraf. Gejala seperti kelemahan atau mati rasa pada tungkai maupun gangguan buang air kecil atau besar memerlukan evaluasi medis segera. Kabar baiknya, tidak semua patah tulang memerlukan operasi, namun pilihan penanganan harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien dan dikonsultasikan segera ke dokter,“ tambah dr. Wijaya.

Tampilkan Semua
Cilacap Info
IKUTI BERITA LAINNYA DIGOOGLE NEWS

Berita Terkait