Pembangunan fasilitas produksi dalam proyek tersebut berlokasi di Karawang, Jawa Barat, dan ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada 2026. Total investasi awal keseluruhan proyek baterai terintegrasi dari hulu hingga hilir tersebut mencapai US$5,9 miliar atau sekitar Rp96,04 triliun dengan asumsi kurs Rp16.278 per dolar AS.
Kapasitas produksi pada fase pertama selanjutnya direncanakan akan ditingkatkan melalui ekspansi hingga mencapai sedikitnya 15 gigawatt hour (GWh). Kapasitas tersebut diperkirakan setara untuk memenuhi kebutuhan sekitar 250.000 unit kendaraan listrik.
Di sisi lain, daya tarik PTBA bagi investor ditopang oleh rekam jejak pembagian dividen yang relatif konsisten dalam beberapa tahun terakhir. Dalam lima tahun terakhir, perusahaan membagikan dividen dengan rasio pembayaran yang berkisar antara 35% hingga 100% dari laba bersih, meskipun nilai dividen berubah mengikuti kinerja perusahaan pada masing-masing tahun buku.
Untuk laba tahun buku 2024, PTBA membagikan dividen tunai sebesar Rp3,83 triliun atau Rp332,44 per saham dengan rasio pembayaran 75%, yang dibayarkan pada 11 Juli 2025. Sebelumnya, dari laba tahun buku 2023, PTBA membagikan dividen sebesar Rp4,58 triliun atau Rp397,71 per saham dengan rasio pembayaran yang sama, yakni 75%.
Pembagian dividen terbesar dalam periode tersebut berasal dari laba tahun buku 2022, ketika PTBA membagikan dividen tunai Rp12,57 triliun atau Rp1.094,05 per saham dengan rasio pembayaran mencapai 100%. Dari laba tahun buku 2021, perusahaan juga membagikan Rp7,91 triliun atau Rp688,52 per saham, dengan seluruh laba yang menjadi dasar pembagian tersebut dialokasikan sebagai dividen.
Sementara dari laba tahun buku 2020, PTBA membagikan dividen sebesar Rp835,39 miliar atau Rp74,69 per saham dengan rasio pembayaran 35%. Adapun dari laba tahun buku 2019, dividen yang dibagikan mencapai Rp3,65 triliun atau Rp326,46 per saham dengan rasio pembayaran sebesar 90%.
Dengan demikian, Edwin menilai fokus investor pada semester II-2026 kemungkinan akan mulai bergeser dari sekadar mengejar pertumbuhan laba yang tinggi. Investor diperkirakan akan semakin memperhatikan kualitas laba, keberlanjutan arus kas, disiplin belanja modal, serta kemampuan masing-masing emiten menciptakan nilai jangka panjang bagi pemegang saham.
Press Release juga sudah tayang di VRITIMES
Tampilkan Semua
