JAKARTA, CILACAP.INFO – Holding Perkebunan Nusantara terus memperkuat ketahanan portofolio bisnis melalui optimalisasi berbagai komoditas strategis di luar kelapa sawit.
Melalui Sub Holding PTPN IV PalmCo, perusahaan tidak hanya menjaga kinerja bisnis inti (core business) kelapa sawit, tetapi juga mengakselerasi pertumbuhan komoditas non-core, yakni kopi, teh, dan karet.
Hingga Mei 2026, ketiga komoditas tersebut mencatatkan tren peningkatan produksi dan efisiensi operasional yang konsisten.
Sebagai entitas penyintas (surviving entity) hasil penggabungan PTPN III, PTPN IV, PTPN V, PTPN VI, dan PTPN XIII, PTPN IV PalmCo terus mengoptimalkan pengelolaan portofolio agribisnis secara terintegrasi sebagai bagian dari strategi transformasi Holding Perkebunan Nusantara.
Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, mengatakan bahwa pencapaian komoditas non-core menjadi indikator keberhasilan strategi diversifikasi usaha dan konsolidasi aset pasca-merger.
“Pasca-merger, kami memiliki tanggung jawab untuk mengelola aset agrikultur yang lebih luas dan beragam. Publik memang lebih mengenal PTPN IV PalmCo melalui kelapa sawit, namun kami memiliki fokus yang sama besarnya untuk mengembangkan komoditas karet, teh, dan kopi. Optimalisasi pada sektor non-core ini terus kami dorong agar seluruh lini bisnis dapat beroperasi secara efisien, mandiri, dan berkontribusi positif pada profitabilitas perusahaan,” ujar Jatmiko, Selasa (8/7/2026).
Hingga Mei 2026, komoditas kopi menjadi kontributor pertumbuhan tertinggi di antara lini non-core.
Volume produksi kopi kering PTPN IV PalmCo mencapai 135.570 kilogram, meningkat 225 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan volume produksi tersebut turut menjaga tren profitabilitas komoditas kopi. Sepanjang lima bulan pertama 2026, kopi membukukan laba bersih sebesar Rp3,07 miliar, melanjutkan kinerja positif sepanjang tahun buku 2025 ketika salah satu unit usaha perusahaan, Java Coffee Estate, mencatatkan laba sebesar Rp42,70 miliar.
Direktur Operasional PTPN IV PalmCo, Rediman Silalahi, menjelaskan bahwa peningkatan produksi kopi merupakan hasil penerapan standardisasi kultur teknis di lapangan sebagai bagian dari strategi adaptasi terhadap dinamika iklim.
“Pertumbuhan pada komoditas kopi adalah wujud dari perbaikan kultur teknis yang kini lebih terstandarisasi. Kami mengawal program penyisipan tanaman dan pengaturan penaung secara ketat untuk menjaga mikroklimat perkebunan. Di tengah fluktuasi cuaca yang memengaruhi intensitas hujan dan cahaya, disiplin pangkas dan wiwil menjadi langkah krusial untuk menjaga stabilitas cabang-cabang produktif agar tetap berbuah optimal,” jelas Rediman.
Selain kopi, Holding Perkebunan Nusantara melalui PTPN IV PalmCo juga terus memperkuat daya saing komoditas karet melalui peningkatan kualitas produk.
Tampilkan Semua