Prinsip yang sama juga berlaku pada sistem pembayaran dan identitas digital. Indonesia telah memiliki QRIS dan terus menyempurnakan ekosistem pembayaran digital yang interoperabel. Yang dapat dipelajari dari India bukanlah sekadar teknologinya, melainkan pengalaman dalam mengelola sistem identitas digital dan mekanisme persetujuan (consent layer) bagi ratusan juta penduduk dengan biaya marjinal yang sangat rendah. Yang tidak kalah penting adalah berbagai pelajaran mengenai inklusi keuangan, literasi digital, serta akses bagi masyarakat yang belum memiliki telepon pintar. Pengalaman-pengalaman tersebut menjadi bekal berharga yang dapat dipelajari Indonesia sebelum memperluas implementasi sistemnya sendiri, bukan setelah berbagai tantangan muncul.
Percakapan yang Lebih Sulit, Namun Jauh Lebih Penting
Sebenarnya, ION tidak bergantung pada kunjungan Perdana Menteri Narendra Modi untuk dapat berjalan. Inisiatif ini telah resmi diluncurkan dan telah memiliki dewan penasihat yang aktif. Namun, yang dibutuhkan ION saat ini adalah sesuatu yang hanya dapat diberikan melalui kunjungan kenegaraan, yaitu dukungan politik pada tingkat tertinggi. Sebuah pernyataan bersama yang secara tegas menetapkan ION sebagai prioritas bilateral lengkap dengan target, pendanaan, dan tahapan implementasi yang jelas akan memberikan dampak yang jauh lebih besar bagi jutaan UMKM di Indonesia maupun India dibandingkan sebagian besar hasil yang biasanya lahir dari sebuah kunjungan kenegaraan. Sebagaimana setiap jaringan yang masih berada pada tahap awal, tantangan terbesar bukanlah peluncuran, melainkan menjaga momentum agar terus berkembang. Dukungan langsung dari para kepala pemerintahan merupakan salah satu faktor paling efektif untuk memastikan inisiatif seperti ini tidak kehilangan arah setelah euforia peluncuran berakhir.
Di balik hubungan bilateral Indonesia dan India, sesungguhnya terdapat pesan yang jauh lebih luas bagi dunia. Selama satu dekade terakhir, pembangunan infrastruktur digital global banyak didominasi oleh sejumlah besar platform swasta, terutama yang berasal dari Amerika Serikat dan Tiongkok, yang saling bersaing menjadi fondasi utama perdagangan dan pembayaran digital di berbagai negara berkembang. Indonesia dan India kini menawarkan pendekatan yang berbeda. Dengan jumlah penduduk yang mewakili lebih dari seperlima populasi dunia, kedua negara sedang membangun jaringan perdagangan digital berbasis protokol terbuka sambil terus berbagi pengalaman mengenai cara terbaik mengembangkannya. Langkah ini mengirimkan sinyal penting kepada negara-negara Global South bahwa ekonomi digital berskala besar tidak harus bergantung sepenuhnya pada model kapitalisme platform untuk mencapai efisiensi maupun jangkauan pasar yang luas.
Pada akhirnya, inilah kisah tentang dua negara demokrasi besar yang masih terus berproses, memilih untuk memecahkan tantangan yang sama secara terbuka. Indonesia membawa pengalaman keberhasilan QRIS serta kekuatan 64 juta UMKM yang menjadi tulang punggung perekonomian nasional. India menghadirkan pengalaman sebagai pelopor dalam membangun ONDC dan berbagai lapisan Digital Public Infrastructure. Kedua pengalaman tersebut memiliki nilai yang sama pentingnya dan saling melengkapi. Jika kunjungan Perdana Menteri Narendra Modi pada 7 Juli mampu memberikan dorongan yang diperlukan agar Indonesia Open Network berkembang dari tahap peluncuran menuju implementasi dalam skala nasional, maka kunjungan tersebut akan memberikan manfaat yang jauh lebih besar bagi jutaan pedagang kecil dan konsumen di kedua negara dibandingkan hasil yang biasanya dicapai oleh sebuah kunjungan kenegaraan.
Tampilkan Semua
