Dia Tak Bisa Melihat Tulisan di Papan Tulis, 1.720 Orang dalam Program #MelihatMasaDepan Memilih untuk Mengubah Itu

Dia Tak Bisa Melihat Tulisan di Papan Tulis 1 720 Orang dalam Program #MelihatMasaDepan Memilih untuk Mengubah Itu
Dia Tak Bisa Melihat Tulisan di Papan Tulis 1 720 Orang dalam Program #MelihatMasaDepan Memilih untuk Mengubah Itu

2. Distribusi 225 pasang kacamata di Sidoarjo, Trenggalek, Purworejo, dan Kupang

3. Edukasi kesehatan mata untuk lebih dari 300 anak di sekolah-sekolah terpencil di Nusa Tenggara Timur

4. Pemeriksaan mata gratis dan pemberian kacamata bagi keluarga di Jawa Tengah

5. Sesi pelatihan “AI untuk Tunanetra” bagi lebih dari 300 peserta untuk membantu penyandang disabilitas netra di Indonesia menggunakan teknologi AI dalam kehidupan sehari-hari, difasilitasi oleh pelatih tunanetra untuk peserta tunanetra “Bergabung dengan #MelihatMasaDepan bukan hanya membuka akses terhadap dukungan pendanaan, tetapi juga memperluas jaringan berbagi pengalaman untuk lebih memperdalam pemahaman kami mengenai berbagai isu kesehatan mata di Indonesia.

Melalui program ini, kami merasa yakin bahwa ada komunitas yang benar-benar peduli terhadap pekerjaan yang kami lakukan.

Dukungan serta responsivitas tim Melihat Bersama Initiative sepanjang program juga membuat seluruh proses berjalan dengan lancar dan kolaboratif.”

Evie Tarigan, Ketua Umum, Yayasan Pelayanan Anak dan Keluarga (LAYAK) Apa yang Ditemukan di Riset Kami? Proses partisipasi ini juga menghasilkan salah satu kumpulan data komunitas terbesar yang pernah dikumpulkan untuk studi ekosistem kesehatan mata di Indonesia, mencakup 35 organisasi dan lebih dari 1.700 responden dari 29 provinsi dilakukan bersama Universitas Negeri Malang dan PKBI Lampung sebagai partner riset. Empat temuan yang kami dapatkan:

1. Organisasi yang paling aktif dalam isu ini adalah yang paling tidak terjangkau oleh pemberi dana.

65,7% organisasi kesehatan mata yang aktif tidak terdaftar dalam sistem formal, sehingga tidak memenuhi syarat untuk pendanaan institusional atau kemitraan pemerintah.

2. Ketika Data Berbeda dengan Kenyataan.

91,4%  organisasi merasa infrastruktur mereka sudah cukup, sampai kami bertanya lebih dalam.

Di balik angka itu ada sistem yang belum menyeluruh, teknologi yang hanya dipahami satu orang, dan hampir tidak ada pengelolaan data sama sekali.

3. Minat terhadap AI nyata. Aksesnya belum.

60% menyebut AI penting bagi masa depan layanan mata. Namun 80% belum menggunakan fitur AI apapun. Hambatannya adalah biaya dan pelatihan, bukan kemauan.

4. Komunitas dengan kebutuhan terbesar paling sedikit terwakili. 40% responden studi berasal dari Jawa Timur.

Kalimantan dan Papua tidak terwakili sama sekali, padahal keduanya termasuk wilayah dengan tingkat kebutuhan layanan mata yang tidak terpenuhi tertinggi di Indonesia.

Tampilkan Semua
Cilacap Info
IKUTI BERITA LAINNYA DIGOOGLE NEWS

Berita Terkait