“Melalui program 3 in 1, mahasiswa akan memperoleh perspektif akademik sekaligus pengalaman praktis langsung dari industri internasional,” tambah Kholid.
Kunjungan juga dilanjutkan ke Moscow Institute of Physics and Technology (MIPT), di mana delegasi UB diterima oleh Rektor MIPT Dmitry Livanov, yang juga pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Teknologi Rusia periode 2012–2016.
Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak membahas peluang kerja sama yang lebih luas, mulai dari pertukaran dosen, peneliti, hingga mahasiswa.
Selain itu, MIPT juga menawarkan sejumlah skema beasiswa bagi mahasiswa Indonesia pada jenjang sarjana maupun magister untuk melanjutkan studi di Rusia.
Dalam rangkaian agenda di Rusia, delegasi Universitas Brawijaya turut menghadiri Kazan Forum dan bertemu dengan Deputy Head of Rossotrudnichestvo Kementerian Luar Negeri Rusia, Shevtson Pavel. Pavel mengapresiasi langkah UB yang aktif membangun kolaborasi internasional, khususnya dalam bidang pendidikan, riset, dan pengembangan sumber daya manusia.
Ia menilai bahwa Rusia dan Indonesia merupakan mitra strategis di kawasan Asia. Karena itu, momentum kerja sama ini perlu ditindaklanjuti melalui program konkret yang dapat memberikan manfaat bagi kedua negara, khususnya dalam penguatan pendidikan tinggi dan pengembangan talenta keamanan siber.
Kerja sama ini diharapkan menjadi langkah penting bagi Universitas Brawijaya dalam memperkuat posisi sebagai institusi pendidikan tinggi yang adaptif terhadap kebutuhan industri masa depan, sekaligus membuka peluang lebih luas bagi mahasiswa, dosen, dan peneliti untuk terlibat dalam kolaborasi internasional di bidang keamanan siber.
Press release ini juga sudah tayang di VRITIMES.
Tampilkan Semua

