JAKARTA, CILACAP.INFO – Pergerakan harga emas dunia pada pekan depan diperkirakan masih akan diwarnai tekanan dalam jangka pendek, seiring munculnya sinyal koreksi dari sisi teknikal serta pengaruh sentimen global yang belum sepenuhnya mendukung penguatan lanjutan.
Dupoin Futures melalui analisnya, Geraldo Kofit, melihat bahwa pasangan XAU/USD saat ini menunjukkan indikasi pelemahan setelah gagal melanjutkan kenaikan di area resistance penting.
Dalam beberapa sesi terakhir, harga emas memang sempat mencatatkan penguatan yang cukup signifikan. Namun, kegagalan untuk menembus level resistance menjadi sinyal bahwa momentum kenaikan mulai terbatas.
Kondisi ini umumnya diikuti oleh fase koreksi sebagai bagian dari penyesuaian pasar setelah pergerakan naik yang cukup tajam.
Menurut Geraldo Kofit, potensi penurunan harga dalam waktu dekat masih tergolong sebagai koreksi yang wajar dan belum mencerminkan perubahan tren utama secara keseluruhan.
Dengan kata lain, tekanan yang muncul lebih bersifat sementara dan menjadi bagian dari dinamika pasar sebelum menentukan arah berikutnya.
Dalam proyeksi untuk pekan depan, harga emas diperkirakan berpotensi bergerak turun menuju area support terdekat di kisaran 4.739.
Level ini menjadi titik awal yang akan diuji oleh pelaku pasar. Apabila tekanan jual berlanjut, maka peluang penurunan lebih dalam ke area 4.702 juga terbuka.
Kendati demikian, kedua level tersebut juga memiliki peran penting sebagai area penopang yang dapat menahan laju penurunan harga.
Respons pasar di area support tersebut akan menjadi kunci dalam menentukan apakah harga akan melanjutkan koreksi atau justru kembali menguat.
Dari sisi fundamental, tekanan terhadap harga emas turut dipicu oleh penguatan dolar Amerika Serikat dalam beberapa waktu terakhir.
Setelah sempat melemah, dolar kini menunjukkan pemulihan yang membuat harga emas cenderung tertekan. Hal ini terjadi karena emas yang diperdagangkan dalam dolar menjadi relatif lebih mahal bagi investor global ketika nilai dolar meningkat.
Selain itu, aksi ambil untung oleh pelaku pasar juga menjadi faktor yang memperbesar tekanan terhadap harga emas. Setelah mencatatkan kenaikan signifikan sebelumnya, sebagian investor memilih untuk mengamankan keuntungan, sehingga mendorong harga terkoreksi.
Faktor lain yang turut memengaruhi adalah ekspektasi terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat. Pasar masih melihat peluang bahwa bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga pada level tinggi dalam jangka waktu tertentu. Kondisi ini membuat instrumen berbasis imbal hasil seperti obligasi menjadi lebih menarik dibandingkan emas yang tidak memberikan yield.
Tampilkan Semua