JAKARTA, CILACAP.INFO – Seringkali, Bali bergerak dengan ritme yang bising. Sepeda motor melaju kencang di jalan-jalan, klub pantai memutar musik hingga matahari terbenam, dan para wisatawan berkumpul di kafe, restoran, dan berbagai destinasi budaya di seluruh pulau. Namun, sekali setahun, destinasi yang semarak ini berubah total.
Saat masyarakat Bali menyambut Tahun Baru Saka, pulau ini berubah menjadi sunyi. Selama 24 jam, Bali tenggelam dalam keheningan.Aktivitas kerja berhenti, toko-toko tutup, penerbangan dihentikan, dan jalanan tetap kosong. Para pengunjung, sama seperti penduduk setempat, diimbau untuk tetap berada di dalam hotel sementara seluruh pulau secara bersama-sama menahan diri dari aktivitas sehari-hari. Penggunaan televisi, lampu, dan koneksi internet pun dibatasi seminimal mungkin untuk menjaga suasana tetap hening.
Tahun ini, hari Nyepi jatuh pada 19 Maret, menandai awal Tahun Baru Saka yang dipandu oleh filosofi Bali Tri Hita Karana, yang menekankan keharmonisan antara alam spiritual, dunia manusia, dan alam.
Lebaran dan Nyepi di Bali: Dua Perayaan dalam Harmoni
Suasana Bali tahun ini memiliki dinamika yang menarik karena Hari Raya Nyepi kemungkinan berlangsung berdekatan dengan perayaan Idul Fitri atau Lebaran.
Di banyak daerah di Indonesia, malam takbiran biasanya dirayakan dengan pawai kendaraan, tabuhan bedug, dan pengeras suara yang menggema di seluruh kota. Namun di Bali, ketika momen tersebut berdekatan dengan Nyepi, tradisi tersebut menyesuaikan diri dengan semangat keheningan pulau.
Kementerian Agama bersama dengan pemerintah daerah, tokoh agama dan masyarakat setempat, telah menyepakati panduan khusus agar kedua perayaan dapat berlangsung berdampingan dengan saling menghormati. Umat Islam tetap diperbolehkan melaksanakan takbiran di masjid atau mushola terdekat dengan berjalan kaki, namun tanpa pengeras suara, tanpa petasan, dan dengan penerangan seperlunya, dalam rentang waktu terbatas pada malam hari.
Tampilkan Semua