Sambut Imlek dan Ramadan, Tokocrypto Luncurkan Fitur Baru untuk Tingkatkan Transaksi Kripto

Tokocrypto
Tokocrypto

JAKARTA, CILACAP.INFOOtoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat tren pertumbuhan industri aset kripto nasional terus berlanjut hingga akhir tahun. Hingga Desember 2025, jumlah konsumen aset kripto di Indonesia mencapai 20,19 juta orang, meningkat 3,22% dibandingkan posisi November 2025 yang tercatat sebanyak 19,56 juta konsumen.

Dalam keterangan resmi pada Jumat (6/2/2026), OJK juga melaporkan bahwa nilai transaksi aset kripto sepanjang tahun 2025 tercatat mencapai Rp482,23 triliun. Sementara itu, pada Januari 2026, nilai transaksi kembali mencatat angka Rp29,24 triliun, menunjukkan likuiditas pasar yang masih terjaga meski memasuki awal tahun.

Namun, secara tahunan (year on year/yoy), nilai transaksi aset kripto pada Januari 2026 mengalami penurunan dibandingkan Januari 2025 yang mencapai Rp44,07 triliun. Dengan demikian, transaksi aset kripto turun sekitar 33,65% dari Rp44,07 triliun menjadi Rp29,24 triliun.

Penurunan ini dinilai tidak terlepas dari kondisi makroekonomi global dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik yang memicu sentimen risk-off, termasuk arus keluar ETF yang meningkat serta kekhawatiran pengetatan likuiditas global.

CEO Tokocrypto, Calvin Kizana, menjelaskan bahwa tekanan pasar semakin besar seiring meningkatnya potensi kebijakan moneter ketat dari Jepang. “Sentimen risk-off tersebut semakin kuat seiring meningkatnya kekhawatiran pengetatan likuiditas global, khususnya setelah Bank of Japan (BOJ) memberi sinyal kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan untuk mengendalikan inflasi. Dorongan sejumlah anggota dewan BOJ untuk menaikkan suku bunga memunculkan ekspektasi bahwa langkah itu bisa terjadi secepat April,” ujarnya.

Menurut Calvin, apabila kenaikan suku bunga benar terjadi, maka biaya pendanaan akan meningkat dan pasar akan menghadapi likuiditas yang lebih ketat, sehingga aset berisiko seperti kripto rentan mengalami koreksi.

“Jika benar terjadi, biaya pendanaan akan naik dan likuiditas menjadi lebih ketat, sehingga aset berisiko seperti kripto cenderung lebih rentan mengalami koreksi dan volatilitas tajam,” lanjutnya.

Tampilkan Semua
IKUTI BERITA LAINNYA DIGOOGLE NEWS

Berita Terkait

Exit mobile version