“Di lapangan, kami melihat tantangan HR justru muncul setelah karyawan bergabung. Payroll dikejar deadline, data tersebar di banyak file, dan HR sering menjadi tempat komplain pertama. Tantangan ini bukan tanda HR kurang kompeten, tapi tanda organisasi sudah berkembang dan prosesnya makin kompleks,” jelas Randi.
Forum ini menjadi ruang bagi para peserta untuk berbagi pengalaman nyata mengenai transisi dari paradigma HR administratif menuju HR yang berbasis data dan strategis. Para praktisi yang hadir sepakat bahwa kolaborasi dan penggunaan teknologi yang tepat menjadi solusi dalam menghadapi dinamika pasar tenaga kerja Indonesia yang terus berubah.
Melalui inisiatif ini, Smart Salary juga menyatakan komitmennya untuk terus membuka ruang kolaborasi dengan berbagai mitra industri, komunitas, dan organisasi. Tujuannya adalah membangun ekosistem di mana para pemimpin HR dapat saling bertukar wawasan praktis guna menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat dan produktif di masa depan.


