Secara teknis, sumur bor air dalam dibangun dengan kedalaman rata-rata sekitar 100 meter dan diameter lebih dari 4 inci. Sumur ini dirancang menggunakan metode pemboran teknis yang dilengkapi uji logging dan pumping test untuk mengambil air tanah dari akuifer terkekang maupun semiterkekang, dengan debit air lebih dari 2 liter per detik.
Untuk menjamin keberlanjutan sumber air, penentuan kedalaman sumur didasarkan pada survei geolistrik. Setiap unit juga dilengkapi fasilitas pendukung berupa pompa submersible, rumah tenaga listrik, reservoar atau toren berkapasitas lebih dari 1.000 liter, serta hidran umum.
Terkait kualitas, air dari sumur bor ini telah memenuhi standar parameter utama, yakni pH sekitar 7,1, kadar besi di bawah 1 mg/l, serta tingkat kekeruhan di bawah 1.000 mg/l. Standar ini memastikan air baku aman untuk mendukung kebutuhan dasar masyarakat dan operasional fasilitas pelayanan publik.
Mengenai progres konstruksi dari total 86 titik, penyelesaian sumur bor air dalam saat ini telah mencapai sekitar 15%, sedangkan sumur bor dangkal mencatatkan progres yang lebih cepat, yakni mencapai 53%.
Pembangunan infrastruktur ini juga berfungsi sebagai sistem pendukung agar 176 unit Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) yang terdampak bencana dapat kembali berfungsi optimal. Penegasan yang disampaikan Menteri Dody merupakan wujud komitmen Kementerian PU dalam upaya build back better (membangun kembali dengan lebih baik) pada daerah yang terdampak bencana di wilayah Sumatera.
Program kerja ini merupakan bagian dari “Setahun Bekerja, Bergerak – Berdampak” dalam menjalankan ASTA CITA dari Presiden Prabowo Subianto.
#SigapMembangunNegeriUntukRakyat
#SetahunBerdampak


