Ia menambahkan, terdapat sejumlah faktor kunci keberhasilan dalam menjaga kinerja operasional tersebut, antara lain optimalisasi dwelling time atau waktu berhenti kereta di stasiun, koordinasi intensif antar unit pengatur perjalanan melalui Pusat Pengendali Operasi (Pusdalop), serta kesiapan lokomotif dan rangkaian kereta yang andal sehingga mampu meminimalisir potensi gangguan teknis di lintas.
Tidak hanya unggul dari sisi ketepatan waktu, KAI Daop 9 Jember juga mencatatkan kinerja gemilang dalam aspek keamanan dan keselamatan perjalanan. Selama periode Angkutan Nataru, seluruh operasional perjalanan KA di wilayah Daop 9 Jember berjalan dengan Zero Accident atau nihil kecelakaan.
Sebagai bentuk mitigasi risiko, Daop 9 Jember meningkatkan kesiagaan prasarana dengan menempatkan petugas penjaga ekstra di titik-titik rawan, seperti wilayah yang berpotensi banjir, longsor, maupun tanah labil, mengingat masa Nataru bertepatan dengan musim hujan. Selain itu, KAI juga menyiagakan AMUS (Alat Material Untuk Siaga) di sejumlah stasiun strategis, antara lain Stasiun Probolinggo, Jember, dan Kalibaru, guna mempercepat penanganan apabila terjadi gangguan akibat faktor alam.
Dari sisi pengamanan, KAI Daop 9 Jember mengerahkan personel keamanan gabungan yang terdiri dari Polsuska, Security, serta dukungan eksternal dari unsur TNI dan Polri. Patroli rutin juga dilakukan di sepanjang jalur kereta api untuk mengantisipasi potensi gangguan eksternal, seperti pelemparan batu maupun aktivitas ilegal di jalur KA.
Perhatian khusus juga diberikan pada aspek keselamatan di perlintasan sebidang. KAI Daop 9 Jember melaksanakan sosialisasi masif di perlintasan rawan kecelakaan serta menambah petugas penjaga perlintasan (PJL) ekstra guna memastikan keselamatan pengguna jalan raya sekaligus menjamin kelancaran perjalanan kereta api.
Menurut Cahyo, keberhasilan menjaga kinerja operasional dan keselamatan selama masa Nataru merupakan wujud komitmen manajemen KAI dalam memberikan layanan transportasi publik yang andal dan aman.
Tampilkan Semua

