Perubahan lanskap permintaan ini tidak hanya tercermin pada pola okupansi, tetapi juga pada cara Sanggraloka membangun nilai komersial melalui pengalaman yang melampaui akomodasi semata. Pendapatan non-kamar juga menunjukkan struktur yang berbeda dari resort premium kebanyakan, dengan 34–38 persen revenue datang dari wellness, kuliner, dan event boutique, mulai dari sesi sound healing di tepi sungai, kelas memasak dari hasil kebun organik, hingga pernikahan intim di Anandam Chapel. Pada semester pertama 2026, Sanggraloka menargetkan seperempat total pendapatannya berasal dari wellness dan event melalui paket terkurasi dan kolaborasi dengan operator retreat global serta spesialis micro-wedding.
“Kami percaya bahwa pariwisata tidak harus memilih antara pertumbuhan dan keberlanjutan. Sanggraloka membuktikan bahwa bisnis yang dijalankan dengan menghormati alam dan budaya justru menciptakan loyalitas tamu, nilai ekonomi yang lebih kuat, dan hubungan jangka panjang dengan komunitas. Tujuan kami bukan hanya membangun resort, tetapi ekosistem yang menyehatkan tanah, memberdayakan masyarakat, dan menjaga warisan Bali tetap hidup,” ujar I Wayan Lanus, Direktur dan Partner Sanggraloka Ubud, didampingi Komang Kariyana, General Manager Sanggraloka Ubud sekaligus CEO Manggala International Hospitality.
Menjaga Alam, Menguatkan Komunitas, dan Mendorong Ekonomi Lokal
Di balik pengalaman tamu yang menenangkan, Sanggraloka menjalankan sistem keberlanjutan operasional yang terukur. Limbah dipilah dan dikelola agar sebagian besar dapat dikomposkan atau didaur ulang, sementara penggunaan air dan energi dioptimalkan melalui pengelolaan greywater, pemanenan air hujan, dan efisiensi peralatan. Upaya ini selaras dengan kerangka GSTC (Global Sustainable Tourism Council) dan prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance) yang diterapkan melalui komite internal dan indikator terukur seperti pengurangan pemakaian air per guest-night, pengalihan sampah dari TPA minimal 70 persen, penurunan intensitas energi hingga 10 persen per tahun, serta pemantauan biodiversitas melalui indeks burung dan kupu-kupu di jalur Forest Path.
Lebih dari 70 persen tenaga kerja berasal dari Bresela dan Payangan, mendapatkan pelatihan hospitality berbasis budaya dan praktik ramah lingkungan. Rantai pasok juga diprioritaskan dari komunitas sekitar meliputi petani, perajin, dan pemandu budaya dengan perputaran ekonomi lokal yang diproyeksikan mencapai Rp 1,2 miliar – Rp 1,6 miliar per tahun saat resort mencapai kapasitas penuh.
Dengan operasional yang efisien, diversifikasi pendapatan, dan keterlibatan ekonomi lokal yang terukur, Sanggraloka menjadi contoh bagaimana model hospitality dapat menciptakan nilai komersial sekaligus sosial. Pendekatan ini menunjukkan bahwa keberlanjutan bukan hanya memenuhi ekspektasi pasar modern, tetapi juga memperkuat daya saing, loyalitas tamu, dan stabilitas bisnis jangka panjang.
Tampilkan Semua

