Bergeser ke wilayah selatan Aceh, pemulihan bertahap juga terus berlangsung. Pada ruas Blangkejeren–Batas Gayo Lues/Aceh Tenggara, penanganan berupa penimbunan di titik amblas ditargetkan selesai pada 28 Desember 2025. Sementara itu, peningkatan signifikan terlihat pada ruas Batas Gayo Lues/Aceh Tenggara–Kota Kutacane, di mana jembatan bailey telah terpasang dan penanganan longsor di tiga titik telah dilakukan.
Hingga saat ini, sejumlah ruas strategis dilaporkan telah kembali dapat dilalui kendaraan. Ruas Banda Aceh–Meureudu sudah terhubung sepenuhnya. Begitu pula dengan koridor Lhokseumawe–Langsa dan Langsa–Kuala Simpang yang dapat dilalui pascapembersihan sedimen lumpur. Ruas Kota Kuala Simpang–Batas Sumatera Utara juga dipastikan telah fungsional untuk seluruh jenis kendaraan.
Ruas lainnya seperti Batas Aceh Tengah/Nagan Raya–Lhok Seumot–Jeuram serta Geumpang–Pameue–Genting Gerbang–Sp. Uning juga menunjukkan perkembangan pemulihan. Meski demikian, penanganan lanjutan masih diperlukan, terutama pada titik jembatan putus dan longsoran besar. Saat ini, material pendukung seperti bronjong, armco, dan geotekstil telah tersedia di lokasi dan pemasangannya dilakukan secara bertahap.
Khusus untuk pemulihan konektivitas lintas tengah Aceh, penanganan dilakukan secara bertahap mengingat akses yang sangat terbatas akibat 13 jembatan yang terputus. Strategi pemulihan difokuskan pada pemasangan jembatan bailey dan rehabilitasi badan jalan yang rusak akibat gerusan sungai.
Kementerian PU menegaskan bahwa proses pemulihan akan terus dipercepat untuk memastikan seluruh ruas jalan nasional yang terdampak dapat fungsional sesuai target. Dukungan pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan diharapkan dapat mengembalikan aktivitas masyarakat serta mempercepat pemulihan ekonomi wilayah pascabencana.
Program kerja ini merupakan bagian dari “Setahun Bekerja, Bergerak – Berdampak” dalam menjalankan ASTA CITA dari Presiden Prabowo Subianto.
#SigapMembangunNegeriUntukRakyat


