Bukan Cinta yang Menyiksa, Tapi Harapan yang Memenjarakan: Menyelami Tiga Level Hubungan Manusia

pulih dari dalam (1)
pulih dari dalam (1)

Seorang orang tua, misalnya, memaksa anak masuk ke sekolah elit demi gengsi sosial, sembari berkata, “Ini demi masa depanmu.” Tapi di balik kata “demi,” sering tersembunyi ego yang haus pengakuan. Dr. Daniel menyoroti bahwa tindakan semacam itu bukanlah cinta orang tua, melainkan nafsu akan status dan kebanggaan diri.

Begitu pula dalam pernikahan. Banyak pasangan yang sebenarnya tidak mencintai, melainkan ingin memiliki. Kalimat seperti, “Aku melarang kamu bekerja demi menjaga kehormatan keluarga,” kerap terdengar mulia, padahal sering berakar dari kebutuhan untuk menguasai dan mengendalikan. “Kontrol adalah bentuk halus dari ketakutan,” kata Dr. Daniel. “Dan di balik ketakutan itu, ada ego yang tidak ingin kehilangan sumber pemenuhannya.”

Level 2: Cinta – Kontrak Sosial Tak Terucap yang Membatasi Kebebasan

Jika Nafsu adalah hubungan transaksional satu arah, maka tingkat kedua—Cinta—terlihat lebih matang, tapi justru menjadi sumber penderitaan terbesar.

Dr. Daniel menyebutnya sebagai Cinta Bersyarat atau The Conditional Contractor. “Di sini, kita masih beroperasi dalam sistem pertukaran yang tersamar,” jelasnya. “Ada perjanjian tak tertulis: Aku mencintaimu asalkan kamu juga mencintaiku dengan kadar yang sama.”

Ini adalah cinta yang menjadi mata uang sosial. Kita memberi, tapi diam-diam menghitung. Kita menolong, tapi berharap diingat. Kita berkorban, tapi menunggu imbalan moral: ucapan terima kasih, pengakuan, atau setidaknya balasan emosi yang setara. Saat kontrak batin itu dilanggar, muncul rasa kecewa, sakit hati, bahkan dendam.

Dr. Daniel menyebut fenomena ini sebagai tyranny of the giver—tirani sang pemberi. “Ada orang yang tampak dermawan dan penuh cinta, tapi sebenarnya memberi untuk meneguhkan ego. Ia ingin terlihat mulia, ingin diakui sebagai pihak yang paling berkorban. Itu bukan kasih, itu strategi dominasi halus,” ujarnya.

Fenomena ini sangat relevan di masa kini. Di era media sosial, cinta bersyarat ini mendapat panggung besar. Banyak pasangan yang menilai cinta dari seberapa sering pasangannya mengunggah foto bersama, memberi komentar manis, atau menuliskan kata “I love you” di ruang publik digital. Hubungan menjadi ajang curated affection, bukan koneksi batin.

Tampilkan Semua
Cilacap Info
IKUTI BERITA LAINNYA DIGOOGLE NEWS

Berita Terkait