G-Schools Indonesia Summit 2025: Pendidik Indonesia Siap Menavigasi Kehadiran AI dalam Lanskap Pendidikan

G Schools
G Schools

Menurut Pepita, dengan hadirnya AI dalam dunia pendidikan, saat ini ada peluang baru yang terbentang di depan mata. “AI telah menetapkan batasan-batasan baru dalam dunia pendidikan. Menciptakan peluang sekaligus tantangan, yang mungkin tidak pernah kita pikirkan sebelumnya. Jadi kita harus terus update dan upgrade diri kita dalam literasi AI, agar bisa menavigasi pesatnya perkembangan teknologi AI ini,” kata Pepita lagi.

GSIS 2025  menghadirkan empat Keynote Sessions :

●    The Changing Landscape of Lifelong Learning  oleh Gary Lim, Head of Education & Channels, Global Workspace for Education, Google for Education.

●    Turning Obstacles to Opportunities with AI  oleh Hanny Atie Sumarni, Wakil Kepala Sekolah, Kepala Perpustakaan, dan Guru Sejarah SMA Negeri 97 Jakarta didampingi oleh Steven Sutantro, Principal Learning Consultant REFO.

●    What’s Next – A Commitment In Continued Exploration and Learning  oleh Yuliana, Head of International Education Department IPEKA Christian School.

●    Turning Information Into Impact  oleh Darma Kusumah Guru di SLB Negeri 11 Jakarta didampingi oleh Steven Sutantro, Principal Learning Consultant REFO.

Di samping empat Keynote Sessions tersebut, GSIS 2025 juga menghadirkan 36 Parallel Sessions yang dibawakan oleh 18 Pembicara  yang merupakan praktisi dalam dunia pendidikan. Parallel Sessions membahas dengan detail tentang praktik-praktik baik pemanfaatan AI dalam konteks pendidikan. Peserta dapat memilih sendiri kelas-kelas sesuai dengan tema yang dibutuhkannya.

Peserta, yang hadir dari berbagai daerah di Indonesia, terlihat sangat antusias mengikuti setiap sesinya. Berpuasa di bulan Ramadan tak mengurangi semangat para pendidik ini untuk terus belajar dan mengembangkan diri.

“Programnya bagus untuk mendapatkan inspirasi. Saya berterima kasih pada REFO karena sudah memberikan insights baru dalam pembelajaran,” ujar Maesaroh dari SMA Terpadu Baiturrahman, Bandung.

“Acaranya oke, dan REFO sangat profesional dalam mengorganisasi event ini. Semoga acara seperti ini bisa dilakukan dua kali dalam setahun,” ungkap Thomas Juniwarto dari Kinderfield Highfield Indonesia, Jakarta.

It’s all great, dan acaranya sangat menginspirasi,” ungkap Eka Fidyanti Hariana dari SIS School, Cilegon.

Parallel Session yang tiap sesinya berdurasi selama 40 menit pun banyak dirasa kurang lama oleh para peserta.

“Acara bisa dibuat dua hari supaya waktu tiap Parallel Sessions bisa lebih dalam,” ucap Agung Surancoyo dari SMP Negeri 10 Loa Kulu, Kutai Kartanegara.

“Waktu untuk Parallel Session seharusnya lebih lama, supaya pembahasannya bisa lebih mendalam,” kata Hilary Relita dari Sekolah Terpadu Sedaya Bintang, Bandung.

Tampilkan Semua
Cilacap Info
IKUTI BERITA LAINNYA DIGOOGLE NEWS

Berita Terkait