“Ketiganya adalah megatrend yang menurut saya sedang terjadi. Ada banyak area yang anda dapat dipikirkan untuk operasi dan kolaborasi,” jelas Bambang mengenai letak potensi kolaborasi antara Indonesia dan India.
Raja Singh Khurana, Wakil Presiden Invest India kemudian melanjutkan diskusi dengan menyatakan bahwa perekonomian India saat ini sudah meningkat dua kali lipat dibandingkan sepuluh tahun yang lalu.
“Jika anda melihat perekonomian India, kami saat ini berada di perekonomian senilai $4 triliun. Kami adalah yang terbesar kelima di dunia,” jelasnya. “Perekonomian kami senilai $2 triliun sekitar 10 tahun yang lalu. Kami menggandakan diri dalam sepuluh tahun terakhir,” lanjutnya.
Perekonomian India dapat berkembang secara pesat dikarenakan faktor infrastruktur, investasi, dan konsumsi, menurut Raja. Mengingat Indonesia saat ini tengah fokus pada pengembangan infrastrukturnya, hal ini membuat Raja sangat tertarik untuk memperkuat kerja sama ekonomi antara Indonesia dan India.
Vikram Sinha, CEO Indosat Ooredoo Hutchison, mengungkapkan keyakinannya terhadap potensi besar Indonesia. Menurutnya, Indonesia memiliki kekuatan yang luar biasa, baik dari segi sumber daya alam maupun talenta muda yang dapat menjadi penggerak perekonomian. “Indonesia memiliki segalanya. Memiliki kekuatan, memiliki sumber daya alam, dan juga memiliki talenta muda, kita hanya perlu berinvestasi pada itu,” ujarnya.
Keyakinan ini semakin diperkuat dengan pertumbuhan PDB Indonesia yang konsisten mencapai 5% dalam beberapa tahun terakhir. Vikram menambahkan bahwa mandat Presiden Prabowo untuk mencapai pertumbuhan PDB sebesar 8% merupakan tantangan sekaligus kesempatan untuk memberdayakan Indonesia lebih lanjut.
“Mandat yang diberikan oleh Prabowo untuk mencapai 8% pertumbuhan PDB adalah laporan yang telah diteliti dengan baik, yang dirilis oleh Indosat sebagai sebagian dari mandat kami untuk memberdayakan Indonesia,” jelas Vikram Sinha pada Jumat (6/12/2024).
Pembahasan selanjutnya dari Hemant Kabra, Direktur RR Global, menyoroti potensi kolaborasi antar Indonesia dan India dalam sektor manufaktur dan teknologi, khususnya dalam industri Kendaraan Listrik (EV). Hemant menjelaskan bahwa Indonesia, yang memiliki suhu panas serupa dengan India, menawarkan peluang besar untuk pengembangan EV.
“Indonesia atau bahkan sebagian besar negara di Asia Tenggara adalah negara dengan suhu panas, hal yang sama berlaku untuk India,” jelas Hemant, mengingat kondisi iklim, dapat mempengaruhi kinerja kendaraan listrik.
Lebih lanjut, Hemant menekankan bahwa kesamaan suhu dan perilaku pengguna kendaraan di kedua negara membuka peluang besar untuk kolaborasi, terutama dalam produksi dan pengembangan kendaraan listrik (EV). “Sehingga Indonesia atau Asia Tenggara cukup mirip dengan India hari ini dalam hal perilaku pengguna dan suhu yang dibutuhkan,” jelas Hemant, mengungkapkan potensi kerja sama yang kuat antara Indonesia dan India dalam sektor manufaktur, khususnya di industri EV.
Tampilkan Semua

