“Risiko gangguan supply memang memberikan katalis positif bagi WTI. Namun, dari sisi teknikal, harga masih berada dalam struktur bearish setelah breakout support 89–88. Karena itu, rebound tetap perlu dilihat sebagai koreksi selama belum terjadi perubahan struktur yang lebih kuat,” jelas Geraldo.
Dupoin Futures juga mencermati perkembangan persediaan minyak Amerika Serikat. Penurunan stok minyak mentah AS memberikan dukungan tambahan terhadap harga karena menunjukkan kondisi supply domestik yang lebih ketat. Reuters melaporkan persediaan crude AS turun lebih dari 2 juta barel.
Di sisi lain, pasar minyak sebelumnya mendapatkan tekanan dari peningkatan ekspor Timur Tengah dan komitmen negara-negara G7 untuk menambah pasokan dari cadangan darurat. Kondisi tersebut sempat meredakan kekhawatiran mengenai keterbatasan supply global dan menjadi faktor bearish bagi WTI.
Dengan demikian, analisis Dupoin Futures menunjukkan adanya dua sentimen yang saling berlawanan. Fundamental memberikan ruang bagi rebound akibat risiko gangguan pasokan, sementara struktur teknikal masih mengarah pada pelemahan.
Berdasarkan analisis Geraldo Kofit, WTI berpotensi menguji area koreksi atau Sell Limit terlebih dahulu sebelum kembali melanjutkan penurunan. Selama harga belum mengubah struktur bearish setelah breakout US$89–US$88, Dupoin Futures melihat zona US$86.76–US$84.95 sebagai area support berikutnya yang patut diperhatikan.
Pelaku pasar juga perlu mencermati perkembangan badai Teluk Meksiko, kondisi persediaan minyak AS, serta ketegangan geopolitik Timur Tengah karena ketiga faktor tersebut dapat meningkatkan volatilitas WTI dan mengubah sentimen pasar dengan cepat.

