“AI itu sangat membantu, tetapi jangan pernah menganggap semua jawaban AI sebagai kebenaran. Kita tetap harus melakukan cross-check terhadap sumber, memahami konteks, dan memastikan informasi yang digunakan benar-benar dapat dipertanggungjawabkan,” jelas Ikhwan.
Selain akurasi informasi, Ikhwan juga menyoroti aspek privasi dan keamanan data. Menurutnya, sivitas akademika perlu memahami bahwa tidak semua data dapat begitu saja dimasukkan ke dalam layanan AI, khususnya data pribadi, data penelitian yang bersifat sensitif, maupun informasi institusi yang memiliki batasan akses.
Dalam kesempatan tersebut, Ikhwan turut memperkenalkan perkembangan solusi AI berdaulat yang dikembangkan Telkom untuk konteks Indonesia. Pendekatan tersebut memungkinkan organisasi dan institusi mempertimbangkan penggunaan AI dengan memperhatikan aspek kedaulatan data, keamanan, kebutuhan lokal, serta tata kelola teknologi.
Diskusi semakin berkembang ketika peserta mengajukan pertanyaan mengenai kemungkinan integrasi AI dengan repositori kampus, pengembangan model AI yang lebih sesuai dengan kebutuhan lokal, serta penerapan AI untuk mendukung penelitian dan pengelolaan pengetahuan di perguruan tinggi.
Salah satu gagasan yang muncul adalah pemanfaatan AI untuk mengembangkan portal pengetahuan dan sejarah Aceh, dengan AI berperan membantu proses pencarian, pengolahan, dan eksplorasi informasi tanpa menghilangkan kebutuhan terhadap sumber yang terverifikasi.
AI sebagai Mitra, Bukan Pengganti
Business & Community Lead Telkom AI Center Aceh, Jurnalis JH, mengatakan bahwa diskusi mengenai AI di lingkungan pendidikan tidak seharusnya berhenti pada pertanyaan tentang “boleh atau tidak boleh menggunakan AI”.
Menurutnya, pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana AI digunakan secara tepat untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, produktivitas, dan kemampuan manusia tanpa menghilangkan proses berpikir kritis.
“Kami melihat AI bukan sebagai pengganti manusia, tetapi sebagai mitra untuk meningkatkan kemampuan manusia. Karena itu, yang ingin kami dorong melalui kegiatan ini bukan sekadar kemampuan menggunakan AI, tetapi kemampuan menggunakan AI dengan kritis, etis, dan bertanggung jawab,” ujar Jurnalis JH
Ia menambahkan bahwa perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam membentuk budaya penggunaan AI yang sehat. Dosen tidak hanya perlu memahami teknologi AI, tetapi juga perlu merancang proses pembelajaran dan penugasan yang tetap mendorong mahasiswa untuk melakukan analisis, argumentasi, verifikasi, dan menghasilkan pemikiran orisinal.
“Kalau mahasiswa hanya diminta menghasilkan jawaban, AI mungkin bisa mengerjakan sebagian besar prosesnya. Tetapi kalau mahasiswa diminta menjelaskan bagaimana mereka sampai pada sebuah kesimpulan, menguji data, membandingkan sumber, dan mempertahankan argumentasinya, maka AI justru bisa menjadi alat yang memperkuat pembelajaran,” tambahnya.
Mendorong Tata Kelola AI di Perguruan Tinggi
Telkom AI Center Aceh melihat kebutuhan terhadap pedoman penggunaan AI di tingkat institusi sebagai salah satu hal yang semakin penting. Pedoman tersebut dapat mengatur penggunaan AI oleh mahasiswa, dosen, peneliti, maupun tenaga kependidikan, termasuk aspek transparansi, privasi data, verifikasi informasi, hak cipta, dan integritas akademik.
Tampilkan Semua