“Saya enggak bisa mengontrol keadaan bahkan orang lain. Namun yang bisa saya kontrol adalah diri saya sendiri. Sejak saya mengimplementasikan pemikiran berhenti mengeluh, semuanya jadi lebih lancar. Karena ketika mengeluh, berarti menghabiskan energi untuk mengeluh. Padahal, energi dan waktu itu bisa kita gunakan untuk menyelesaikan tugas dengan lebih baik,” ungkap Vanessa.
Sementara itu, Gracela membagikan pengalamannya saat pertama kali bergabung dalam organisasi dan mendapat kesempatan menjadi MC di UPH Talent Show 2023. Meski sempat merasa takut dan tidak percaya diri, kesempatan tersebut justru menjadi pengalaman yang membentuk keberaniannya.
“Terkadang kita tidak harus menjadi yang paling baik atau merasa harus menunggu sampai benar-benar siap. Ketika ada kesempatan, ambillah. Jangan selalu berkata, ‘Aduh, nanti saja, Kak. Aku belum siap,’ atau ‘Aduh, pressure banget. Takut dimarahin sama kakak tingkat.’ Coba hadapi dan jalani prosesnya. Di situlah mental kita dilatih dan dibentuk. Dari proses tersebut, kita juga bisa melihat sejauh mana diri kita sudah bertumbuh,” ujar Gracela.
Menjadi Pemimpin yang Berdampak
Sebagai penutup, Dr. Andry M. Panjaitan, M.T., CPHCM., Associate Vice President Student Development, Alumni, and Corporate Relations UPH, membawakan sesi ‘The Leader God is Forming in You’. Ia mengajak mahasiswa memahami bahwa kepemimpinan tidak ditentukan oleh jabatan, prestasi, nilai akademik, maupun popularitas, tetapi oleh siapa diri mereka dan bagaimana Tuhan membentuknya.
“Pertanyaan penting dalam kepemimpinan adalah siapa saya dan untuk menjadi pribadi seperti apa Tuhan membentuk saya. Kita adalah image bearer, ciptaan Tuhan yang dibentuk untuk menjadi serupa dengan Kristus,” jelas Dr. Andry.
Ia juga menekankan bahwa kepemimpinan sejati tercermin melalui sikap melayani dan bertanggung jawab atas apa yang telah dipercayakan Tuhan. Karena itu, talenta, potensi, dan kesempatan yang dimiliki perlu dikembangkan dan digunakan untuk memberi manfaat bagi orang lain, bukan semata-mata mengejar pengakuan pribadi.
“Pemimpin yang sesungguhnya bukan mengejar kesuksesan pribadi, tetapi memberikan dampak dan kontribusi bagi sesama. Jangan hanya membangun karier, tetapi bangunlah kehidupan yang bermakna. Kita diciptakan, disiapkan, serta dibentuk untuk menjalani hidup yang berarti dan bermanfaat bagi sesama,” tutur Dr. Andry.
Melalui KEYSTONE 2026, mahasiswa diajak memahami bahwa perjalanan kepemimpinan dimulai dari memimpin diri sendiri dengan penuh tanggung jawab. Sebagai bagian dari rangkaian UPH Leadership Journey, KEYSTONE menjadi langkah awal bagi mahasiswa untuk terus mengembangkan kepemimpinan melalui program lanjutan lainnya, seperti Cornerstone, Intermediate Leadership Training (ILT), dan Living Stone. Seluruh rangkaian ini merupakan bagian dari komitmen UPH menghadirkan pendidikan holistis berlandaskan Wawasan Dunia Kristen Reformed untuk mempersiapkan mahasiswa menjadi pemimpin masa depan berkualitas unggul yang takut akan Tuhan, serta membawa dampak nyata bagi masyarakat, bangsa, dan dunia.
