Nyoman menilai tren tersebut semakin memperkuat peluang Tanjung Emas menjadi gerbang utama ekspor-impor di Jateng. Terlebih, tambahan empat crane memungkinkan terminal melayani kapal dengan ukuran lebih besar.
Namun, peningkatan kemampuan peralatan tersebut perlu didukung kesiapan alur dan kolam pelabuhan. Kedalaman alur menjadi salah satu faktor penting agar kapal dengan draft lebih dalam dapat masuk dan dilayani di Tanjung Emas.
“Memungkinkan sekali Tanjung Emas menjadi gerbang utama. Saat ini kami sudah punya crane yang bisa meng-handle kapal besar hingga 16 row. Tantangannya hanya draft atau kedalaman alur pelabuhan,” tandasnya.
