<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" >

<channel>
	<title>Kumpulan Pos koltiva &#8211; Bisnis Cilacap.info</title>
	<atom:link href="https://bisnis.cilacap.info/tag/koltiva/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://bisnis.cilacap.info</link>
	<description>Media Online Masa Kini, Akurat, Mengedepankan Etika</description>
	<lastBuildDate>Tue, 18 Nov 2025 01:36:24 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	
<image>
<url>https://img.cilacap.info/images/bisnis/favicon-32x32.png</url><title>Kumpulan Pos koltiva &#8211; Bisnis Cilacap.info</title>
<link>https://bisnis.cilacap.info</link>
<width>32</width><height>32</height><description>Berita Seputar Bisnis</description>
</image>
	<item>
		<title>KOLTIVA dan Mitra Dukung Sugata Transformasi Rantai Pasok Kakao Berkelanjutan Gender-Carbon</title>
		<link>https://bisnis.cilacap.info/ci-82659/koltiva-dan-mitra-dukung-sugata-transformasi-rantai-pasok-kakao-berkelanjutan-gender-carbon</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Press Release]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 18 Nov 2025 01:36:24 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[koltiva]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bisnis.cilacap.info/ci-82659/koltiva-dan-mitra-dukung-sugata-transformasi-rantai-pasok-kakao-berkelanjutan-gender-carbon</guid>

					<description><![CDATA[JAKARTA,  aria-label="Bisnis Cilacap.info">CILACAP.INFO &#8211; Sugata, bersama mitra pelaksana KOLTIVA, serta didukung oleh Unilever, FCDO, dan EY melalui TRANSFORM Bestari, memimpin penerapan model terukur produksi kakao regeneratif di Aceh. Kolaborasi ini mengintegrasikan ketertelusuran digital, pertanian cerdas iklim, dan pelatihan inklusif gender untuk membantu petani kecil beralih menuju praktik produksi bebas deforestasi dan tangguh terhadap perubahan iklim. Melalui lima fokus kerja — Gender Action Learning System (GALS), Pengelolaan Lahan Percontohan (Demo Plot Management), Pertanian Regeneratif, Pengelolaan Limbah Kakao, dan Pemantauan Emisi Gas Rumah Kaca (GHG Monitoring) — program ini menanamkan prinsip keberlanjutan di setiap aspek operasional pertanian. Dalam kurun waktu satu tahun, proyek ini telah memberdayakan 500 produsen di 21 desa, membangun 10 lahan percontohan regeneratif, memasang unit biochar untuk mengubah limbah kakao menjadi kompos, serta memperkenalkan pengambilan keputusan inklusif gender di lebih dari 100 rumah tangga. Upaya ini menjadi fondasi rantai nilai kakao yang regeneratif dan bebas deforestasi di Aceh.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JAKARTA,</strong> <a href="https://bisnis.cilacap.info" aria-label="Bisnis Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Sugata, bersama mitra pelaksana KOLTIVA, serta didukung oleh Unilever, FCDO, dan EY melalui TRANSFORM Bestari, memimpin penerapan model terukur produksi kakao regeneratif di Aceh. Kolaborasi ini mengintegrasikan ketertelusuran digital, pertanian cerdas iklim, dan pelatihan inklusif gender untuk membantu petani kecil beralih menuju praktik produksi bebas deforestasi dan tangguh terhadap perubahan iklim. Melalui lima fokus kerja — Gender Action Learning System (GALS), Pengelolaan Lahan Percontohan (Demo Plot Management), Pertanian Regeneratif, Pengelolaan Limbah Kakao, dan Pemantauan Emisi Gas Rumah Kaca (GHG Monitoring) — program ini menanamkan prinsip keberlanjutan di setiap aspek operasional pertanian. Dalam kurun waktu satu tahun, proyek ini telah memberdayakan 500 produsen di 21 desa, membangun 10 lahan percontohan regeneratif, memasang unit biochar untuk mengubah limbah kakao menjadi kompos, serta memperkenalkan pengambilan keputusan inklusif gender di lebih dari 100 rumah tangga. Upaya ini menjadi fondasi rantai nilai kakao yang regeneratif dan bebas deforestasi di Aceh.</p>
<p>Industri kakao Indonesia memegang peranan penting bagi ekonomi lokal dan pasar global. Namun, produktivitas yang menurun, usia pohon yang menua, serta dampak perubahan iklim yang kian terasa menjadi tantangan besar bagi keberlanjutan sektor ini. Untuk menjawab persoalan tersebut, Sugata (PT Kudeungoe Sugata), perusahaan kakao berorientasi keberlanjutan dan pemulihan lingkungan, memimpin upaya pengembangan produksi kakao regeneratif dengan dukungan dari KOLTIVA dan mitra global — Unilever, Foreign, Commonwealth &amp; Development Office (FCDO) Inggris, serta EY — melalui program TRANSFORM Bestari Challenge.</p>
<p>Inisiatif ini mempercepat inovasi bagi petani kecil melalui integrasi ketertelusuran digital, pelatihan pertanian cerdas iklim, serta model pembiayaan inklusif. Dengan menggabungkan pendekatan berbasis komunitas Sugata dan ekosistem teknologi KOLTIVA — termasuk KoltiTrace untuk ketertelusuran “farm-to-bar” dan KoltiSkills untuk pelatihan petani — kolaborasi ini bertujuan membangun rantai nilai kakao yang lebih tangguh, berdaya saing, dan mendukung pelestarian hutan.</p>
<p>Didirikan pada tahun 2018, Sugata dikenal sebagai salah satu pionir bean-to-bar di Indonesia yang secara langsung bermitra dengan petani kecil. Misi perusahaan untuk meregenerasi lahan terdegradasi dan memulihkan mata pencaharian masyarakat menempatkannya di garis depan inovasi kakao berkelanjutan di Tanah Air.</p>
<p>Terletak di sisi timur Ekosistem Leuser seluas 2,6 juta hektare — salah satu hutan hujan tropis terakhir di dunia yang masih menjadi habitat bersama harimau, gajah, badak, dan orangutan Sumatra — Aceh menjadi jantung penting produksi kakao nasional. Dengan luas tanam lebih dari 101.000 hektare dan produksi tahunan sekitar 41.000 ton, Aceh tercatat sebagai provinsi penghasil kakao terbesar keempat di Indonesia (Invest in Aceh, 2023). Lanskap luas ini, yang menaungi sembilan sungai, tiga danau, serta 185.000 hektare lahan gambut dengan cadangan karbon mencapai 1,6 miliar ton, menyediakan air bersih bagi empat juta penduduk — layanan ekosistem yang ditaksir bernilai lebih dari US$600 juta per tahun. Namun, pohon kakao tua, serangan hama, cuaca ekstrem, dan alih fungsi hutan menjadi monokultur terus mengancam keberlanjutan sumber penghidupan masyarakat dan keseimbangan ekosistem. Dalam lima tahun terakhir, kawasan hutan dataran rendah Aceh telah kehilangan sekitar 20 persen tutupan hutannya (Global Conservation, 2023).</p>
<p>Meningkatnya tekanan terhadap lingkungan dan regulasi global seperti EU Deforestation Regulation (EUDR), Sustainable Development Goals (SDGs), serta komitmen zero-deforestation korporasi besar, menandai era baru bagi industri kakao. Produksi kakao regeneratif, yang dikembangkan melalui sistem agroforestri, daur ulang nutrisi, dan ketertelusuran digital, kini menjadi strategi kunci untuk mencapai keberlanjutan sekaligus profitabilitas jangka panjang.</p>
<p>Pada tahun 2024, program TRANSFORM: Bestari Challenge yang digagas oleh Unilever, FCDO, dan EY, mengundang pelaku usaha Indonesia untuk menghadirkan solusi inovatif dalam mendukung pencapaian SDGs, dengan hibah hingga £300.000 bagi pemenang. Program akselerator ini memadukan pendanaan dengan dukungan bisnis strategis untuk menjawab tantangan pembangunan berkelanjutan. Pada Oktober 2024, Sugata terpilih sebagai salah satu dari tiga pemenang utama, memperoleh dukungan untuk mengimplementasikan proyek kakao regeneratif di Aceh Tenggara selama 18 bulan.</p>
<p>Untuk mempercepat pelaksanaan di lapangan, Sugata menggandeng KOLTIVA sebagai mitra pelaksana, menghadirkan keahlian dalam penerapan sistem ketertelusuran digital, pelatihan di tingkat petani, serta pengambilan keputusan berbasis data. Melalui lima pilar kegiatan utama — Gender Action Learning System (GALS), Pengelolaan Lahan Percontohan, Pertanian Regeneratif dan Agroforestri, Pengelolaan Limbah Kakao, serta Pemantauan Emisi Gas Rumah Kaca (GHG Monitoring) — kolaborasi ini menanamkan prinsip keberlanjutan di setiap kebun dan setiap keputusan petani.</p>
<p>“Yang kami bangun bersama Sugata, Unilever, dan FCDO di Aceh bukan sekadar proyek, melainkan cetak biru masa depan industri kakao berkelanjutan,” ujar Joe Keen Poon, Executive Chairman of the Board KOLTIVA. “Bagi kami, petani kecil berhak mendapatkan lebih dari sekadar kepatuhan regulasi; mereka berhak atas teknologi, pelatihan, dan kesempatan yang adil untuk berkembang di pasar global. Dengan menghubungkan data lapangan secara real-time, pengambilan keputusan inklusif gender, dan pemantauan karbon dalam satu sistem, kami membuktikan bahwa regenerasi dan profitabilitas dapat berjalan beriringan — bahkan, keduanya adalah satu-satunya jalan ke depan.”</p>
<p>Sejak akhir 2024, Sugata dan KOLTIVA telah mengembangkan kurikulum pelatihan, membangun lahan percontohan, dan melatih pelatih utama untuk mempercepat implementasi di lapangan. Dalam satu tahun pertama, lebih dari 500 petani kakao di 21 desa telah mendapatkan pelatihan melalui KoltiSkills, 10 lahan percontohan regeneratif didirikan dengan pemantauan emisi langsung, serta lima unit biochar dipasang untuk mengubah limbah kakao menjadi kompos, mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia. Selain itu, 173 lahan telah disurvei untuk pemantauan emisi GHG, sementara lebih dari 100 rumah tangga kini menerapkan pengambilan keputusan inklusif gender melalui pendekatan GALS.</p>


<p>“Sugata menunjukkan komitmen kuat untuk mendorong perubahan sosial dan lingkungan positif di sektor pertanian,” ujar Jessica Pauline, Country Lead Finance &amp; Business Development Unilever Indonesia. “Perusahaan berdampak seperti Sugata berperan penting dalam menjawab tantangan keberlanjutan global. Melalui TRANSFORM, kami tidak hanya memberikan hibah, tetapi juga memperkuat kolaborasi lintas sektor agar dampak sosial dan lingkungan dapat tumbuh secara berkelanjutan.”</p>
<p>Meski masih menghadapi tantangan seperti cuaca tidak menentu dan kesenjangan literasi digital, inisiatif ini telah menunjukkan bagaimana teknologi, data, dan partisipasi inklusif dapat membentuk masa depan baru bagi petani kakao — menghadirkan keuntungan ekonomi, manfaat lingkungan, dan ketahanan sosial yang lebih kuat bagi komunitas petani kecil di Aceh dan sekitarnya.</p>



<h3 class="css-1fe22q1">Tentang KOLTIVA</h3>
KOLTIVA merupakan perusahaan global terkemuka dalam bidang pertanian berkelanjutan dan penelusuran rantai pasokan, menawarkan solusi teknologi yang berpusat pada manusia dan dukungan solusi di lapangan dengan melakukan digitalisasi bisnis pertanian dan membantu produsen kecil beralih ke praktik berkelanjutan yang dapat ditelusuri. Sebagai penyedia teknologi global, KOLTIVA membangun rantai pasokan yang etis, transparan, dan berkelanjutan, mendukung perusahaan memperkuat ketahanan dan transparansi bisnis. KOLTIVA membantu bisnis dan pemasok mereka mematuhi peraturan yang berlaku dan tuntutan konsumen di seluruh dunia melalui solusi ketertelusuran. Beroperasi di lebih dari 94 negara dan didukung oleh jaringan kantor dukungan pelanggan di 21 negara, KOLTIVA mendukung lebih dari 19.000 perusahaan dalam membangun rantai pasokan yang transparan dan kuat serta memberdayakan lebih dari 2.000.000 produsen untuk meningkatkan kesejahteraan mereka. www.KOLTIVA.com

<strong>Press release ini juga sudah tayang di VRITIMES.</strong>

</p>]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2025/11/18/public-4-18.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="700"
				height="524">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[KOLTIVA]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2025/11/18/public-4-18-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[KOLTIVA]]></media:description>
													<media:copyright>Tim Press Release</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>40% Petani Sawit Indonesia Hadapi Tantangan Sertifikasi dan Ketertelusuran di EUDR</title>
		<link>https://bisnis.cilacap.info/ci-82245/40-petani-sawit-indonesia-hadapi-tantangan-sertifikasi-dan-ketertelusuran-di-eudr</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Press Release]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 04 Nov 2025 19:17:02 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[koltiva]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bisnis.cilacap.info/ci-82245/40-petani-sawit-indonesia-hadapi-tantangan-sertifikasi-dan-ketertelusuran-di-eudr</guid>

					<description><![CDATA[<div class="css-13a4yla">JAKARTA,  aria-label="Bisnis Cilacap.info">CILACAP.INFO &#8211; Sekitar 40% lahan sawit Indonesia dikelola oleh petani kecil, namun sebagian besar masih belum terdaftar dan belum terdaftar (Mongabay, 2023). Kesiapan digital untuk ketertelusuran dan sertifikasi menjadi semakin penting seiring dengan upaya produsen memenuhi standar RSPO dan ISPO, serta mematuhi EU Deforestation Regulation (EUDR). Meskipun terdapat pembahasan mengenai kemungkinan penundaan, belum ada konfirmasi resmi terkait penundaan tenggat waktu Desember 2025. Sertifikasi dan ketertelusuran kini menjadi “paspor baru” untuk akses pasar global, dan platform digital seperti KoltiTrace dan KoltiSkills membantu petani kecil mempersiapkan kepatuhan terhadap standar ISPO dan RSPO. Koltiva mendorong transparansi dan inklusi melalui platform KoltiTrace, melalui dukungan. terhadap inisiatif Sustainable Landscape Platform Indonesia (SLPI) dan Multi-Stakeholder Forum (MSF) bersama UNDP, SECO, dan pemerintah daerah.</div>
<div class="article-container css-1i68010">
<div class="css-1yvie82">
Lebih dari 40% area perkebunan sawit Indonesia dikelola oleh petani kecil independent yang sebagian besar masih berada di luar sistem ketertelusuran dan sertifikasi formal (Mongabay, 2023). Kesenjangan ini membatasi akses mereka ke pasar berkelanjutan dan menimbulkan risiko kepatuhan bagi rantai pasok secara keseluruhan. Ketika negara importir global memperketat standar keberlanjutan melalui kebijakan seperti EUDR, Indonesia dihadapkan pada tantangan penting, yaitu mengintegrasikan jutaan petani kecil ke dalam rantai pasok yang transparan, tertelusur, dan inklusif agar tetap kompetitif di pasar global. Oleh karena itu, ketertelusuran digital dan kesiapan sertifikasi menjadi hal yang sangat penting, terlebih di tengah pembahasan kemungkinan penundaan EUDR, meskipun belum ada konfirmasi resmi terkait tenggat waktu Desember 2025 (Koltiva, 2025).]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<strong>JAKARTA, </strong><a href="https://bisnis.cilacap.info" aria-label="Bisnis Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Sekitar 40% lahan sawit Indonesia dikelola oleh petani kecil, namun sebagian besar masih belum terdaftar dan belum terdaftar (Mongabay, 2023). Kesiapan digital untuk ketertelusuran dan sertifikasi menjadi semakin penting seiring dengan upaya produsen memenuhi standar RSPO dan ISPO, serta mematuhi EU Deforestation Regulation (EUDR). Meskipun terdapat pembahasan mengenai kemungkinan penundaan, belum ada konfirmasi resmi terkait penundaan tenggat waktu Desember 2025. Sertifikasi dan ketertelusuran kini menjadi “paspor baru” untuk akses pasar global, dan platform digital seperti KoltiTrace dan KoltiSkills membantu petani kecil mempersiapkan kepatuhan terhadap standar ISPO dan RSPO. Koltiva mendorong transparansi dan inklusi melalui platform KoltiTrace, melalui dukungan. terhadap inisiatif Sustainable Landscape Platform Indonesia (SLPI) dan Multi-Stakeholder Forum (MSF) bersama UNDP, SECO, dan pemerintah daerah.


<p>Lebih dari 40% area perkebunan sawit Indonesia dikelola oleh petani kecil independent yang sebagian besar masih berada di luar sistem ketertelusuran dan sertifikasi formal (Mongabay, 2023). Kesenjangan ini membatasi akses mereka ke pasar berkelanjutan dan menimbulkan risiko kepatuhan bagi rantai pasok secara keseluruhan. Ketika negara importir global memperketat standar keberlanjutan melalui kebijakan seperti EUDR, Indonesia dihadapkan pada tantangan penting, yaitu mengintegrasikan jutaan petani kecil ke dalam rantai pasok yang transparan, tertelusur, dan inklusif agar tetap kompetitif di pasar global. Oleh karena itu, ketertelusuran digital dan kesiapan sertifikasi menjadi hal yang sangat penting, terlebih di tengah pembahasan kemungkinan penundaan EUDR, meskipun belum ada konfirmasi resmi terkait tenggat waktu Desember 2025 (Koltiva, 2025).</p>
<p><b>Kesenjangan Sertifikasi dan Ketertelusuran</b></p>
<p>Secara global, petani kecil yang mengelola kurang dari 50 hektare menghasilkan hingga 30% minyak sawit mentah dunia dan mencakup hampir sepertiga dari total area perkebunan sawit (Chain Action Research, 2021; RSPO, 2022). Faktanya, hanya 7% pabrik bersertifikat di Indonesia yang bermitra dengan petani kecil independen, dan kurang dari 1% dari mereka telah memperoleh sertifikasi RSPO atau ISPO. Di Provinsi Riau yang merupakan salah satu sentra produksi sawit terbesar di Indonesia, perkebunan petani independen mencakup 1,61 juta hektare, tetapi hanya 0,48% (7.798 ha) yang telah bersertifikat RSPO. Hal ini menunjukkan kesenjangan inklusi yang signifikan. Kekurangan data ini bukan hanya persoalan sertifikasi, melainkan juga mencerminkan minimnya visibilitas dan inklusi sistemik. Petani yang tidak terdaftar tetap terpinggirkan dari program keberlanjutan dan peluang hilir, sementara perusahaan menghadapi risiko kepatuhan dan hambatan pasar.</p>


<p><b>Ketertelusuran Digital: Dari Kepatuhan ke Peluang</b></p>
<p>Aspek legalitas dan ketertelusuran kini menjadi syarat utama untuk mengakses pasar ekspor premium. Di bawah EUDR dan kebijakan serupa, produsen harus membuktikan lokasi kebun (plot-level geolocation), legalitas lahan, serta rantai pasok yang dapat ditelusuri penuh hingga ke kebun (TTP). Bagi Indonesia, dengan rantai pasok yang kompleks dan banyak perantara, hal ini menuntut pendaftaran produsen yang terverifikasi, transaksi yang transparan, dan rantai pasok tanpa celah dari kebun hingga pabrik.</p>
<p>“Kami telah melihat bagaimana digitalisasi dan model kolaboratif dapat mengubah kepatuhan dari beban menjadi peluang. Namun dampak jangka panjang hanya dapat tercapai jika semua pemangku kepentingan bekerja bersama, memastikan tidak ada petani kecil yang tertinggal dalam transisi menuju rantai pasok berkelanjutan,” kata Jusupta Tarigan, Senior Program Manager di Koltiva.</p>
<p>Koltiva, perusahaan AgriTech asal Swiss-Indonesia, mengembangkan KoltiTrace, platform ketertelusuran digital yang memetakan produsen, memantau data di tingkat kebun, dan memverifikasi transaksi secara real time. Di Indonesia, sistem KoltiTrace telah memberdayakan lebih dari 2.600 bisnis di sepanjang rantai pasok sawit dan mendaftarkan lebih dari 178.000 petani, meningkatkan transparansi dan inklusi di setiap tahap produksi.</p>
<p>Koltiva juga berkolaborasi dengan UNDP, SECO, Swisscontact, dan pemerintah daerah untuk memperkuat pemberdayaan produsen melalui pengambilan keputusan berbasis data dan manajemen rantai pasok inklusif, sebagaimana ditunjukkan melalui Dashboard Multi-Stakeholder Forum (MSF) di Aceh Singkil (InfoSawit, 2025).</p>
<p><b>Kolaborasi Melalui SLPI dan MSF: Membangun Infrastruktur Digital Sawit Berkelanjutan</b></p>
<p>Koltiva mendorong transparansi dan inklusi melalui keterlibatan aktif dalam Sustainable Landscape Platform Indonesia (SLPI) serta inisiatif Multi-Stakeholder Forum (MSF) yang menyatukan lembaga pemerintah, sektor swasta, LSM, dan kelompok tani untuk menyelaraskan tujuan keberlanjutan. Melalui kolaborasi dengan UNDP, SECO, dan pemerintah daerah, Koltiva membantu membangun sistem data terintegrasi, memperkuat kesiapan sertifikasi, dan memperluas produksi sawit berkelanjutan di wilayah-wilayah utama.</p>
<p>Salah satu hasilnya adalah Dashboard MSF yang didukung oleh KoltiTrace MIS, yang memungkinkan pemerintah daerah seperti Kabupaten Aceh Singkil mengoordinasikan aksi, memantau indikator keberlanjutan, dan menerbitkan laporan kemajuan secara transparan.</p>
<p>Dengan partisipasi 9 LSM dan 8 lembaga pemerintah, dashboard ini meningkatkan akuntabilitas, kepercayaan investor, serta produktivitas, sekaligus mengurangi risiko deforestasi.</p>
<p>“Banyak perusahaan di Indonesia kini mengadopsi teknologi untuk memenuhi standar keberlanjutan dan mengintegrasikannya ke dalam rantai nilai mereka. Ketertelusuran digital bukan sekadar alat kepatuhan, tetapi fondasi ketahanan ekonomi. Dengan memberdayakan petani melalui data, kita menciptakan visibilitas yang mendorong nilai, transparansi, dan akses ke pasar premium,” ungkap Ainu Rofiq, Co-Founder Koltiva.</p>
<p>Kolaborasi lintas industri tetap menjadi kunci untuk menutup kesenjangan data yang membuat jutaan produsen tak terlihat. Dengan menggabungkan data kebun yang terverifikasi, ketertelusuran digital, dan dukungan sertifikasi, Indonesia dapat memperkuat posisinya di pasar global sekaligus memastikan kesejahteraan petani kecil.</p>
<p>Pemerintah juga menegaskan bahwa integrasi petani kecil melalui data dan sertifikasi sejalan dengan prioritas nasional untuk daya saing, ketahanan pangan, dan penguatan industri hilir.</p>
<p>“Pemerintah terus berupaya meningkatkan daya saing sektor sawit Indonesia melalui implementasi regulasi ISPO. Kami mengapresiasi inisiatif multi-pihak yang mendukung agenda nasional untuk produksi sawit berkelanjutan, kemandirian pangan, dan pengembangan hilirisasi, termasuk dukungan bagi pemerintah daerah serta pendataan petani kecil,” kata Moch. Edy Yusuf, Asisten Deputi BUMN Bidang Industri Manufaktur, Agro, Farmasi, dan Kesehatan, Kemenko Perekonomian RI, dalam webinar Bincang &amp; Tanggap SLPI yang diselenggarakan oleh UNDP bertema “Driving Sustainable Growth in Palm Oil Through Landscape Innovation and Downstream Opportunities”. Webinar ini menyoroti capaian MSF Dashboard untuk proyek LASR (Leuser Alas-Singkil River-basin) dan rencana dukungannya terhadap inisiatif Sustainable Palm Oil Governance 2024–2026.</p>
<p>Seiring berkembangnya wacana global mengenai deforestasi dan transparansi rantai pasok, Indonesia memiliki peluang untuk memimpin melalui inklusi.</p>
<p>Pada tahun 2030, Indonesia berpotensi membuka miliar dolar nilai ekspor yang patuh regulasi jika seluruh pihak, mulai dari pemerintah hingga petani, berkomitmen untuk membawa para produsen yang “tidak terlihat” menjadi bagian dari ekosistem berkelanjutan.</p>



<h3 class="css-1fe22q1">Tentang KOLTIVA</h3>
KOLTIVA adalah perusahaan global penyedia solusi teknologi dan lapangan berbasis manusia yang membantu bisnis agrikultur dan petani kecil beralih ke praktik berkelanjutan dan sumber yang dapat ditelusuri. Sebagai penyedia teknologi global, Koltiva membangun rantai pasok yang etis, transparan, dan berkelanjutan, membantu perusahaan dan pemasoknya mematuhi regulasi serta permintaan konsumen di seluruh dunia. Beroperasi di lebih dari 94 negara dan didukung oleh jaringan kantor di 21 negara, Koltiva berkomitmen membantu lebih dari 19.000 perusahaan membangun rantai pasok yang transparan dan kuat, sekaligus memberdayakan lebih dari 2 juta petani untuk meningkatkan pendapatan tahunan mereka.

<strong>Press release ini juga sudah tayang di VRITIMES.</strong>

<figure></figure>


</p>]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2025/11/05/public-37.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="700"
				height="525">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[KOLTIVA]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2025/11/05/public-37-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[KOLTIVA]]></media:description>
													<media:copyright>Tim Press Release</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>82% Target Net Zero Belum Terverifikasi Data Emisi Scope 3, Jadi Isu Kritis dalam Strategi Iklim Korporasi</title>
		<link>https://bisnis.cilacap.info/ci-80846/82-target-net-zero-belum-terverifikasi-data-emisi-scope-3-jadi-isu-kritis-dalam-strategi-iklim-korporasi</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Press Release]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 28 Sep 2025 15:09:40 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[koltiva]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bisnis.cilacap.info/ci-80846/82-target-net-zero-belum-terverifikasi-data-emisi-scope-3-jadi-isu-kritis-dalam-strategi-iklim-korporasi</guid>

					<description><![CDATA[JAKARTA,  aria-label="Bisnis Cilacap.info">CILACAP.INFO &#8211; Meskipun ambisi keberlanjutan korporasi semakin meningkat, sebagian besar target Net Zero belum diverifikasi. Di Asia-Pasifik, meski 53% perusahaan telah berkomitmen pada Net Zero, namun hanya 18% yang telah divalidasi oleh Science-Based Targets initiative (SBTi), menurut Laporan Iklim PwC 2025. Tanpa data Scope 3 yang kredibel, komitmen ini berisiko dianggap sebagai ‘greenwashing’.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JAKARTA</strong>, <a href="https://bisnis.cilacap.info" aria-label="Bisnis Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Meskipun ambisi keberlanjutan korporasi semakin meningkat, sebagian besar target Net Zero belum diverifikasi. Di Asia-Pasifik, meski 53% perusahaan telah berkomitmen pada Net Zero, namun hanya 18% yang telah divalidasi oleh Science-Based Targets initiative (SBTi), menurut Laporan Iklim PwC 2025. Tanpa data Scope 3 yang kredibel, komitmen ini berisiko dianggap sebagai ‘greenwashing’.</p>
<p>Di industri-industri kritis, emisi Scope 3 menyumbang lebih dari 90% total emisi. Ini mencakup dampak hulu dan hilir seperti deforestasi, penggunaan input pertanian, transportasi, dan pembuangan limbah. Namun sebagian besar perusahaan masih mengandalkan faktor emisi generik atau model berbasis pengeluaran, bukan mengumpulkan data spesifik dari pemasok dan lokasi. Ketergantungan pada data rata-rata ini menciptakan kesenjangan kredibilitas yang besar, merusak strategi iklim, dan mengekspos perusahaan pada risiko regulasi di bawah kerangka seperti EU Corporate Sustainability Reporting Directive (CSRD) dan ISO 14068.</p>
<p>KOLTIVA menjawab kesenjangan ini dengan menggabungkan sistem keterlacakan digital canggih dengan verifikasi lapangan. Melalui platform KoltiTrace MIS, Land Use Tracker, dan pengintegrasian Cool Farm Tool, KOLTIVA menyediakan data emisi yang terverifikasi sampai pada level lahan untuk rantai pasok yang terfragmentasi. Hal ini memungkinkan perusahaan tidak hanya untuk mematuhi persyaratan SBTi FLAG tetapi juga melibatkan produsen dalam aksi iklim yang nyata.</p>
<p>Studi PwC–NUS Business School (2025) mengungkapkan bahwa 53% perusahaan di Asia-Pasifik telah menetapkan target Net Zero, namun hanya 18% yang telah divalidasi secara independen oleh SBTi. Bahkan lebih sedikit perusahaan yang melaporkan emisi Scope 3, padahal emisi ini biasanya mencakup lebih dari 90% jejak iklim perusahaan.</p>
<p>Kondisi ini menciptakan kesenjangan kepercayaan yang semakin lebar. Investor semakin skeptis terhadap “target di atas kertas” tanpa bukti kemajuan nyata, sementara konsumen menuntut pembuktian bahwa klaim keberlanjutan mencerminkan realitas, bukan sekadar aspirasi. Tanpa verifikasi yang transparan, komitmen tersebut berisiko dipersepsikan sebagai greenwashing.</p>
<h2>Mengapa Scope 3 Jadi Tantangan Terbesar</h2>
<p>Emisi Scope 1 dan 2 dari fasilitas perusahaan dan energi yang dibeli relatif mudah dihitung. Namun, tantangan terbesar justru ada pada Scope 3: emisi tidak langsung yang terjadi di seluruh rantai pasok. Ini mencakup deforestasi akibat pasokan bahan baku, penggunaan pupuk di pertanian, logistik dan transportasi, hingga pembuangan produk di akhir siklus hidupnya.</p>
<p>Bagi banyak perusahaan, emisi Scope 3 bisa mencapai puluhan kali lipat dari gabungan Scope 1 dan 2 (Marketwatch, 2024). Meski demikian, sebagian besar perusahaan masih bergantung pada faktor emisi generik atau model berbasis pengeluaran. Hasilnya adalah data yang semakin dipertanyakan oleh regulator, investor, dan auditor. Ketergantungan pada angka rata-rata menyamarkan realitas rantai pasok, meningkatkan risiko terkena sanksi regulasi di bawah CSRD dan ISO 14068-1, serta membatasi akses terhadap pembiayaan iklim.</p>
<p>“Banyak perusahaan menetapkan target Net Zero yang ambisius, tetapi tantangan sebenarnya adalah bagaimana membuktikannya,” kata Andre Mawardhi, Senior Manager Agriculture and Environment di KOLTIVA. “Scope 3 tidak bisa ditangani hanya dengan estimasi. Tanpa data di tingkat lahan yang kredibel, target berisiko dianggap sekadar aspirasi namun tanpa kemajuan yang terukur.”</p>
<h2>Fakta Lapangan: Mengapa Verifikasi Penting</h2>
<p>Para ahli menekankan bahwa pengukuran Scope 3 memerlukan pergeseran dari rata-rata generik ke data yang spesifik dan kontekstual. Perubahan tata guna lahan, aplikasi pupuk, dan logistik sangat bervariasi di berbagai wilayah. Model global tunggal tidak dapat menangkap perbedaan ini. Citra satelit dan alat digital telah maju, tetapi tanpa validasi lapangan, angka-angka tetap bisa diperdebatkan. KOLTIVA menugaskan agen lapangan dan agronomis lokal yang bekerja langsung dengan petani kecil untuk memastikan data mencerminkan kenyataan.</p>
<p>“Menilai emisi bersama petani di lapangan memberi kami titik masuk untuk perubahan nyata,” tambah Andre. “Baik dengan menyesuaikan penggunaan pupuk, memperbaiki persiapan lahan, atau mengubah limbah tanaman menjadi biochar, langkah-langkah praktis ini menurunkan emisi sekaligus membangun kepercayaan. Produsen menjadi mitra iklim, bukan sekadar titik data.”</p>
<p>Pendekatan ganda ini, yang menggabungkan keterlacakan digital dengan verifikasi di tingkat lapangan, memastikan pengungkapan data mampu bertahan dari pengawasan regulator dan investor sambil mendorong perbaikan nyata di rantai pasok.</p>
<p>KOLTIVA telah mengembangkan jalur terstruktur yang mengubah ambisi iklim perusahaan menjadi aksi yang dapat diverifikasi. Pendekatan ini dimulai dengan kepatuhan dan dokumentasi terverifikasi, memetakan lahan hingga tingkat poligon untuk memastikan sumber tanpa deforestasi dan selaras dengan SBTi FLAG dan ISO 14068-1. Ini diperkuat dengan sistem keterlacakan digital KoltiTrace MIS, yang menangkap data emisi langsung dari lahan dan pemasok, bukan dari sampel terbatas. Sistem ini juga terintegrasi dengan Cool Farm Tool, kerangka kerja internasional untuk menghitung emisi gas rumah kaca di lahan, penyerapan karbon tanah, dan dampak keanekaragaman hayati.</p>
<p>Untuk menjaga integritas rantai pasok, KOLTIVA memastikan pelaporan yang transparan dan penanganan terpisah, sehingga komoditas bebas deforestasi dan rendah karbon tetap dapat ditelusuri dari asal hingga pasar. Pada saat yang sama, perusahaan memberdayakan produsen dengan alat digital, pelatihan cerdas iklim, dan insentif berbasis kinerja, memungkinkan petani mengurangi emisi langsung di sumbernya. Dengan mengintegrasikan elemen-elemen ini, KOLTIVA menjembatani kesenjangan antara realitas lapangan dan pelaporan di tingkat manajemen.</p>
<h2>Kebutuhan dan Peluang Kepatuhan</h2>
<p>Tekanan semakin meningkat seiring dengan kebutuhan pelaporan dan praktik ramah lingkungan yang semakin dituntut. Regulasi seperti EU Corporate Sustainability Reporting Directive (CSRD) mewajibkan perusahaan besar untuk mengungkapkan emisi Scope 3 dalam laporan tahunan. Perusahaan yang gagal melakukan verifikasi Scope 3 menghadapi sanksi, kerusakan reputasi, dan dikeluarkan dari akses pembiayaan dan pasar. Sebaliknya, perusahaan yang bergerak lebih awal mendapatkan keunggulan pertama dalam pengadaan dan akses investasi terkait iklim.</p>
<p>“Scope 3 adalah tempat aksi iklim benar-benar terjadi,” kata Manfred Borer, CEO dan Co-Founder KOLTIVA. “Tanpa transparansi rantai pasok, target iklim berisiko menjadi janji di atas kertas. Dengan menggabungkan teknologi dan keterlibatan lapangan, kami memastikan perusahaan tidak hanya menghitung tetapi juga mengurangi emisi mereka.”</p>
<p>“Data Scope 3 yang terverifikasi bukan hanya tentang kepatuhan, tetapi juga keunggulan kompetitif,” tambah Manfred. “Perusahaan yang mampu membuktikan pengurangan nyata akan membuka akses pembiayaan iklim, memperkuat kepercayaan konsumen, dan mengamankan posisi mereka dalam ekonomi rendah karbon.”</p>
<p>Seiring meningkatnya pengawasan atas komitmen iklim dari regulator, investor, dan konsumen, Scope 3 menjadi ujian nyata bagi klaim keberlanjutan korporasi. Data yang terverifikasi di tingkat lapangan menawarkan jalan untuk memulihkan kepercayaan dan membuktikan bahwa Net Zero lebih dari sekadar slogan.</p>
<p><strong>About KOLTIVA</strong>
KOLTIVA merupakan perusahaan global terkemuka dalam bidang pertanian berkelanjutan dan penelusuran rantai pasokan, menawarkan solusi teknologi yang berpusat pada manusia dan dukungan solusi di lapangan dengan melakukan digitalisasi bisnis pertanian dan membantu produsen kecil beralih ke praktik berkelanjutan yang dapat ditelusuri. Sebagai penyedia teknologi global, KOLTIVA membangun rantai pasokan yang etis, transparan, dan berkelanjutan, mendukung perusahaan memperkuat ketahanan dan transparansi bisnis.</p>
<p>KOLTIVA membantu bisnis dan pemasok mereka mematuhi peraturan yang berlaku dan tuntutan konsumen di seluruh dunia melalui solusi ketertelusuran. Beroperasi di lebih dari 94 negara dan didukung oleh jaringan kantor dukungan pelanggan di 21 negara, KOLTIVA mendukung lebih dari 19.000 perusahaan dalam membangun rantai pasokan yang transparan dan kuat serta memberdayakan lebih dari 1.900.000 produsen untuk meningkatkan kesejahteraan mereka. www.koltiva.com</p>
<p><strong>Press Release ini juga sudah tayang di VRITIMES</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2025/09/28/Deforestasi-berkontribusi-pada-meningkatnya-Gas-Rumah-Kaca.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="700"
				height="400">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[Deforestasi berkontribusi pada meningkatnya Gas Rumah Kaca]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2025/09/28/Deforestasi-berkontribusi-pada-meningkatnya-Gas-Rumah-Kaca-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[Deforestasi berkontribusi pada meningkatnya Gas Rumah Kaca]]></media:description>
													<media:copyright>Tim Press Release</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Petakan 15 Ribu Lahan dan Verifikasi 4.500 Petani, G T Rubber Thailand dan KOLTIVA Pastikan Rantai Pasok Karet Bebas Deforestasi</title>
		<link>https://bisnis.cilacap.info/ci-79148/petakan-15-ribu-lahan-dan-verifikasi-4-500-petani-g-t-rubber-thailand-dan-koltiva-pastikan-rantai-pasok-karet-bebas-deforestasi</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Press Release]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 19 Aug 2025 02:54:09 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[koltiva]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bisnis.cilacap.info/ci-79148/petakan-15-ribu-lahan-dan-verifikasi-4-500-petani-g-t-rubber-thailand-dan-koltiva-pastikan-rantai-pasok-karet-bebas-deforestasi</guid>

					<description><![CDATA[JAKARTA,  aria-label="Bisnis Cilacap.info">CILACAP.INFO &#8211; Lebih dari 90% karet alami dunia dibudidayakan oleh petani kecil, namun banyak dari mereka masih belum berperan aktif dalam rantai pasok formal. Thailand memimpin produksi dengan kontribusi sebesar 34%, disusul oleh Indonesia (26%), Vietnam (8%), Tiongkok (7%), dan India (7%). Sejak tahun 1993, lebih dari 4 juta hektare hutan mengalami alih fungsi untuk perluasan perkebunan karet, dan sebagian besar berada di kawasan ekosistem yang sensitif. Untuk mencegah kerusakan lebih lanjut, ketertelusuran rantai pasok (traceability) kini menjadi prioritas utama di seluruh industri. Sekitar 15.000 lahan karet telah dipetakan, dan 4.500 petani telah diverifikasi sebagai bagian dari inisiatif penelusuran yang dilakukan oleh G T Rubber yang bekerja sama dengan perusahaan AgriTech asal Indonesia, KOLTIVA. Upaya ini juga melibatkan pelatihan kepada 200 pedagang terkait kepatuhan terhadap regulasi EUDR, guna mencegah masuknya karet yang tidak terverifikasi ke dalam rantai pasok.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JAKARTA, </strong><a href="https://bisnis.cilacap.info" aria-label="Bisnis Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Lebih dari 90% karet alami dunia dibudidayakan oleh petani kecil, namun banyak dari mereka masih belum berperan aktif dalam rantai pasok formal. Thailand memimpin produksi dengan kontribusi sebesar 34%, disusul oleh Indonesia (26%), Vietnam (8%), Tiongkok (7%), dan India (7%). Sejak tahun 1993, lebih dari 4 juta hektare hutan mengalami alih fungsi untuk perluasan perkebunan karet, dan sebagian besar berada di kawasan ekosistem yang sensitif. Untuk mencegah kerusakan lebih lanjut, ketertelusuran rantai pasok (traceability) kini menjadi prioritas utama di seluruh industri. Sekitar 15.000 lahan karet telah dipetakan, dan 4.500 petani telah diverifikasi sebagai bagian dari inisiatif penelusuran yang dilakukan oleh G T Rubber yang bekerja sama dengan perusahaan AgriTech asal Indonesia, KOLTIVA. Upaya ini juga melibatkan pelatihan kepada 200 pedagang terkait kepatuhan terhadap regulasi EUDR, guna mencegah masuknya karet yang tidak terverifikasi ke dalam rantai pasok.</p>
<p>Thailand, salah satu produsen karet alam terbesar di dunia, tengah hadapi transformasi besar seiring meningkatnya tekanan regulasi dan permintaan pasar akan ketertelusuran dan keberlanjutan. G T Rubber berada di garis depan perubahan ini, denganmenggandeng perusahaan agritech asal Indonesia KOLTIVA untuk menerapkan sistem ketertelusuran dan manajemen risiko yang ketat, sejalan dengan European Union Deforestation Regulation (EUDR). Kolaborasi ini bertujuan membangun sistem menyeluruh yang mampu merekam, memverifikasi, dan memantau produksi karet dari petani kecil hingga tahap ekspor.</p>
<p><b>Fragmentasi, Agregasi, dan Tantangan Ketertelusuran </b></p>
<p>Lebih dari 90% karet alam global diproduksi oleh petani kecil di Asia Tenggara, sebagian besar berada di luar rantai pasok formal dan memiliki hubungan terbatas dengan pabrik pengolah maupun pembeli (SPOTT, 2022). Thailand menjadi produsen terbesar dengan pangsa 34%, disusul Indonesia (26%), Vietnam (8%), Tiongkok (7%), dan India (7%). Meski sektor ini menopang jutaan mata pencaharian, ekspansinya yang pesat turut mendorong deforestasi, hilangnya keanekaragaman hayati, serta konflik kepemilikan tanah. Rantai distribusi yang terfragmentasi menambah rumitnya rantai pasok, sehingga upaya menerapkan ketertelusuran dan prinsip keberlanjutan menjadi sangat menantang.</p>
<p>Sebuah studi tahun 2023 dari Nature Journal menegaskan urgensi persoalan ini: lebih dari 4 juta hektare hutan (setara dengan luas negara Swiss) telah dibuka untuk perkebunan karet sejak 1993, dan setengah dari luasan tersebut terjadi setelah tahun 2000, banyak di antaranya berada di kawasan yang secara ekologis sangat sensitif. Jejak lingkungan dari sektor ini sangat besar, namun karet masih belum banyak dibahas dalam wacana global tentang deforestasi.</p>
<p>Seiring perkembangan regulasi perdagangan internasional, kemampuan untuk memverifikasi asal-usul bahan baku—hingga ke tingkat petani—akan menjadi faktor penentu bagi eksportir yang ingin tetap mengakses pasar global yang bernilai tinggi.</p>
<p><b>Infrastruktur Berbasis Data di Tingkat Petani </b></p>
<p>G T Rubber mendorong ketertelusuran dan manajemen risiko yang lebih baik dengan mengadopsi sistem digital dari KOLTIVA. Sistem ini memverifikasi legalitas lahan, menilai risiko deforestasi, dan menghubungkan data dari tingkat petani langsung ke transaksi sumber pasok. Kumpulan data yang sangat detail ini membentuk kerangka utama kepatuhan G T Rubber, yang memungkinkan pemantauan secara real-time dan pendeteksian risiko secara dini.</p>
<p>Yang tak kalah penting, sistem ini juga mempersiapkan perusahaan memenuhi persyaratan integrasi dengan sistem informasi Uni Eropa yang akan datang (EU Information System / EUIS), yang mewajibkan pelaporan geolokasi dan uji tuntas (due diligence) secara mendalam.</p>
<p>Hingga saat ini, lebih dari 15.000 lahan petani kecil di Thailand telah dipetakan dalam bentuk poligon, dengan lebih dari 4.500 petani karet telah diverifikasi melalui analisis geospasial, pemeriksaan hak atas lahan, dan penilaian risiko deforestasi. Seluruh data yang telah tervalidasi ini terhubung langsung ke transaksi sumber pasok dalam sebuah Sistem Informasi Manajemen (MIS) terpusat, memungkinkan tim kepatuhan G T Rubber untuk melacak, menilai, dan merespons risiko secara real-time.</p>
<p>Dirancang agar selaras dengan sistem informasi Uni Eropa yang akan datang (EUIS), sistem ini mendukung pelacakan geolokasi secara rinci dan pelaporan uji tuntas—dua komponen utama dalam regulasi EUDR. Dengan mengonsolidasikan proses verifikasi dan pemantauan dalam satu platform, G T Rubber memperkuat transparansi sekaligus meningkatkan kesiapan menghadapi dinamika regulasi keberlanjutan global.</p>
<p>“Deforestasi yang terkait dengan komoditas karet sering kali dipandang sebelah mata, padahal datanya menunjukkan jutaan hektare hutan telah hilang dalam dua dekade terakhir. Untuk tetap dapat mengakses pasar internasional, kita harus melakukan hal nyata dan mulai membangun sistem yang menghasilkan data lapangan yang dapat diverifikasi dan ditindaklanjuti. Hanya melalui data tersebut kita dapat membuktikan apa yang benar-benar terjadi di lapangan,” ujar Manfred Borer, CEO dan Co-Founder KOLTIVA.</p>
<p>“EUDR dan regulasi serupa bukanlah hambatan sementara namun sekaligus arah masa depan perdagangan global. Bagi pelaku usaha, kemampuan untuk menunjukkan ketertelusuran hingga ke tingkat petani kini menjadi bagian penting dari ketahanan jangka panjang. Ini bukan sekadar soal mematuhi aturan hari ini, tapi memastikan rantai pasok kita mampu beradaptasi dengan ekspektasi masa depan,” tegasnya.</p>
<p>Tantangan di Tingkat Mitra Rantai Pasok: Pelatihan dan Sistem Segregasi sebagai Solusi Mitigasi</p>
<p>Mitra rantai pasok sering kali menjadi titik paling rentan dalam upaya kepatuhan, terutama karena beroperasi di wilayah terpencil dengan infrastruktur digital yang terbatas serta minim pemahaman terhadap tuntutan regulasi baru. Lebih dari 200 mitra rantai pasok dalam jaringan G T Rubber telah mengikuti pelatihan terstruktur melalui program peningkatan kapasitas. Pelatihan ini menggabungkan literasi regulasi dengan penerapan praktis di lapangan, dilengkapi dengan panduan langsung serta evaluasi sebelum dan sesudah pelatihan untuk mengukur pemahaman mereka terhadap EUDR dan praktik ketertelusuran.</p>
<p>Selain itu, sistem pelabelan disediakan untuk mendukung pemisahan karet yang telah terverifikasi dan yang belum, serta protokol pengadaan diterapkan guna mencegah kontaminasi terhadap pasokan yang telah diverifikasi.</p>
<p>“Data petani saja tidak cukup untuk memastikan kepatuhan. Jika mitra rantai pasok mencampurkan karet yang tidak terverifikasi ke dalam pasokan, maka seluruh produk beserta kredibilitas sistem ketertelusuran akan dipertanyakan,” ujar Olivier Barents, Senior Head of Marketing APAC di KOLTIVA. “Risikonya yaitu pengiriman yang tidak patuh bisa berujung pada sanksi mahal atau penolakan masuk pasar. Karena itu, kami memprioritaskan ketertelusuran tidak hanya di tingkat petani, tetapi juga di antara mitra rantai pasok melalui pelatihan dan alat ketertelusuran yang tepat. Satu pengiriman yang tidak terdokumentasi bisa menutup akses pasar. Tugas kami adalah membekali pemasok dengan sistem yang mampu mendeteksi dan mengatasi risiko ini sebelum berubah menjadi pelanggaran regulasi.”</p>


<p><b>Membangun Ketertelusuran di Lapangan </b></p>
<p>Sebuah inisiatif terbaru dari G T Rubber di wilayah selatan Thailand menjadi contoh konkret dalam membangun rantai pasok karet bebas deforestasi. Program ini disusun berdasarkan kerangka keterlibatan tiga tingkatan yang dimulai dari penyelarasan strategis di tingkat korporasi, dilanjutkan dengan pelatihan bagi mitra rantai pasok lokal, serta pendampingan berkelanjutan bagi petani kecil di wilayah sumber pasok utama. Pendekatan berlapis ini memperkuat integritas data dan meningkatkan ketertelusuran pada titik-titik agregasi kritis yang kerap menjadi mata rantai paling lemah dalam transparansi rantai pasok.</p>
<p>Yang membedakan model ini adalah integrasi berbagai sistem deteksi risiko. Citra satelit, catatan penggunaan lahan nasional, dan platform peringatan dini deforestasi digabungkan untuk membentuk profil geospasial dinamis dari wilayah sumber pasok. Profil ini memungkinkan penilaian risiko yang lebih akurat dan intervensi yang lebih proaktif.</p>
<p>G T Rubber berencana memperluas inisiatif ketertelusuran ini ke lebih banyak provinsi pada tahun 2025, dengan target menjangkau setidaknya 10.000 petani kecil hingga 2027 serta meningkatkan porsi karet yang telah diverifikasi dalam total produksinya. Perusahaan juga terus bekerja sama dengan Koltiva untuk memperkuat kerangka ketertelusuran, memanfaatkan fitur digital terbaru dan analisis data untuk mengidentifikasi celah dalam sumber pasok dan memantau kinerja lapangan secara lebih efektif.</p>
<p>“Kami ingin meningkatkan daya saing untuk jangka panjang,” ujar Tanaphon Tanunpatcharapol, Managing Director di G T Rubber Company Limited. “Pembeli sekarang tidak hanya menuntut kualitas namun juga menuntut bukti bahwa bahan baku dapat ditelusuri dan bebas dari deforestasi. Itulah arah masa depan perdagangan global.”</p>



<h3 class="css-1fe22q1">Tentang KOLTIVA</h3>
KOLTIVA merupakan perusahaan global terkemuka dalam bidang pertanian berkelanjutan dan penelusuran rantai pasokan, menawarkan solusi teknologi yang berpusat pada manusia dan dukungan solusi di lapangan dengan melakukan digitalisasi bisnis pertanian dan membantu produsen kecil beralih ke praktik berkelanjutan yang dapat ditelusuri. Sebagai penyedia teknologi global, KOLTIVA membangun rantai pasokan yang etis, transparan, dan berkelanjutan, mendukung perusahaan memperkuat ketahanan dan transparansi bisnis. KOLTIVA membantu bisnis dan pemasok mereka mematuhi peraturan yang berlaku dan tuntutan konsumen di seluruh dunia melalui solusi ketertelusuran. Beroperasi di lebih dari 94 negara dan didukung oleh jaringan kantor dukungan pelanggan di 21 negara, KOLTIVA mendukung lebih dari 19.000 perusahaan dalam membangun rantai pasokan yang transparan dan kuat serta memberdayakan lebih dari 2.000.000 produsen untuk meningkatkan kesejahteraan mereka. www.koltiva.com

<strong>Press release ini juga sudah tayang di VRITIMES</strong>

</p>]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2025/08/19/public-2025-08-19T093726.559.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="700"
				height="394">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[KOLTIVA]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2025/08/19/public-2025-08-19T093726.559-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[KOLTIVA]]></media:description>
													<media:copyright>Tim Press Release</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Baru 12 % Perusahaan Hilir Gunakan Sistem Ketertelusuran, KOLTIVA Dorong Segregasi Inklusif Agar Petani Tidak Tersisih</title>
		<link>https://bisnis.cilacap.info/ci-78191/baru-12-perusahaan-hilir-gunakan-sistem-ketertelusuran-koltiva-dorong-segregasi-inklusif-agar-petani-tidak-tersisih</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Press Release]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 24 Jul 2025 04:29:03 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[koltiva]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bisnis.cilacap.info/ci-78191/baru-12-perusahaan-hilir-gunakan-sistem-ketertelusuran-koltiva-dorong-segregasi-inklusif-agar-petani-tidak-tersisih</guid>

					<description><![CDATA[JAKARTA,  aria-label="Bisnis Cilacap.info">CILACAP.INFO &#8211; Hanya 30% perusahaan hulu dan 12% perusahaan hilir yang memiliki sistem ketertelusuran, membuat sebagian besar rantai pasok belum siap menghadapi implementasi EUDR. Dengan mulai diberlakukannya Regulasi Anti Deforestasi Uni Eropa (EUDR), segregasi produk menjadi tantangan krusial, terutama untuk rantai pasok berbasis petani kecil yang kompleks. Penerapan sistem digital dan protokol pemisahan yang ketat di lapangan sangat penting untuk mencegah pencampuran antara komoditas yang patuh dan tidak patuh terhadap EUDR. Pelatihan, pendampingan, dan penguatan kapasitas yang dilakukan oleh KOLTIVA menjadi kunci agar perusahaan, petani, dan perantara dapat menerapkan segregasi tanpa mengecualikan komunitas petani kecil.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JAKARTA</strong>, <a href="https://bisnis.cilacap.info" aria-label="Bisnis Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Hanya 30% perusahaan hulu dan 12% perusahaan hilir yang memiliki sistem ketertelusuran, membuat sebagian besar rantai pasok belum siap menghadapi implementasi EUDR. Dengan mulai diberlakukannya Regulasi Anti Deforestasi Uni Eropa (EUDR), segregasi produk menjadi tantangan krusial, terutama untuk rantai pasok berbasis petani kecil yang kompleks. Penerapan sistem digital dan protokol pemisahan yang ketat di lapangan sangat penting untuk mencegah pencampuran antara komoditas yang patuh dan tidak patuh terhadap EUDR. Pelatihan, pendampingan, dan penguatan kapasitas yang dilakukan oleh KOLTIVA menjadi kunci agar perusahaan, petani, dan perantara dapat menerapkan segregasi tanpa mengecualikan komunitas petani kecil.</p>
<p>Menjelang berlakunya Regulasi Deforestasi Uni Eropa (EUDR) di akhir tahun, rantai pasok global dinilai masih jauh dari kesiapan, khususnya dalam memenuhi ketentuan ketertelusuran dan segregasi yang ketat. Analisis Forbes 2025 menunjukkan bahwa meski komitmen tanpa deforestasi makin umum diadopsi, hanya 30% pemasok hulu dan 12% pelaku hilir yang memiliki sistem pelacakan risiko deforestasi. Hal ini turut menimbulkan resiko pada perdagangan menuju pasar Uni Eropa.</p>
<p>Salah satu ancaman paling mendesak, namun kerap diremehkan, dalam kepatuhan terhadap EUDR adalah tercampurnya komoditas yang patuh dan tidak patuh—baik karena kelalaian maupun kelemahan operasional di sepanjang proses transportasi, pengumpulan, hingga perdagangan. Regulasi ini mewajibkan pemisahan yang ketat atas barang yang berasal dari lahan patuh dan tidak patuh (termasuk asal-usul yang tidak diketahui), dari titik panen hingga ekspor. Kegagalan menjaga segregasi fisik ini dapat menyebabkan penolakan atas pengiriman masuk ke Uni Eropa.</p>
<p>KOLTIVA, perusahaan AgriTech asal Swiss-Indonesia yang berfokus pada ketertelusuran dan keberlanjutan rantai pasok, menekankan bahwa segregasi—pemisahan fisik dan prosedural antara komoditas patuh dan tidak patuh EUDR—merupakan tantangan besar yang sering terabaikan. Tanpa tindakan segera, banyak perusahaan agribisnis terancam kehilangan akses ke pasar Uni Eropa.</p>
<p>Komoditas yang dinyatakan patuh terhadap EUDR harus memenuhi kriteria ketat, termasuk bukti kepemilikan lahan, bebas deforestasi, dan titik koordinat lahan yang akurat. Komoditas dari lahan yang mengalami deforestasi setelah 31 Desember 2020, atau yang tidak memiliki ketertelusuran yang dapat diverifikasi, dianggap tidak patuh dan harus dipisahkan secara menyeluruh. Jika terjadi pencampuran—baik dari kebun yang belum terdaftar maupun dari sumber yang tidak jelas—maka seluruh pengiriman akan ditolak oleh pasar Uni Eropa.</p>
<p>Tantangan semakin kompleks mengingat panjangnya rantai pasok global, di mana keterlibatan banyak perantara dan minimnya dokumentasi menyulitkan proses pelacakan komoditas hingga ke sumbernya. Di sinilah pentingnya segregasi, bukan hanya untuk kepatuhan, namun juga sebagai strategi mitigasi risiko. KOLTIVA mendukung tim lapangan dengan aplikasi KoltiTrace untuk memastikan transparansi. Pendekatan metodologinya mencakup tiga tingkat analisis ketertelusuran—berbasis spasial, berbasis risiko (spasial dan survei), dan kepatuhan penuh (verifikasi lapangan menyeluruh)—untuk membantu perusahaan menjaga keamanan rantai pasok dan mencegah komoditas tidak patuh masuk ke pasar.</p>
<p>Andre Mawardhi, Senior Manager Agriculture and Environment di KOLTIVA, menyoroti tantangan unik dalam rantai pasok petani kecil. “Mewujudkan segregasi fisik penuh saat memasok dari petani kecil adalah tantangan besar. Rantai pasok ini sangat kompleks, dengan banyak titik risiko pencampuran, dan sering kali masih ada lahan yang belum dipetakan sepenuhnya. Beberapa perusahaan mungkin memilih menghentikan pasokan dari petani kecil demi menyederhanakan kepatuhan, namun pendekatan ini justru berisiko meminggirkan petani yang sangat penting bagi produksi komoditas berkelanjutan. Perusahaan harus cermat menyeimbangkan antara kepatuhan dan inklusi,” jelasnya.</p>
<p>Bagi petani kecil, segregasi menjadi jauh lebih rumit. Banyak dari mereka mengelola beberapa lahan—sebagian telah patuh, sebagian tidak. Tanpa praktik segregasi yang andal, risiko pencampuran hasil panen sangat tinggi dan dapat menyebabkan seluruh hasil tidak diterima pasar Uni Eropa.</p>
<p>“Kami mengelola lebih dari satu kebun, dan sebagian sudah dipetakan oleh KOLTIVA,” ujar Rahman Sarwono, petani karet di Kutai Barat, Kalimantan Timur. “Pemetaan ini membantu kami memahami batas kebun. Jika kami dilatih memisahkan panen dari kebun yang sudah dan belum dipetakan—yang patuh dan tidak patuh—itu sangat membantu kami dan komunitas dalam memenuhi regulasi.” Rahman menambahkan, “Sebagai petani, kami berkomitmen untuk patuh. Tapi kami juga butuh dukungan, pelatihan, dan edukasi agar bisa melaksanakan regulasi ini dengan benar. Kalau sampai salah sedikit saja, kami bisa kehilangan akses pasar sepenuhnya.”</p>
<p>Menurut Andre, mengatasi tantangan ini butuh pendekatan sistematis dan bertahap. Pertama, pastikan Verifikasi Kepatuhan dan Dokumentasi di semua pelaku rantai pasok. Ini mencakup pemetaan lahan legal, verifikasi bebas deforestasi, dan kepatuhan terhadap standar lingkungan, sosial, dan antikorupsi. Pemisahan fisik dan dokumentasi harus dijaga dari asal hingga ekspor. Kedua, Terapkan Sistem Ketertelusuran untuk memverifikasi sumber yang bebas deforestasi. Poligon lahan yang akurat dan penggunaan aplikasi digital seperti KoltiTrace memungkinkan pelacakan dari hulu ke hilir. Pengumpulan data berbasis agen di lapangan memperkuat kredibilitas dan transparansi.</p>
<p>Ketiga, Bangun Infrastruktur Penanganan dan Penyimpanan Tersegregasi. Gunakan gudang terpisah, unit transportasi khusus, dan sistem label yang konsisten untuk menjaga keaslian bahan patuh. Kontrol operasional yang jelas sangat penting untuk memastikan pemisahan fisik. Keempat, Sediakan Pelatihan dan Pemantauan Lapangan bagi petani, pengepul, dan pemasok untuk memastikan praktik segregasi dipahami dan diterapkan. Pemantauan rutin diperlukan untuk menilai kepatuhan dan menutup celah implementasi.</p>
<p>Indryani Bali, Project Leader sektor karet di KOLTIVA, menambahkan, “Segregasi untuk kepatuhan EUDR tidak boleh mengorbankan inklusi petani kecil. Karena itu, KOLTIVA berfokus pada penguatan kapasitas lokal—dari pelatihan petani dan pengepul hingga menyediakan data ketertelusuran secara real-time. Kami membangun sistem yang dapat dilacak dan tetap inklusif.” Menjelang pemberlakuan EUDR, perusahaan harus menjadikan segregasi dan sistem ketertelusuran sebagai prioritas utama. Kegagalan dalam hal ini tak hanya berisiko menyebabkan ketidakpatuhan, tapi juga kehilangan akses pasar dan reputasi.</p>
<p>Bagi petani kecil seperti Rahman, dukungan dari perusahaan dan pemerintah sangatlah penting. “Kami ingin menjaga hutan dan patuh pada standar EUDR,” ujar Rahman. “Tapi tanpa arahan yang jelas, kesalahan kecil pun bisa membuat kami kehilangan segalanya. Dengan dukungan yang tepat, kami siap berkontribusi—karena masa depan kami, dan lingkungan, bergantung padanya.”</p>
<h3><strong>About KOLTIVA</strong></h3>
<p>KOLTIVA merupakan perusahaan global terkemuka dalam bidang pertanian berkelanjutan dan penelusuran rantai pasokan, menawarkan solusi teknologi yang berpusat pada manusia dan dukungan solusi di lapangan dengan melakukan digitalisasi bisnis pertanian dan membantu produsen kecil beralih ke praktik berkelanjutan yang dapat ditelusuri. Sebagai penyedia teknologi global, KOLTIVA membangun rantai pasokan yang etis, transparan, dan berkelanjutan, mendukung perusahaan memperkuat ketahanan dan transparansi bisnis. KOLTIVA membantu bisnis dan pemasok mereka mematuhi peraturan yang berlaku dan tuntutan konsumen di seluruh dunia melalui solusi ketertelusuran. Beroperasi di lebih dari 65 negara dan didukung oleh jaringan kantor dukungan pelanggan di 20 negara, KOLTIVA mendukung lebih dari 19.000 perusahaan dalam membangun rantai pasokan yang transparan dan kuat serta memberdayakan lebih dari 1.900.000 produsen untuk meningkatkan kesejahteraan mereka. www.koltiva.com</p>
<p><strong>Press Release ini juga sudah tayang di VRITIMES</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2025/07/24/Baru-12-Perusahaan-Hilir-Gunakan-Sistem-Ketertelusuran-1.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="700"
				height="394">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[Baru 12 % Perusahaan Hilir Gunakan Sistem Ketertelusuran, KOLTIVA Dorong Segregasi Inklusif Agar Petani Tidak Tersisih]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2025/07/24/Baru-12-Perusahaan-Hilir-Gunakan-Sistem-Ketertelusuran-1-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[Baru 12 % Perusahaan Hilir Gunakan Sistem Ketertelusuran, KOLTIVA Dorong Segregasi Inklusif Agar Petani Tidak Tersisih]]></media:description>
													<media:copyright>Tim Press Release</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>REA Berdayakan Lebih dari 600 Petani Swadaya di Kalimantan Timur untuk Kepatuhan EUDR dan Sertifikasi RSPO dengan Dukungan Teknis dari KOLTIVA</title>
		<link>https://bisnis.cilacap.info/ci-77776/rea-berdayakan-lebih-dari-600-petani-swadaya-di-kalimantan-timur-untuk-kepatuhan-eudr-dan-sertifikasi-rspo-dengan-dukungan-teknis-dari-koltiva</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Press Release]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 15 Jul 2025 05:59:40 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[koltiva]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bisnis.cilacap.info/ci-77776/rea-berdayakan-lebih-dari-600-petani-swadaya-di-kalimantan-timur-untuk-kepatuhan-eudr-dan-sertifikasi-rspo-dengan-dukungan-teknis-dari-koltiva</guid>

					<description><![CDATA[<p class="p1"><b>KALIMANTAN TIMUR, </b> aria-label="Bisnis Cilacap.info">CILACAP.INFO<b> &#8211; </b>REA menjalankan program SHINES untuk mendukung lebih dari 600 petani swadaya di Kutai, Kalimantan Timur, dalam memperoleh sertifikasi RSPO dan memenuhi ketentuan EUDR, melalui penggunaan alat ketertelusuran dan penilaian kebun.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p class="p1"><b>KALIMANTAN TIMUR, </b><a href="https://bisnis.cilacap.info" aria-label="Bisnis Cilacap.info">CILACAP.INFO</a><b> &#8211; </b>REA menjalankan program SHINES untuk mendukung lebih dari 600 petani swadaya di Kutai, Kalimantan Timur, dalam memperoleh sertifikasi RSPO dan memenuhi ketentuan EUDR, melalui penggunaan alat ketertelusuran dan penilaian kebun.</p>
<p class="p1">Platform KoltiTrace milik KOLTIVA digunakan untuk memetakan dan memverifikasi poligon lahan pertanian di 10 koperasi di Kalimantan Timur, sebagai bagian dari dukungan terhadap program SHINES. Program ini bertujuan untuk melindungi hingga 10.000 hektare kawasan hutan serta mendukung 6 desa sasaran melalui inisiatif keanekaragaman hayati dan penghidupan. Petani swadaya juga akan memperoleh insentif pasar, pelatihan digital, dan dukungan pembayaran sebagian guna memenuhi regulasi Uni Eropa serta mengamankan akses pasar jangka panjang.</p>
<p>PT REA KALTIM PLANTATIONS (REA) terus memperkuat implementasi program SHINES (SmallHolder INclusion for Ethical Sourcing) untuk meningkatkan kesejahteraan petani swadaya melalui sertifikasi RSPO dan kepatuhan terhadap Regulasi Deforestasi Uni Eropa (EUDR). Diluncurkan pada Oktober 2024, program SHINES melibatkan kolaborasi dengan mitra korporasi untuk mendorong perubahan transformatif dan memperkuat tanggung jawab bersama di seluruh rantai pasok.</p>
<p>REA merupakan produsen minyak sawit yang telah berkomitmen terhadap produksi yang berkelanjutan dan inklusif sejak tahun 1989. Sebagai anak perusahaan dari R.E.A. Holdings PLC yang terdaftar di Bursa Efek London, REA memiliki wilayah operasi di Balikpapan dan Kalimantan Timur. Operasional REA mencakup perkebunan kelapa sawit, pabrik pengolahan minyak sawit, dan fasilitas penghancuran inti sawit, serta didukung oleh upaya konservasi hutan seluas kurang lebih 18.000 hektare. Melalui inisiatif seperti program SHINES, REA bertujuan meningkatkan kepatuhan rantai pasok yang tersertifikasi RSPO, mendorong peningkatan produktivitas, dan membuka akses pasar jangka panjang bagi petani swadaya, sejalan dengan perkembangan regulasi internasional seperti EUDR.</p>
<p>“Inklusi petani swadaya adalah kunci menuju pembangunan berkelanjutan,” ujar Bremen Yong, Group Chief Sustainability Officer REA. “SHINES merupakan inisiatif yang memiliki landasan bisnis kuat, yang menyatukan para pemangku kepentingan di seluruh rantai nilai untuk mendorong perubahan transformatif, meningkatkan kesejahteraan, dan memperkuat integritas rantai pasok,” tambahnya.</p>
<p>Melalui intervensi program, REA memastikan bahwa para produsen mematuhi regulasi internasional dan memperoleh akses yang lebih baik terhadap peluang ekonomi. Sejumlah koperasi petani swadaya di Kutai Kartanegara, yaitu Koperasi Perkebunan Belayan Sejahtera, Gotong-Royong, Tunas Harapan, Bina Wana Sejahtera, dan Karya Penoon, menerima pelatihan, dukungan teknis, serta insentif pasar bagi mereka yang memenuhi ketentuan EUDR dan standar industri. Dukungan ini bertujuan untuk memastikan kepatuhan jangka panjang serta membuka akses pasar berkelanjutan bagi petani.</p>
<p>KOLTIVA Dukung SHINES Melalui Pemetaan Petani dan Teknologi Ketertelusuran</p>
<p>Sebagai bagian dari komponen ketertelusuran dan kepatuhan dalam program ini, REA menggandeng KOLTIVA, perusahaan agritech asal Swiss-Indonesia, untuk memberikan dukungan teknis dalam pemetaan poligon lahan, evaluasi kebun, serta penerapan platform penelusuran KoltiTrace. Solusi menyeluruh ini akan membantu lebih dari 600 petani swadaya dalam memastikan kepatuhan penuh terhadap persyaratan EUDR.</p>
<p>“Kolaborasi KOLTIVA dengan REA menegaskan komitmen bersama kami dalam membangun rantai pasok minyak sawit yang tangguh dan berkelanjutan,” ujar Manfred Borer, CEO dan Co-Founder KOLTIVA. “Dengan mengintegrasikan penilaian kebun, adaptasi teknologi melalui KoltiTrace, serta pelatihan tentang Praktik Pertanian yang Baik (Good Agricultural Practices/GAP), kami membantu para produsen menghadapi lanskap regulasi yang terus berkembang sekaligus meningkatkan prospek ekonomi mereka dalam jangka panjang,” tambahnya. Pendekatan KOLTIVA menggabungkan solusi digital yang inovatif dengan intervensi langsung di lapangan, memastikan para produsen dapat menghadapi kompleksitas standar keberlanjutan global secara efektif.</p>
<p>Terkait program ini, KOLTIVA saat ini tengah mengimplementasikan platform KoltiTrace di sepuluh koperasi di Kalimantan Timur, dengan fokus pada pemetaan dan verifikasi batas lahan petani. Infrastruktur ketertelusuran digital ini menjadi fondasi penting untuk verifikasi legalitas lahan dan pemantauan berkelanjutan sebagaimana disyaratkan dalam standar RSPO dan EUDR.</p>
<p>Kesiapan petani swadaya di Indonesia terhadap regulasi EUDR masih sangat terbatas. Sekitar 41% dari total lahan perkebunan sawit nasional—sekitar 6,7 juta hektare—dikelola oleh petani swadaya. Namun, studi menunjukkan hanya 1% yang telah tersertifikasi secara “bersih dan jelas”, yakni memenuhi persyaratan ketertelusuran dan legalitas sesuai standar EUDR. Hambatan utama mencakup minimnya data geolokasi, status kepemilikan lahan yang tidak jelas, dan ketiadaan sistem digital. Tanpa langkah cepat, banyak petani berisiko kehilangan akses ke pasar Uni Eropa akibat regulasi baru ini (Palm Oil Monitor, 2023).</p>
<p>Program SHINES hadir menjawab kesenjangan tersebut dengan menyediakan alat dan dukungan yang dibutuhkan petani untuk mencapai ketertelusuran, sertifikasi, dan kepatuhan. Program ini menjadi langkah konkret dalam menjembatani kesenjangan tersebut, serta membuka peluang nyata bagi petani untuk memenuhi ketentuan regulasi dan menjaga akses jangka panjang ke pasar global.</p>
<p>Pada fase berikutnya, KOLTIVA akan mendukung penerapan fitur segregasi yang diminta dalam pembaruan sistem KoltiTrace FarmGate. Fitur ini memungkinkan pemasok untuk memisahkan Tandan Buah Segar (TBS) yang telah memenuhi standar EUDR dari yang belum, sejak titik pengumpulan. Langkah ini menjawab salah satu ketentuan inti dalam regulasi EUDR, yang mewajibkan komoditas dari lahan yang telah diverifikasi kepatuhannya untuk dipisahkan secara fisik dari lahan yang belum memiliki bukti pendukung.</p>
<p>Melampaui Kepatuhan: Dampak Terhadap Lanskap dan Mata Pencaharian</p>
<p>Seiring dengan semakin ketatnya kerangka regulasi seperti EUDR, inisiatif seperti SHINES memainkan peran penting dalam memastikan para produsen siap menghadapi tuntutan kepatuhan yang terus berkembang. Tingkat kesiapan terhadap EUDR secara signifikan meningkatkan akses produsen ke pasar premium, menegaskan pentingnya program semacam ini dalam menjamin keberlanjutan jangka panjang dan ketahanan ekonomi.</p>
<p>Lebih dari sekadar kepatuhan, SHINES juga mendukung dampak positif pada skala lanskap yang lebih luas. Program ini mencakup konservasi hingga 10.000 hektare kawasan hutan di luar wilayah konsesi, penguatan konektivitas keanekaragaman hayati, serta peluncuran program penghidupan di enam desa sasaran. SHINES juga dirancang untuk menjamin distribusi nilai yang adil di seluruh rantai pasok dengan mendukung pemberian insentif harga untuk minyak sawit bersertifikat dari petani swadaya.</p>
<p>“Program SHINES memberikan dampak transformatif bagi penghidupan petani swadaya dan produksi minyak sawit berkelanjutan, dengan menjembatani kesenjangan antara produsen dan tuntutan pasar global,” ujar Jusupta Tarigan, Impact Program Manager untuk sektor minyak sawit di KOLTIVA.</p>
<p>Tentang KOLTIVA
KOLTIVA merupakan perusahaan global terkemuka dalam bidang pertanian berkelanjutan dan penelusuran rantai pasokan, menawarkan solusi teknologi yang berpusat pada manusia dan dukungan solusi di lapangan dengan melakukan digitalisasi bisnis pertanian dan membantu produsen kecil beralih ke praktik berkelanjutan yang dapat ditelusuri.
press release ini juga sudah tayang di VRITIMES</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2025/07/15/REA-Berdayakan-Lebih-dari-600-Petani-Swadaya-di-Kalimantan-Timur-untuk-Kepatuhan-EUDR-dan-Sertifikas.jpeg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="728">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[REA Berdayakan Lebih dari 600 Petani Swadaya di Kalimantan Timur untuk Kepatuhan EUDR dan Sertifikas]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2025/07/15/REA-Berdayakan-Lebih-dari-600-Petani-Swadaya-di-Kalimantan-Timur-untuk-Kepatuhan-EUDR-dan-Sertifikas-100x75.jpeg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[REA Berdayakan Lebih dari 600 Petani Swadaya di Kalimantan Timur untuk Kepatuhan EUDR dan Sertifikas]]></media:description>
													<media:copyright>Tim Press Release</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>KOLTIVA Tunjuk Joe Keen Poon sebagai Executive Chairman, Tandai Babak Baru Kepemimpinan Global dalam Rantai Pasok Berkelanjutan</title>
		<link>https://bisnis.cilacap.info/ci-77241/koltiva-tunjuk-joe-keen-poon-sebagai-executive-chairman-tandai-babak-baru-kepemimpinan-global-dalam-rantai-pasok-berkelanjutan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Press Release]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 04 Jul 2025 04:15:38 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[koltiva]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bisnis.cilacap.info/ci-77241/koltiva-tunjuk-joe-keen-poon-sebagai-executive-chairman-tandai-babak-baru-kepemimpinan-global-dalam-rantai-pasok-berkelanjutan</guid>

					<description><![CDATA[<p class="p1"><b>JAKARTA, </b> aria-label="Bisnis Cilacap.info">CILACAP.INFO<b> &#8211; </b>KOLTIVA resmi mengangkat Joe Keen Poon sebagai Executive Chairman, memperkuat langkah strategis perusahaan dalam memperluas kepemimpinan global di sektor pertanian berkelanjutan dan ketertelusuran rantai pasok.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p class="p1"><b>JAKARTA, </b><a href="https://bisnis.cilacap.info" aria-label="Bisnis Cilacap.info">CILACAP.INFO</a><b> &#8211; </b>KOLTIVA resmi mengangkat Joe Keen Poon sebagai Executive Chairman, memperkuat langkah strategis perusahaan dalam memperluas kepemimpinan global di sektor pertanian berkelanjutan dan ketertelusuran rantai pasok.</p>
<p class="p1">Dengan pengalaman lebih dari tiga dekade di perusahaan global seperti Microsoft dan Deloitte, Joe akan memimpin penguatan tata kelola, perluasan investasi, dan ekspansi pasar KOLTIVA di wilayah-wilayah strategis seperti Asia, Amerika, Eropa, Timur Tengah, dan Afrika. &#8211; Kehadiran Joe memperkuat peran KOLTIVA sebagai mitra utama bagi perusahaan yang ingin memenuhi regulasi global seperti EUDR, dengan menghadirkan solusi end-to-end yang menggabungkan teknologi ketertelusuran digital berbasis geospasial dan pendampingan langsung kepada petani kecil untuk memastikan keberlanjutan dari hulu hingga hilir.</p>
<p>Dalam langkah strategis untuk mempertegas ekspansi global di bidang pertanian berkelanjutan dan ketertelusuran rantai pasok, perusahaan teknologi pertanian (AgriTech) yang berbasis di Indonesia dan Swiss serta didukung modal ventura, KOLTIVA, mengumumkan penunjukan Joe Keen Poon sebagai Executive Chairman. Pengangkatan ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan KOLTIVA memperkuat kepemimpinan globalnya di sektor ini.</p>
<p>Kepemimpinan baru ini menjadi momen krusial bagi KOLTIVA dalam mempercepat misinya membangun rantai pasokan yang inklusif, bebas deforestasi, dan sepenuhnya dapat ditelusur—selaras dengan regulasi global terkini seperti European Union Deforestation Regulation (EUDR), CSDDD, CSRD, serta meningkatnya tuntutan kepatuhan terhadap aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG).</p>
<p>Penunjukan Joe Keen Poon sebagai Executive Chairman menegaskan komitmen KOLTIVA terhadap keberlanjutan, transparansi, dan inovasi di sektor pertanian. Sebagai eksekutif global berpengalaman, Joe mempunyai lebih dari 30 tahun pengalaman mengembangkan teknologi berdampak sosial dan usaha ke arah keberlanjutan. Rekam jejak kepemimpinannya mencakup perusahaan-perusahaan papan atas seperti Microsoft, Deloitte, Surbana Jurong, dan terakhir sebagai Group CEO Singapore Institute of Management (SIM).</p>
<p>Dalam perannya, Joe akan memegang peranan sentral dalam memperkuat tata kelola perusahaan, membuka jalur investasi baru, serta memastikan solusi KOLTIVA tetap dapat diskalakan, aman, dan berorientasi hasil nyata. Pengangkatannya menandai babak baru bagi KOLTIVA: memanfaatkan analisis canggih untuk menghadirkan bukan hanya transparansi, tetapi juga wawasan ke depan dan ketahanan dalam rantai pasokan pertanian.</p>
<p>Didirikan pada 2013, KOLTIVA telah berkembang pesat menjadi salah satu mitra teknologi terpercaya di sektor pertanian, bekerja sama dengan lebih dari 1,9 juta produsen di 65 negara. Ekosistem terintegrasinya—mulai dari platform ketertelusuran, layanan perluasan kapasitas melalui pelatihan lapangan langsung oleh jaringan agronomis, hingga alat pembayaran digital dan program pelatihan petani kecil—telah menjadi komponen krusial bagi pelaku agribisnis, perusahaan, dan pemasok dalam menghadapi tantangan keberlanjutan yang semakin kompleks saat ini.</p>
<p>Joe Keen Poon akan membantu KOLTIVA menyempurnakan visi jangka panjang, memperdalam dampak di seluruh rantai pasokan, dan membangun kemitraan masa depan yang selaras dengan triple bottom line—People, Planet, dan Profit.  “KOLTIVA berada di perpaduan antara pertanian, aksi iklim, inklusi keuangan, dan transformasi digital,” kata Joe Keen Poon. “Bergabung dengan tim ini bukan hanya pencapaian dalam bidang profesional—melainkan komitmen nyata untuk membentuk ulang cara dunia mendapatkan bahan makanan dan bahan baku, sekaligus mendukung petani kecil di daerah terpencil yang menanamnya.”</p>
<p>Joe Keen Poon akan bekerja sama dengan CEO dan Co-Founder, Manfred Borer, serta tim manajemen untuk memperkuat kehadiran KOLTIVA di pasar utama mereka—termasuk Indonesia, Asia-Pasifik, Amerika, Eropa, Timur Tengah, dan Afrika—pasar strategis yang menentukan masa depan penyediaan bahan berkelanjutan.</p>
<p>“Kami telah membangun fondasi yang kokoh, berakar pada integritas data, teknologi berfokus pada manusia, operasi lapangan, dan kepercayaan klien,” ujar Manfred Borer, CEO KOLTIVA. “Kini, saatnya memperluas skala. Dengan kehadiran Joe Keen Poon, kami memperoleh mitra yang memiliki wawasan dan pengalaman global untuk memandu babak berikutnya—ekspansi lintas benua sambil tetap terhubung erat dengan komunitas petani di pedesaan.”</p>
<p>Meskipun penunjukan ini membawa perspektif global baru, hal ini juga menegaskan kesinambungan misi dan nilai KOLTIVA. Perusahaan tetap terfokus untuk mendukung upaya penyediaan bahan baku yang etis, inklusif, dan ketahanan iklim melalui kombinasi teknologi dan kehadiran langsung di lapangan. Pendekatan KOLTIVA yang mengintegrasikan keahlian lapangan dan ketertelusuran digital terus diakui oleh pelaku usaha global, lembaga pemerintah, kemitraan publik-swasta, organisasi non-pemerintah, hingga investor yang berorientasi pada dampak iklim.</p>
<p>“Seiring bergesernya lanskap regulasi—terutama dengan diberlakukannya European Union Deforestation Regulation (EUDR)—perusahaan di seluruh dunia menghadapi tekanan untuk memverifikasi legalitas dan keberlanjutan sumber bahan baku mereka. KOLTIVA telah menjadi pelopor dalam gerakan ini, menghadirkan ketertelusuran menyeluruh dari hulu ke hilir dan verifikasi geospasial berbasis poligon untuk komoditas seperti minyak sawit, karet, kakao, dan kopi,” tutup Joe Keen Poon. “Hal menarik dari peran ini bagi saya bukan hanya teknologi, tetapi juga fokus berkelanjutan perusahaan dalam memberdayakan produsen dan membangun kepercayaan antar pemangku kepentingan. Di situlah keberlanjutan yang sebenarnya dimulai.”</p>
<p>Tentang KOLTIVA
KOLTIVA merupakan perusahaan global terkemuka dalam bidang pertanian berkelanjutan dan penelusuran rantai pasokan, menawarkan solusi teknologi yang berpusat pada manusia dan dukungan solusi di lapangan dengan melakukan digitalisasi bisnis pertanian dan membantu produsen kecil beralih ke praktik berkelanjutan yang dapat ditelusuri.
Press release ini juga sudah tayang di VRITIMES</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2025/07/04/KOLTIVA-Tunjuk-Joe Keen Poon-sebagai-Executive-Chairman-Tandai-Babak-Baru-Kepemimpinan-Global-dalam-Rantai-Pasok-Berkelanjutan.jpeg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="728">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[KOLTIVA Tunjuk Joe Keen Poon sebagai Executive Chairman Tandai Babak Baru Kepemimpinan Global dalam Rantai Pasok Berkelanjutan]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2025/07/04/KOLTIVA-Tunjuk-Joe Keen Poon-sebagai-Executive-Chairman-Tandai-Babak-Baru-Kepemimpinan-Global-dalam-Rantai-Pasok-Berkelanjutan-100x75.jpeg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[KOLTIVA Tunjuk Joe Keen Poon sebagai Executive Chairman Tandai Babak Baru Kepemimpinan Global dalam Rantai Pasok Berkelanjutan]]></media:description>
													<media:copyright>Tim Press Release</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>SOCFIN Bermitra dengan KOLTIVA untuk Tingkatkan Kepatuhan EUDR dan Dorong Praktik Rantai Pasok Berkelanjutan</title>
		<link>https://bisnis.cilacap.info/ci-74539/socfin-bermitra-dengan-koltiva-untuk-tingkatkan-kepatuhan-eudr-dan-dorong-praktik-rantai-pasok-berkelanjutan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Press Release]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 06 May 2025 04:32:46 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[koltiva]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bisnis.cilacap.info/ci-74539/socfin-bermitra-dengan-koltiva-untuk-tingkatkan-kepatuhan-eudr-dan-dorong-praktik-rantai-pasok-berkelanjutan</guid>

					<description><![CDATA[JAKARTA,  aria-label="Bisnis Cilacap.info">CILACAP.INFO &#8211; SOCFIN memilih KOLTIVA untuk mengimplementasikan sistem ketertelusuran guna memastikan kepatuhan terhadap European Union Deforestation Regulation (EUDR) di seluruh rantai pasok karet di Pantai Gading dan Liberia.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JAKARTA</strong>, <a href="https://bisnis.cilacap.info" aria-label="Bisnis Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; SOCFIN memilih KOLTIVA untuk mengimplementasikan sistem ketertelusuran guna memastikan kepatuhan terhadap European Union Deforestation Regulation (EUDR) di seluruh rantai pasok karet di Pantai Gading dan Liberia.</p>
<p>Platform KoltiTrace dari KOLTIVA memungkinkan verifikasi bebas deforestasi, penilaian risiko, dan transparansi rantai pasok, memperkuat komitmen ESG dan kepatuhan regulasi SOCFIN. Inisiatif ini meningkatkan keterlibatan petani kecil, pengambilan keputusan berbasis data, serta akses pasar ke Uni Eropa, sekaligus memperkuat posisi SOCFIN sebagai pelaku utama dalam produksi karet yang berkelanjutan dan bertanggung jawab.</p>
<p>Jakarta, 5 Mei 2025 – Socfin Group, produsen karet berkelanjutan global yang berbasis di Luksemburg, bekerja sama dengan KOLTIVA untuk mengimplementasikan sistem ketertelusuran dan memastikan kepatuhan terhadap Peraturan Deforestasi Uni Eropa (EUDR). Kolaborasi ini menjadi salah satu strategi utama SOCFIN untuk menjaga akses pasar ke Uni Eropa sekaligus memperkuat transparansi rantai pasoknya.</p>
<p>Melalui kemitraan strategis ini, KOLTIVA menyediakan solusi digital terintegrasi yang membekali sejumlah pabrik SOCFIN dengan platform canggih untuk verifikasi bebas deforestasi, pengawasan rantai pasok, dan penilaian risiko. Dengan memanfaatkan teknologi ini, SOCFIN meningkatkan kemampuannya dalam memenuhi persyaratan regulasi, memperbaiki akurasi data, serta memperkuat komitmen terhadap praktik sumber yang bertanggung jawab, sehingga memastikan operasionalnya sejalan dengan tuntutan keberlanjutan global yang terus berkembang.</p>
<p>KOLTIVA, perusahaan agritech global berkelanjutan pemenang berbagai penghargaan yang fokus pada pengembangan rantai pasok berkelanjutan, mendukung pabrik dan pemasok SOCFIN di Pantai Gading dan Liberia, termasuk LAC (Liberia), Continental Rubber SA (Pantai Gading), Pakidie (Pantai Gading), dan SOGB (Pantai Gading).</p>
<p>Dukungan ini dilakukan dengan menerapkan ekosistem digital KoltiTrace untuk menyediakan pemantauan waktu nyata, verifikasi deforestasi berbasis geospasial, ketertelusuran rantai pasok dari hulu ke hilir, serta penilaian risiko. Didukung oleh teknologi citra satelit dan geolokasi, platform ini mampu mengidentifikasi potensi risiko ketidakpatuhan dan memfasilitasi mitigasi secara proaktif, sehingga menjaga integritas data sumber dan memastikan kepatuhan terhadap regulasi. Selain fokus pada kepatuhan, inisiatif ini juga memperkuat keterlibatan dengan petani kecil, mendorong penerapan praktik berkelanjutan di seluruh tingkat rantai pasok.</p>
<h2>Komitmen SOCFIN terhadap Keberlanjutan &amp; Kepatuhan</h2>
<p>Dalam upaya untuk mencapai produksi karet yang berkelanjutan dan bertanggung jawab, SOCFIN secara konsisten memprioritaskan praktik bisnis etis, pengelolaan lingkungan, dan kepatuhan terhadap regulasi. Beroperasi di wilayah luas perkebunan di Pantai Gading dan Liberia, SOCFIN bekerja sama dengan para produsen dalam rantai pasoknya, memperkuat komitmennya terhadap pembangunan berkelanjutan.</p>
<p>Kemitraan ini juga mendukung komitmen perusahaan terhadap Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (ESG), memastikan operasinya tetap terdepan dalam hal keberlanjutan. Sikap proaktif SOCFIN dalam memastikan kepatuhan menegaskan komitmen jangka panjangnya terhadap keberlanjutan, memastikan bahwa operasi langsungnya dan rantai pasok yang lebih luas memenuhi standar internasional sambil mempertahankan akses yang lancar ke pasar Uni Eropa.</p>
<p>Naveen Madan, General Manager (LAC), mengatakan, &#8220;Kolaborasi kami dengan KOLTIVA merupakan pendekatan proaktif untuk memenuhi persyaratan keberlanjutan yang ketat sambil mempertahankan hubungan yang kuat dengan pemasok dan petani kecil. Memastikan ketertelusuran penuh dan kepatuhan terhadap EUDR sangat penting untuk keberlanjutan jangka panjang bisnis kami. Dengan memanfaatkan inovasi digital, kami memenuhi ekspektasi regulasi dan memperkuat komitmen kami terhadap tanggung jawab lingkungan dan praktik bisnis etis.&#8221;</p>
<h2>Peran KOLTIVA Dalam Mendukung Kepatuhan</h2>
<p>Solusi digital KOLTIVA sangat berperan dalam memastikan traceability penuh rantai pasok SOCFIN dan sejalan dengan standar regulasi. Platform KoltiTrace memetakan deforestasi dan memverifikasi sumbernya, menggunakan data geolokasi dan citra satelit untuk mengidentifikasi dan mengurangi risiko. Pendekatan ini memastikan bahwa semua lokasi sumber memenuhi regulasi EUDR, memperkuat upaya uji tuntas, memungkinkan manajemen risiko secara proaktif, dan meningkatkan transparansi sepanjang rantai pasok.</p>
<p>Selain itu, KoltiTrace mengintegrasikan fitur FarmXtension yang mendukung pendaftaran produsen, pelatihan, dan pembinaan untuk membekali petani kecil dengan pengetahuan yang diperlukan untuk memenuhi kriteria keberlanjutan. Fungsi ketertelusuran FarmGate lebih lanjut memungkinkan penelusuran karet secara tepat dari tempat pembelian hingga pabrik, memastikan integritas data pada setiap langkah rantai pasok. Untuk memastikan implementasi yang lancar, infrastruktur berbasis cloud KOLTIVA dan dukungan penuh kepada pengguna memfasilitasi adopsi cepat di seluruh tingkat operasional.</p>
<p>Fanny Butler, Senior Head Markets di KOLTIVA, menyatakan, &#8220;Kami mendukung perusahaan seperti SOCFIN dengan informasi real time yang tidak hanya memastikan kepatuhan dengan regulasi seperti EUDR, tetapi juga mendorong keberlanjutan jangka panjang dan pengadaan yang etis. Selain KoltiTrace, kami menyediakan pelatihan dan dukungan untuk memastikan setiap pemangku kepentingan dilengkapi dengan pengetahuan yang dibutuhkan untuk memanfaatkan solusi kami secara maksimal dan memenuhi tuntutan regulasi yang terus berkembang. Tujuan kami adalah mendukung perusahaan dalam menghadapi lanskap regulasi yang kompleks sambil mendorong kemajuan yang berarti dalam keberlanjutan dan pengadaan yang etis.&#8221;</p>
<p>KoltiTrace telah digunakan di seluruh operasi SOCFIN, dengan pengguna aktif yang telah dilatih untuk melacak transaksi dan memantau data kepatuhan. Melalui dukungan, pelatihan daring, dan serta dukungan teknis, KOLTIVA memastikan adopsi berjalan lancar dengan implementasi yang efektif. Inisiatif ini diperkirakan akan meningkatkan pengambilan keputusan berbasis data untuk SOCFIN dan para pemasoknya, memungkinkan rantai pasok yang lebih transparan dan efisien. Ini juga akan meningkatkan kesiapan kepatuhan untuk EUDR dan regulasi lainnya, memastikan bahwa semua pemangku kepentingan siap untuk memenuhi standar yang terus berkembang.</p>
<p>Dengan memperkuat ketertelusuran, SOCFIN mengamankan akses pasar dan daya saing di Uni Eropa dengan menunjukkan komitmen kuat terhadap pengadaan yang bertanggung jawab. Inisiatif ini juga menunjukkan model kepatuhan yang dapat diterapkan secara luas di industri karet, yang berpotensi menjadi tolok ukur bagi perusahaan lain yang mencari kerangka kerja keberlanjutan serupa.</p>
<p>Selain keselarasan regulasi, program ini mendorong manfaat ekonomi yang lebih luas bagi petani kecil dengan mengintegrasikan mereka ke dalam rantai nilai yang lebih transparan dan berkelanjutan. Implementasi ini juga memungkinkan SOCFIN untuk mengidentifikasi peluang untuk inisiatif pembangunan kapasitas yang terarah, memastikan bahwa produsen menerima dukungan yang diperlukan untuk memenuhi kriteria keberlanjutan sekaligus meningkatkan mata pencaharian mereka.</p>
<p>Peraturan Deforestasi Uni Eropa (EUDR) mengharuskan perusahaan pengimpor komoditas seperti karet memastikan rantai pasok mereka bebas dari deforestasi melalui data geolokasi, uji tuntas, dan sistem ketertelusuran yang kuat untuk mempertahankan akses pasar ke Uni Eropa. Meski menantang, regulasi ini juga mendorong perusahaan memperkuat komitmen keberlanjutan mereka. Pada 2023, dunia kehilangan sekitar 6,37 juta hektare hutan, termasuk 3,7 juta hektare hutan tropis primer yang penting untuk penyerapan karbon dan keanekaragaman hayati (DownToEarth, 2024). Dengan deforestasi seluas wilayah Swiss setiap tahun, regulasi seperti EUDR menjadi penting untuk membangun rantai pasok berkelanjutan dan melindungi lingkungan.</p>
<p>Bagi SOCFIN dan pelaku industri lainnya, kepatuhan terhadap EUDR bukan hanya keharusan regulasi, tetapi juga keunggulan kompetitif. Permintaan global terhadap bahan baku berkelanjutan mendorong pentingnya standar ini dalam membangun reputasi perusahaan, menarik investor yang peduli lingkungan, dan memastikan keberlanjutan bisnis di pasar internasional. Ke depan, SOCFIN dan KOLTIVA berencana memperluas kemitraan mereka, memperbesar penerapan solusi kepatuhan di rantai pasok yang lebih luas, sekaligus terus menyempurnakan pendekatan terhadap keberlanjutan dan ketertelusuran.</p>
<h3>Tentang KOLTIVA</h3>
<p>KOLTIVA merupakan perusahaan global terkemuka dalam bidang pertanian berkelanjutan dan penelusuran rantai pasokan, menawarkan solusi teknologi yang berpusat pada manusia dan dukungan solusi di lapangan dengan melakukan digitalisasi bisnis pertanian dan membantu produsen kecil beralih ke praktik berkelanjutan yang dapat ditelusuri. Sebagai penyedia teknologi global, KOLTIVA membangun rantai pasokan yang etis, transparan, dan berkelanjutan, mendukung perusahaan memperkuat ketahanan dan transparansi bisnis.</p>
<p>KOLTIVA membantu bisnis dan pemasok mereka mematuhi peraturan yang berlaku dan tuntutan konsumen di seluruh dunia melalui solusi ketertelusuran. Beroperasi di lebih dari 66 negara dan didukung oleh jaringan kantor dukungan pelanggan di 20 negara, KOLTIVA mendukung lebih dari 18.300 perusahaan dalam membangun rantai pasokan yang transparan dan kuat serta memberdayakan lebih dari 1.840.000 produsen untuk meningkatkan kesejahteraan mereka.</p>
<p>www.koltiva.com</p>
<h3>Tentang Socfin</h3>
<p>Socfin Group, yang didirikan pada tahun 1905, adalah produsen terkemuka minyak sawit dan karet alam, dengan operasi di 10 negara di Afrika dan Asia. Sebagai pelopor dalam pembangunan berkelanjutan di daerah pedesaan, Socfin terus mendukung praktik-praktik bertanggung jawab di sektor minyak sawit dan karet alam. Karet alamnya terutama diekspor ke Eropa dan Amerika Serikat. Grup ini mengelola 14 situs produksi dan 2 pusat penelitian.</p>
<p>Informasi lebih lanjut: www.socfin.com</p>
<p><strong>Press Release ini juga sudah tayang di VRITIMES</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2025/05/06/SOCFIN-Bermitra-dengan-KOLTIVA.jpeg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="800"
				height="509">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[SOCFIN Bermitra dengan KOLTIVA]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2025/05/06/SOCFIN-Bermitra-dengan-KOLTIVA-100x75.jpeg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[SOCFIN Bermitra dengan KOLTIVA]]></media:description>
													<media:copyright>Tim Press Release</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>KOLTIVA Validasi Lebih dari 25.000 Petani Kopi di Amerika Selatan Secara Digital</title>
		<link>https://bisnis.cilacap.info/ci-73641/koltiva-validasi-lebih-dari-25-000-petani-kopi-di-amerika-selatan-secara-digital</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Press Release]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 21 Apr 2025 22:31:18 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[koltiva]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bisnis.cilacap.info/ci-73641/koltiva-validasi-lebih-dari-25-000-petani-kopi-di-amerika-selatan-secara-digital</guid>

					<description><![CDATA[JAKARTA,  aria-label="Bisnis Cilacap.info">CILACAP.INFO &#8211; Perubahan iklim memberikan tantangan yang belum pernah dialami sebelumnya pada wilayah-wilayah penghasil kopi di seluruh dunia.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JAKARTA</strong>, <a href="https://bisnis.cilacap.info" aria-label="Bisnis Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Perubahan iklim memberikan tantangan yang belum pernah dialami sebelumnya pada wilayah-wilayah penghasil kopi di seluruh dunia.</p>
<p>Di berbagai belahan dunia, cuaca yang tidak menentu, kekeringan berkepanjangan, dan pola ekologi yang berubah mengancam hasil panen dan keberlangsungan mata pencaharian para petani. Sebagai respons terhadap tantangan ini, KOLTIVA, perusahaan AgriTech asal Swiss-Indonesia, mempercepat transformasi digital rantai pasok kopi melalui platform ketertelusurannya, KoltiTrace.</p>
<p>Di Amerika Selatan, salah satu daerah penghasil kopi terbesar, lebih dari 25.000 petani kopi di delapan negara Amerika Latin—termasuk Kosta Rika, Meksiko, Brasil, Honduras, Nikaragua, Peru, Guatemala, dan Kolombia—telah divalidasi secara digital melalui KoltiTrace. Upaya ini merupakan bagian dari inisiatif dari KOLTIVA dan mitra strategis untuk membangun solusi keberlanjutan yang dapat transparan dan inklusif, yang berakar kuat pada keadaan komunitas petani.</p>
<p>Pendekatan ini memungkinkan produsen dan pelaku usaha untuk mengamankan pasokan jangka panjang kopi berkualitas tinggi, meningkatkan kesejahteraan petani dan masyarakat, serta menjaga kelestarian lingkungan.</p>
<p>“Keberlanjutan dimulai dari visibilitas,” ujar Silvan Ziegler, Senior Head of Markets America di KOLTIVA. “KoltiTrace bukan sekadar alat digital—ini adalah transformasi berbasis data yang memberdayakan petani, agronom, dan perusahaan untuk mengambil keputusan yang tepat dan berdampak.”</p>
<h3>Teknologi yang Memberdayakan Petani</h3>
<p>Teknologi yang diintegrasikan dalam KoltiTrace memungkinkan ketertelusuran rantai pasok dari hulu ke hilir melalui pengumpulan data secara real-time, pemetaan lahan secara geospasial, validasi indikator keberlanjutan, dan pemantauan kepatuhan secara otomatis.</p>
<p>Dengan fitur-fitur terintegrasi seperti FarmXtension, FarmGate, dan FarmCloud, KOLTIVA menyediakan sumber daya digital bagi para agronom dan petani untuk memantau praktik pertanian, menilai dampak lingkungan dan sosial, serta mengakses informasi sesuai data lapangan.</p>
<p>Melalui dukungan teknologi dan lapangan yang terintegrasi, Koltiva dapat mendukung produsen dalam:</p>
<p>1. Pengumpulan dan validasi data terkait praktik petani, kinerja lingkungan, dan kriteria sosial</p>
<p>2. Verifikasi praktik pertanian regeneratif</p>
<p>3. Kepatuhan terhadap standar keberlanjutan dan sertifikasi</p>
<p>4. Kesetaraan gender dan partisipasi inklusif</p>
<p>5. Pemantauan produktivitas dan risiko secara akurat dan tepat waktu</p>
<p>Upaya ini sangat penting untuk membangun rantai pasok kopi yang tangguh dan etis, yang mampu menghadapi gangguan iklim dan regulasi. Hal ini menjadi semakin krusial karena lebih dari 80% produksi kopi berasal dari petani kecil yang mengelola lahan kurang dari lima hektar—sering kali di daerah pegunungan terjal, dengan metode pertanian tradisional seperti sistem teduh alami (FAO, 2023).</p>
<p>KOLTIVA mendukung transisi agroekologis ini dengan membekali produsen alat digital untuk memetakan lahan mereka, mencatat praktik pertanian, dan menilai dampak lingkungan secara langsung. Dengan menghubungkan pengetahuan tradisional dan pertanian modern, KOLTIVA membantu mewujudkan keberlanjutan pada praktik pertanian.</p>
<h3>Mendukung Komunitas Petani Lokal</h3>
<p>Dengan mendigitalisasi dan memvalidasi ribuan petani kopi skala kecil, visibilitas terhadap lanskap pertanian yang seringkali bersifat informal dapat dihadirkan. Visibilitas ini membuka peluang bagi para produsen untuk berpartisipasi dalam pasar yang berkelanjutan, mengakses dukungan agronomi, dan meningkatkan potensi pendapatan mereka.</p>
<p>&#8220;Kami sedang belajar menggunakan alat digital untuk mengambil keputusan berdasarkan data. Itu membuat perbedaan besar dalam cara kami mengelola kebun,&#8221; ujar salah satu petani kopi di Kolombia yang berpartisipasi dalam program. &#8220;Dukungan yang kami terima dari program ini membantu kami menanam kopi yang lebih baik dan menjaga kelestarian lahan kami.&#8221;</p>
<p>KOLTIVA melengkapi platform ketertelusurannya dengan KoltiSkills, yang menyediakan bantuan teknis dan pelatihan dalam pertanian regeneratif, pemetaan poligon untuk penilaian risiko deforestasi, serta pendampingan langsung bagi petani dalam memahami dan mematuhi standar keberlanjutan.</p>
<p>&#8220;Dengan menyesuaikan solusi teknologi kami secara cermat terhadap kebutuhan spesifik para produsen, kami tidak hanya memastikan ketertelusuran dan kepatuhan, tetapi juga meningkatkan produktivitas melalui wawasan berbasis data. Tujuan kami adalah membekali produsen dengan alat yang dapat mengoptimalkan praktik mereka dan mencapai keberlanjutan jangka panjang dalam setiap aspek operasional mereka,&#8221; ujar Angie Quintero, Project Manager KOLTIVA yang mengelola berbagai proyek di Amerika Latin.</p>
<h3>Mewujudkan Masa Depan Kopi yang Transparan dan Adil</h3>
<p>Dengan menanamkan prinsip ketertelusuran sebagai inti dari sistem rantai pasok, KOLTIVA membantu perusahaan mencapai target lingkungan dan sosial mereka sekaligus memberdayakan petani di tingkat hulu.</p>
<p>&#8220;Pencapaian ini menegaskan keyakinan kami bahwa visibilitas dan kolaborasi adalah fondasi utama keberlanjutan yang bermakna,&#8221; ujar Ziegler. &#8220;Melalui KoltiTrace, kami tidak sekadar melacak kopi—kami membangun hubungan yang lebih kuat antara produsen, pembeli, dan konsumen.&#8221;</p>
<p>Saat para petani kopi menghadapi risiko iklim yang semakin meningkat, solusi ketertelusuran dari KOLTIVA hadir sebagai sekutu penting—memperkuat kapasitas sektor kopi untuk beradaptasi, tumbuh, dan berkembang secara bertanggung jawab.</p>
<h3>Tentang KOLTIVA</h3>
<p>KOLTIVA merupakan perusahaan global terdepan di bidang pertanian berkelanjutan dan ketertelusuran rantai pasokan. Dengan teknologi yang berpusat pada manusia serta dukungan langsung di lapangan, KOLTIVA menghadirkan solusi digital yang membantu pelaku agribisnis bertransformasi menuju praktik berkelanjutan dan sumber daya yang dapat ditelusuri. Sebagai penyedia teknologi global, KOLTIVA membangun rantai pasokan yang etis, transparan, dan berkelanjutan, serta mendukung perusahaan dalam meningkatkan ketahanan dan keterbukaan bisnis mereka.</p>
<p>Melalui solusi ketertelusuran yang canggih, KOLTIVA membantu pelaku usaha dan pemasoknya memenuhi regulasi yang terus berkembang serta tuntutan konsumen di berbagai pasar dunia. Beroperasi di lebih dari 66 negara dengan dukungan jaringan kantor layanan pelanggan di 20 negara, KOLTIVA telah berkomitmen mendampingi lebih dari 17.900 perusahaan dalam membangun rantai pasokan yang tangguh dan transparan, sekaligus memberdayakan lebih dari 1.810.000 produsen untuk meningkatkan pendapatan tahunan mereka.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2025/04/21/Petani-kopi-di-Amerika-Latin-bertransformasi-lewat-pertanian-berkelanjutan-dan-ketertelusuran-digital.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="710"
				height="947">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[Petani kopi di Amerika Latin bertransformasi lewat pertanian berkelanjutan dan ketertelusuran digital]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2025/04/21/Petani-kopi-di-Amerika-Latin-bertransformasi-lewat-pertanian-berkelanjutan-dan-ketertelusuran-digital-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[Petani kopi di Amerika Latin bertransformasi lewat pertanian berkelanjutan dan ketertelusuran digital]]></media:description>
													<media:copyright>Tim Press Release</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Koltiva Adakan Diskusi Strategis untuk Kepatuhan EUDR di Indonesia</title>
		<link>https://bisnis.cilacap.info/ci-72865/koltiva-adakan-diskusi-strategis-untuk-kepatuhan-eudr-di-indonesia</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Press Release]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 20 Mar 2025 12:22:53 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[koltiva]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bisnis.cilacap.info/ci-72865/koltiva-adakan-diskusi-strategis-untuk-kepatuhan-eudr-di-indonesia</guid>

					<description><![CDATA[JAKARTA,  aria-label="Bisnis Cilacap.info">CILACAP.INFO &#8211; Regulasi Anti Deforestasi Uni Eropa (EUDR) terus mengubah perdagangan global dengan menempatkan keberlanjutan sebagai syarat utama akses pasar.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JAKARTA</strong>, <a href="https://bisnis.cilacap.info" aria-label="Bisnis Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Regulasi Anti Deforestasi Uni Eropa (EUDR) terus mengubah perdagangan global dengan menempatkan keberlanjutan sebagai syarat utama akses pasar.</p>
<p>Aturan ini bertujuan mencegah produk yang terkait dengan deforestasi masuk ke Uni Eropa, tetapi pelaksanaannya menghadapi berbagai tantangan, mulai dari penundaan hingga perdebatan politik yang masih berlangsung. Bagi negara penghasil komoditas seperti Indonesia, perubahan ini membawa tantangan sekaligus peluang strategis.</p>
<p>Untuk menjawab tantangan ini, Koltiva, perusahaan teknologi pertanian yang berfokus pada rantai pasok berkelanjutan, menggelar BeyondTraceability Talks, sebuah forum yang mempertemukan pemangku kepentingan industri untuk membahas dinamika kepatuhan terhadap EUDR. Diskusi ini menghadirkan Ainu Rofiq, Co-Founder dan Board Member Koltiva, Diah Suradiredja dari Sekretariat Pengembangan National Dashboard di Kemenko Perekonomian RI, serta Insan Syafaat, Direktur Eksekutif PISAgro. Forum ini mengupas kompleksitas regulasi, dampaknya terhadap ekspor Indonesia, serta strategi untuk meningkatkan keberlanjutan dalam rantai pasok global.</p>
<p>Penundaan penerapan EUDR selama 12 bulan mencerminkan kompleksitas dalam implementasinya. Meski memberi lebih banyak waktu bagi pelaku industri, langkah ini juga menggarisbawahi kekhawatiran berbagai pihak terhadap dampaknya pada perdagangan global. Bagi Indonesia, regulasi ini menuntut investasi besar dalam sistem ketertelusuran, peningkatan kapasitas, proses sertifikasi, dan teknologi pendukung—tantangan yang berat, terutama bagi petani kecil.</p>
<p>&#8220;Kerangka regulasi saat ini menghadirkan tantangan besar bagi petani kecil,&#8221; ujar Ainu Rofiq. &#8220;Tanpa dukungan yang memadai, mereka berisiko tertinggal, tidak mampu memenuhi persyaratan kepatuhan, dan akhirnya terisolasi dari perdagangan global.&#8221;</p>
<p>Meski penuh tantangan, terdapat beberapa solusi seperti optimalisasi teknologi, keterlibatan langsung di lapangan, dan model bisnis inklusif untuk membantu petani kecil memenuhi regulasi. Koltiva mengembangkan pendekatan terintegrasi yang memastikan transparansi, akuntabilitas, dan keberlanjutan, memungkinkan bisnis menghadapi kompleksitas EUDR sekaligus mendukung petani kecil. Dengan penerapan penuh EUDR pada tahun 2026, waktu semakin mendesak untuk memastikan kepatuhan. Saat pasar global semakin berfokus pada komoditas berkelanjutan dan bebas deforestasi, kolaborasi antara pemerintah, industri, dan penyedia teknologi menjadi kunci agar Indonesia tetap kompetitif di perdagangan internasional.</p>
<p><strong>Ketertelusuran Berbasis Teknologi untuk Kepatuhan</strong></p>
<p>Sektor pertanian Indonesia memegang peran penting dalam perekonomian, dengan nilai ekspor mencapai USD 52,9 miliar dan impor sebesar USD 30,3 miliar pada 2023, mencatatkan surplus perdagangan. Namun, sektor ini masih menghadapi tantangan seperti deforestasi, emisi gas rumah kaca akibat perubahan penggunaan lahan, serta keterlambatan dalam integrasi rantai nilai global karena keterbatasan teknologi, yang berdampak pada kualitas produk dan efisiensi produksi (World Economic Forum, 2024; World Bank, 2022). Untuk mendukung petani kecil yang terdampak regulasi ketat Eropa, pemerintah Indonesia tengah merancang langkah perlindungan, salah satunya melalui pengembangan National Dashboard—sistem data terintegrasi yang bertujuan memastikan transparansi dan ketertelusuran dalam rantai pasok komoditas.</p>
<p>Menurut Rofiq, bisnis harus beralih dari manajemen rantai pasok yang reaktif ke pendekatan proaktif dengan berinvestasi dalam solusi ketertelusuran berbasis teknologi. Ia menekankan bahwa perusahaan yang gagal memantau praktik sumber daya mereka berisiko kehilangan akses pasar, menghadapi konsekuensi hukum, dan merusak reputasi merek. Untuk tetap kompetitif, perusahaan harus memastikan transparansi penuh dan akuntabilitas di seluruh rantai pasok mereka.</p>
<p>Salah satu aspek utama dalam kepatuhan EUDR adalah ketertelusuran rantai pasok. Solusi unggulan Koltiva, KoltiTrace, memberikan wawasan real-time tentang asal-usul produk, kepatuhan pemasok, dan risiko keberlanjutan. Platform ini memungkinkan bisnis melakukan penilaian risiko, menerapkan strategi mitigasi, dan memastikan keselarasan dengan regulasi yang terus berkembang.</p>
<p><strong>Verifikasi Lapangan dan Keterlibatan Langsung</strong></p>
<p>Meski solusi digital berperan penting, Rofiq menekankan bahwa kepatuhan tidak bisa dicapai hanya dengan pengumpulan data. Tim lapangan bekerja langsung dengan produsen, koperasi, dan pemasok untuk memverifikasi praktik keberlanjutan di lokasi. Para ahli ini melakukan audit lapangan, memberikan pelatihan teknik pertanian berkelanjutan, serta membantu petani memenuhi standar regulasi.</p>
<p>&#8220;Mengacu pada laporan digital saja tidak cukup,&#8221; ujar Rofiq. &#8220;Klaim keberlanjutan harus diverifikasi langsung di lapangan untuk memastikan kredibilitas. Karena itu, pendekatan hybrid—menggabungkan teknologi dengan keterlibatan langsung di lapangan—adalah cara paling efektif untuk membangun kepercayaan dan menciptakan dampak nyata.&#8221;</p>
<p><strong>Memberdayakan Petani Kecil Melalui Peningkatan Kapasitas</strong></p>
<p>Lebih dari sekadar kepatuhan, memberdayakan petani kecil dengan pengetahuan dan alat yang tepat sangat penting untuk memastikan daya saing mereka di pasar global. Program yang menggabungkan pelatihan digital dan tatap muka berperan krusial dalam membekali petani dengan keterampilan utama, termasuk praktik pertanian yang baik, literasi keuangan, dan pemahaman terhadap regulasi. Inisiatif ini membantu petani kecil menghadapi standar keberlanjutan yang kompleks serta memperkuat akses mereka ke pasar.</p>
<p>&#8220;Pendidikan adalah kunci agar petani kecil tidak terpinggirkan dari rantai pasok global,&#8221; ujar Rofiq. &#8220;Dengan membekali mereka keterampilan yang tepat, kita membantu mereka meningkatkan produktivitas, menaikkan pendapatan, dan memenuhi standar internasional.&#8221;</p>
<p>Di tengah perdebatan yang terus berkembang mengenai EUDR, bisnis harus mengambil langkah proaktif untuk memastikan rantai pasok mereka siap menghadapi masa depan. Meski regulasi ini menghadirkan banyak tantangan, ketentuan di dalamnya juga membuka peluang untuk mendorong perubahan nyata dalam praktik keberlanjutan. Perusahaan yang berinvestasi dalam ketertelusuran, verifikasi, dan inklusi petani kecil tidak hanya akan memenuhi persyaratan kepatuhan, tetapi juga memperkuat posisi mereka sebagai pemimpin dalam perdagangan etis.</p>
<p>&#8220;Dengan kombinasi teknologi, keterlibatan langsung di lapangan, dan peningkatan kapasitas, kita bisa menjadikan kepatuhan sebagai keunggulan kompetitif,&#8221; pungkas Rofiq.</p>
<p>Seiring dengan perkembangan regulasi, bisnis yang mengedepankan transparansi dan inovasi akan memiliki posisi terbaik untuk bertahan dan berkembang. Mematuhi EUDR bukan hanya tentang kepatuhan, tetapi juga menciptakan dampak positif bagi petani kecil dan memastikan keberlanjutan jangka panjang dalam perdagangan global. Saksikan diskusi bersama Ainu Rofiq dalam BeyondTraceability Talks terbaru yang diselenggarakan oleh Koltiva.</p>
<h3>Tentang KOLTIVA</h3>
<p>KOLTIVA menghadirkan teknologi berpusat pada manusia dan solusi berbasis lapangan yang mendigitalkan agribisnis serta membantu petani kecil beralih ke praktik berkelanjutan dan sumber daya yang dapat ditelusuri. Diakui sebagai perusahaan global terdepan dalam ketertelusuran rantai pasok dan pertanian berkelanjutan, KOLTIVA membangun rantai pasok yang etis, transparan, dan berkelanjutan, membantu bisnis memperkuat ketahanan dan transparansi mereka. Perusahaan ini mendukung bisnis dan pemasoknya dalam memenuhi regulasi yang terus berkembang serta tuntutan konsumen global melalui solusi ketertelusuran. Beroperasi di lebih dari 66 negara dengan dukungan jaringan layanan pelanggan di 20 negara, KOLTIVA berkomitmen mendukung lebih dari 17.900 perusahaan dalam membangun rantai pasok yang transparan dan kuat, serta memberdayakan lebih dari 1,8 juta petani untuk meningkatkan pendapatan tahunan mereka.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2025/03/19/Ainu-Rofiq-berikan-pemaparan-tentang-ketertelusuran-dan-EUDR.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="715"
				height="401">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[Ainu Rofiq berikan pemaparan tentang ketertelusuran dan EUDR]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2025/03/19/Ainu-Rofiq-berikan-pemaparan-tentang-ketertelusuran-dan-EUDR-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[Ainu Rofiq berikan pemaparan tentang ketertelusuran dan EUDR]]></media:description>
													<media:copyright>Tim Press Release</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
	</channel>
</rss>
