<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" >

<channel>
	<title>Kumpulan Pos Koalisi Indonesia Bebas TAR (KABAR) &#8211; Bisnis Cilacap.info</title>
	<atom:link href="https://bisnis.cilacap.info/tag/koalisi-indonesia-bebas-tar-kabar/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://bisnis.cilacap.info</link>
	<description>Media Online Masa Kini, Akurat, Mengedepankan Etika</description>
	<lastBuildDate>Tue, 28 Oct 2025 02:36:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	
<image>
<url>https://img.cilacap.info/images/bisnis/favicon-32x32.png</url><title>Kumpulan Pos Koalisi Indonesia Bebas TAR (KABAR) &#8211; Bisnis Cilacap.info</title>
<link>https://bisnis.cilacap.info</link>
<width>32</width><height>32</height><description>Berita Seputar Bisnis</description>
</image>
	<item>
		<title>SAPA BALI 2025: Mewujudkan Pariwisata Bali yang Bebas TAR</title>
		<link>https://bisnis.cilacap.info/ci-81907/sapa-bali-2025-mewujudkan-pariwisata-bali-yang-bebas-tar</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Press Release]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 28 Oct 2025 02:36:51 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Koalisi Indonesia Bebas TAR (KABAR)]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bisnis.cilacap.info/ci-81907/sapa-bali-2025-mewujudkan-pariwisata-bali-yang-bebas-tar</guid>

					<description><![CDATA[<b>BALI, </b> aria-label="Bisnis Cilacap.info">CILACAP.INFO – Pariwisata Bali terus menunjukkan tren positif pada 2025. Kunjungan wisatawan yang meningkat, tingkat hunian hotel yang stabil, serta pertumbuhan ekonomi daerah menandakan kebangkitan yang lebih matang. Tantangan berikutnya adalah memastikan pengalaman yang kian nyaman, bersih, dan modern bagi semua wisatawan, utamanya dalam mendukung upaya menciptakan pariwisata yang bebas asap.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><b>BALI, </b><a href="https://bisnis.cilacap.info" aria-label="Bisnis Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> – Pariwisata Bali terus menunjukkan tren positif pada 2025. Kunjungan wisatawan yang meningkat, tingkat hunian hotel yang stabil, serta pertumbuhan ekonomi daerah menandakan kebangkitan yang lebih matang. Tantangan berikutnya adalah memastikan pengalaman yang kian nyaman, bersih, dan modern bagi semua wisatawan, utamanya dalam mendukung upaya menciptakan pariwisata yang bebas asap.</p>
<p>Tidak dapat dipungkiri bahwa masih banyak pelaku wisata merupakan konsumen dari produk tembakau. Meski demikian, asap yang dihasilkan oleh produk tembakau seperti rokok, berpotensi mengganggu kenyamanan.</p>
<p>Dalam konteks inilah pendekatan pengurangan risiko atau <i>harm reduction </i>menjadi relevan. Alih-alih berfokus pada larangan, pendekatan ini menekankan penyediaan informasi akurat tentang opsi dengan risiko lebih rendah bagi perokok dewasa yang ingin beralih ke produk alternatif. Langkah ini juga menjawab dinamika perilaku wisatawan mancanegara yang beragam, dengan tetap memperhatikan batasan dan regulasi yang berlaku di daerah wisata.</p>
<p>Isu ini menjadi pembahasan utama dalam SAPA BALI 2025: Sarasehan untuk Pariwisata dan Bali Bebas Tar yang diselenggarakan Koalisi Indonesia Bebas TAR (KABAR) di Denpasar.</p>
<p>Diskusi ini mempertemukan sains, industri pariwisata, dan pembuat kebijakan untuk merumuskan langkah efektif dan tepat guna yang dapat langsung dipraktikkan di lapangan. Tujuannya sejalan dengan semangat Bali sebagai destinasi berkelas dunia: ramah, menjaga kebersihan udara, serta mendorong inovasi layanan yang menghormati pilihan individu perokok dewasa.</p>
<p>Dekan FEB Undiknas Bali, Prof. Dr. Ida Bagus Raka Suardana, S.E., M.M., menegaskan bahwa perekonomian Bali sangat bergantung pada pariwisata yang menyumbang lebih dari separuh PDRB daerah dengan <i>multiplier effect </i>luar biasa. Karena itu, kenyamanan dan kualitas lingkungan menjadi faktor utama agar pariwisata tetap tumbuh berkelanjutan.</p>
<p>“Kebiasaan merokok memang masih kuat di Bali, namun udara Bali idealnya bebas dari racun dan asap tar. Nilai <i>Tri Hita Karana </i>mengajarkan kita menjaga harmoni manusia, alam, dan budaya, termasuk dengan menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat.</p>
<p>Pendekatan <i>harm reduction </i>melalui opsi nikotin berisiko lebih rendah tanpa pembakaran dan tar dapat menjadi alternatif transisi, dengan kampanye tidak menggunakan rokok konvensional di ruang tertutup dan akomodasi yang diperkuat agar dipahami wisatawan. Yang dicari wisatawan bukan hanya keindahan, tetapi juga pengalaman bersih, nyaman, dan membuat mereka ingin kembali,” ujarnya.</p>
<p>Direktur Eksekutif BPD PHRI Bali, Ida Bagus Purwa Sidemen, S.Ag., M.Si., menyampaikan bahwa sektor perhotelan telah menerapkan standar usaha berbasis risiko dan sertifikasi kesiapsiagaan bencana, meski implementasi peraturan gubernur yang mendorong hotel bergabung dalam asosiasi masih terbatas dengan baru sekitar 20 persen hotel yang menjadi anggota PHRI. Ia menambahkan banyak hotel kini menjalankan kebijakan bebas asap rokok</p>
<p>yang terbukti lebih disukai tamu, khususnya keluarga, bahkan ada yang melarang karyawan merokok di area hotel. Menurutnya, informasi mengenai produk tembakau alternatif tanpa asap dan tar juga berpotensi menjadi pilihan, asalkan disertai sosialisasi berbasis sains agar seluruh pihak memahami dengan benar.</p>
<p>“Fokus kami adalah menghadirkan pengalaman menginap yang lebih nyaman dan sehat, sehingga standar layanan perhotelan Bali dapat terus meningkat,” ujarnya.</p>
<p>Anggota Komisi IX DPR RI, Tutik Kusuma Wardhani, S.E., M.M., M.Kes., menekankan pentingnya sosialisasi perilaku hidup sehat, khususnya di pedesaan di mana kebiasaan merokok cenderung lebih tinggi dibandingkan di kota. Ia menyebut penguatan sosialisasi pentingnya aktivitas fisik, pola makan seimbang, serta pengurangan gula, garam, dan lemak perlu terus digencarkan agar faktor risiko penyakit dapat ditekan.</p>
<p>“Tidak ada yang bercita-cita sakit, namun bila perilaku tidak sehat tidak berubah, beban pembiayaan BPJS bisa membengkak. DPR terus mengatur agar pembiayaan tetap terkendali, karena jika derajat kesehatan masyarakat membaik maka beban biaya pengobatan akan menurun, sehingga ruang fiskal APBN bisa lebih besar dialokasikan ke daerah, termasuk Bali, untuk peningkatan layanan publik,” jelasnya.</p>
<p>Forum juga mendorong kolaborasi antara pelaku industri, komunitas kesehatan, dan kampus di Bali untuk mengukur dampak secara berkala melalui survei kepuasan tamu dan audit kualitas udara di tempat wisata. Hasilnya diharapkan menjadi rujukan bagi seluruh wilayah, sembari menjaga citra Bali sebagai destinasi yang berkelas dan berwawasan lingkungan.</p>
<p>Bali perlu memberikan pilihan bebas asap bagi perokok dewasa tanpa menurunkan kenyamanan wisatawan. Dari sains ke layanan, dari kebijakan ke praktik, inilah wujud pariwisata yang bukan hanya menarik dikunjungi, tetapi juga nyaman dijalani. Dengan kolaborasi yang tepat, Bali bebas asap dapat menjadi standar baru destinasi wisata kelas dunia.</p>
<p><strong>Press release ini juga sudah tayang di VRITIMES</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2025/10/28/public-5-3.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="700"
				height="467">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[Koalisi Indonesia Bebas TAR (KABAR)]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2025/10/28/public-5-3-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[Koalisi Indonesia Bebas TAR (KABAR)]]></media:description>
													<media:copyright>Tim Press Release</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Perlunya Kolaborasi Lintas Sektor untuk Mengurangi Angka Penyakit Tidak Menular di Kota Medan</title>
		<link>https://bisnis.cilacap.info/ci-67578/perlunya-kolaborasi-lintas-sektor-untuk-mengurangi-angka-penyakit-tidak-menular-di-kota-medan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Press Release]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 Dec 2024 14:02:47 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Koalisi Indonesia Bebas TAR (KABAR)]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bisnis.cilacap.info/ci-67578/perlunya-kolaborasi-lintas-sektor-untuk-mengurangi-angka-penyakit-tidak-menular-di-kota-medan</guid>

					<description><![CDATA[MEDAN,  aria-label="Bisnis Cilacap.info">CILACAP.INFO &#8211; Praktisi Kesehatan, Dr. dr. Cashtry Meher, M.Kes, M.H.Kes., Sp. DVE, menjelaskan bahwa kolaborasi lintas sektor diperlukan untuk membuat kebijakan yang fokus utamanya adalah perbaikan kualitas hidup masyarakat, dengan memperhitungkan aspek kesehatan.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>MEDAN, </strong><a href="https://bisnis.cilacap.info" aria-label="Bisnis Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Praktisi Kesehatan, Dr. dr. Cashtry Meher, M.Kes, M.H.Kes., Sp. DVE, menjelaskan bahwa kolaborasi lintas sektor diperlukan untuk membuat kebijakan yang fokus utamanya adalah perbaikan kualitas hidup masyarakat, dengan memperhitungkan aspek kesehatan.</p>
<p>Medan – Tingginya prevalensi gaya hidup perkotaan yang serba instan dan perilaku berisiko seperti konsumsi makanan tinggi gula, garam, dan lemak, diet tidak seimbang, serta kurangnya aktivitas fisik menjadi tantangan serius di Kota Medan. Menurut Data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2023, kebiasaan merokok juga masih sangat tinggi, dengan angka perokok aktif di kalangan pria dewasa mencapai 42% dalam rentang usia 25 hingga 54 tahun. Oleh karena itu, upaya untuk mengurangi faktor risiko kesehatan Penyakit Tidak Menular (PTM) harus melibatkan kerja sama kuat antara pemerintah dan berbagai sektor seperti pendidikan, kesehatan, swasta, serta masyarakat agar kebijakan yang dihasilkan tepat sasaran dan terintegrasi.</p>
<p>Praktisi Kesehatan, Dr. dr. Cashtry Meher, M.Kes, M.H.Kes., Sp. DVE, menjelaskan bahwa kolaborasi lintas sektor diperlukan untuk membuat kebijakan yang fokus utamanya adalah perbaikan kualitas hidup masyarakat, dengan memperhitungkan aspek kesehatan. Sebagai upaya menurunkan berbagai faktor risiko kesehatan, pendekatan pragmatis pengurangan risiko (<em>harm reduction</em>) juga perlu dipertimbangkan dalam pembuatan kebijakan. Misalnya, bagi masyarakat yang sulit mengubah perilaku berisiko, menyediakan alternatif lebih rendah risiko seperti produk makanan-minuman reformulasi dan produk tembakau alternatif bisa menjadi langkah komplementer untuk mengurangi dampak kesehatan akibat diet tidak seimbang dan kebiasaan merokok.</p>
<p>&#8220;Saya menyarankan agar kebijakan kesehatan di Medan menitikberatkan pada sinergi antara pemerintah, tenaga kesehatan, sektor swasta, dan masyarakat, sehingga tantangan kesehatan dapat kita hadapi bersama. Selain itu, kebijakan haruslah berpijak pada ilmu pengetahuan terbaru. Jika ada konsep pengurangan risiko yang terbukti banyak manfaatnya, maka diharapkan pembuatan kebijakan bisa turut mengikuti perkembangan ini,&#8221; jelas Dr. Cashtry dalam Diskusi Publik Potensi Penerapan Pendekatan Pengurangan Bahaya dalam Menekan Faktor Risiko PTM di Kota Medan, Sabtu (23/11/2024).</p>
<p>Dr. Cashtry juga menekankan pentingnya pemberdayaan komunitas dan LSM untuk menjalankan program edukatif dan preventif dengan pendekatan yang lebih personal, serta mendorong terciptanya dukungan sosial kuat dalam mengadopsi gaya hidup sehat. Selain itu, diperlukan pula upaya edukatif oleh tenaga kesehatan, yang berperan penting dalam menyebarluaskan konsep pengurangan bahaya dan berinteraksi langsung dengan masyarakat yang rentan.</p>
<p>&#8220;Dengan bekerja bersama dan terbuka terhadap pendekatan-pendekatan inovatif seperti pengurangan risiko, kita bisa menjangkau masyarakat yang berperilaku berisiko secara holistik dan mengurangi prevalensi PTM dengan lebih efektif,&#8221; imbuhnya.</p>
<p>Tak kalah penting, penguatan infrastruktur layanan kesehatan juga berperan penting dalam mendukung kampanye dan edukasi publik yang terkoordinasi. Sektor pendidikan juga harus memastikan bahwa kebijakan yang diimplementasikan didasarkan pada data ilmiah. Sama halnya dengan upaya mengurangi risiko pada produk tembakau. Selain itu, menurutnya, jika pengurangan bahaya yang diterapkan pada produk tembakau alternatif dapat dibuktikan berbasis riset dan data, maka pendekatan ini perlu dimaksimalkan sebagai upaya beralih dari kebiasaan merokok.</p>
<p>&#8220;Kebijakan dan program-program hasil kolaborasi lintas sektor juga perlu melakukan monitoring dan evaluasi terpadu secara berkala untuk mengukur efektivitasnya. Pembuat kebijakan, akademisi, dan organisasi non-pemerintah dapat bekerja sama dalam mengembangkan indikator kinerja utama dan melaporkan hasilnya. Evaluasi ini penting untuk perbaikan program di masa mendatang, sehingga dapat terus disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat,&#8221; jelas Dr. Cashtry.</p>
<p><strong>Masukan terhadap Kebijakan Kesehatan di Kota Medan</strong></p>
<p>Pemerintah Indonesia menempatkan pembangunan kesehatan sebagai agenda penting dalam mengurangi faktor risiko PTM. Untuk itu, Dr. Cashtry mendukung penuh inisiatif pemerintah yang bertujuan mengurangi faktor risiko kesehatan di berbagai wilayah, termasuk Medan. Agenda kesehatan promotif dan preventif, termasuk kampanye gaya hidup sehat dan promosi kesehatan berkelanjutan perlu disosialisasikan lebih masif ke masyarakat.</p>
<p>&#8220;Mengubah perilaku kesehatan masyarakat di Medan bukan tugas yang mudah. Literasi kesehatan yang masih rendah, tingginya perilaku berisiko, serta keterbatasan akses layanan kesehatan menjadi hambatan utama dalam upaya preventif. Meski tantangannya besar, peluang untuk memperbaiki kualitas kesehatan melalui edukasi komunitas sangat menjanjikan. Pendekatan ini efektif karena mengajak masyarakat untuk belajar bersama, saling mendukung, dan menerapkan gaya hidup sehat secara kolektif,&#8221; jelas Dr. Cashtry.</p>
<p>Lebih lanjut, Dr. Cashtry menegaskan pentingnya penerbitan program-program pro masyarakat dengan penyampaian yang mudah dipahami dan sesuai budaya setempat. Sebagai contoh, tidak mudah meminta perokok dewasa untuk menghentikan kebiasaan merokok secara langsung. &#8220;Oleh karena itu, memaksimalkan konsep pengurangan bahaya tembakau melalui pemanfaatan produk tembakau alternatif dapat menjadi opsi terbaik bagi perokok dewasa untuk mengurangi risiko akibat kebiasaan merokok sekaligus membantu Pemerintah Kota Medan dalam menurunkan prevalensi merokok serta angka PTM,&#8221; imbuhnya.</p>
<p>Pada kesempatan yang sama, Akademisi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran, Dr. Indra Mustika S.P, drg., Sp. Perio (K), menjelaskan bahwa kebiasaan merokok tidak serta merta dapat diubah secara singkat. Buktinya, pendekatan konvensional dengan melarang berhenti merokok secara langsung tidak berhasil, sehingga diperlukan pendekatan lebih inovatif. Memberikan informasi akurat dan akses kepada produk tembakau alternatif juga memainkan peranan penting.</p>
<p>Sependapat dengan Dr. Cashtry, Dr. Indra mengatakan bahwa kolaborasi lintas sektor akan lebih efektif dalam menurunkan prevalensi merokok. &#8220;Hasil penelitian dapat dipertimbangkan pemerintah untuk membuat kebijakan berbasis bukti ilmiah (evidence based), yang harapannya bisa didorong untuk menjadi dasar membuat peraturan,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Dr. Indra menegaskan, pemerintah memiliki tanggung jawab penting dalam mendukung perokok dewasa yang ingin berhenti merokok, salah satunya dengan memastikan akses terhadap informasi yang akurat, transparan, dan tidak dibatas-batasi. &#8220;Masyarakat berhak tahu secara utuh tentang perbedaan profil risiko antara produk tembakau alternatif dengan rokok sehingga masyarakat dapat membuat keputusan dengan bijak,&#8221; tutup dia.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2024/12/04/Perlunya-Kolaborasi-Lintas-Sektor-untuk-Mengurangi-Angka-Penyakit-Tidak-Menular-di-Kota-Medan.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="700"
				height="466">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[Perlunya Kolaborasi Lintas Sektor untuk Mengurangi Angka Penyakit Tidak Menular di Kota Medan]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2024/12/04/Perlunya-Kolaborasi-Lintas-Sektor-untuk-Mengurangi-Angka-Penyakit-Tidak-Menular-di-Kota-Medan-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[Perlunya Kolaborasi Lintas Sektor untuk Mengurangi Angka Penyakit Tidak Menular di Kota Medan]]></media:description>
													<media:copyright>Tim Press Release</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Kunci Tingkatkan Kualitas Hidup Masyarakat di Kota Medan: Edukasi Pengurangan Bahaya Tembakau</title>
		<link>https://bisnis.cilacap.info/ci-67577/kunci-tingkatkan-kualitas-hidup-masyarakat-di-kota-medan-edukasi-pengurangan-bahaya-tembakau</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Press Release]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 Dec 2024 14:00:38 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Koalisi Indonesia Bebas TAR (KABAR)]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bisnis.cilacap.info/ci-67577/kunci-tingkatkan-kualitas-hidup-masyarakat-di-kota-medan-edukasi-pengurangan-bahaya-tembakau</guid>

					<description><![CDATA[MEDAN,  aria-label="Bisnis Cilacap.info">CILACAP.INFO &#8211; Merokok menjadi salah satu tantangan serius bagi pemerintah pusat dan daerah dalam menciptakan perbaikan kualitas hidup masyarakat. Tingginya prevalensi merokok berkorelasi terhadap angka Penyakit Tidak Menular (PTM) di Indonesia, termasuk Kota Medan, Sumatera Utara. Dalam upaya mencapai tujuan untuk mengurangi angka perokok dan risiko terhadap PTM, para pemangku kepentingan terkait perlu mendorong strategi edukatif mengenai konsep pengurangan bahaya tembakau (tobacco harm reduction).]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>MEDAN, </strong><a href="https://bisnis.cilacap.info" aria-label="Bisnis Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Merokok menjadi salah satu tantangan serius bagi pemerintah pusat dan daerah dalam menciptakan perbaikan kualitas hidup masyarakat. Tingginya prevalensi merokok berkorelasi terhadap angka Penyakit Tidak Menular (PTM) di Indonesia, termasuk Kota Medan, Sumatera Utara. Dalam upaya mencapai tujuan untuk mengurangi angka perokok dan risiko terhadap PTM, para pemangku kepentingan terkait perlu mendorong strategi edukatif mengenai konsep pengurangan bahaya tembakau (tobacco harm reduction).</p>
<p>Medan, 23 November 2024 – Merokok menjadi salah satu tantangan serius bagi pemerintah pusat dan daerah dalam menciptakan perbaikan kualitas hidup masyarakat. Tingginya prevalensi merokok berkorelasi terhadap angka Penyakit Tidak Menular (PTM) di Indonesia, termasuk Kota Medan, Sumatera Utara. Dalam upaya mencapai tujuan untuk mengurangi angka perokok dan risiko terhadap PTM, para pemangku kepentingan terkait perlu mendorong strategi edukatif mengenai konsep pengurangan bahaya tembakau (<em>tobacco harm reduction</em>).</p>
<p>Topik ini menjadi pembahasan utama dalam diskusi yang diselenggarakan Koalisi Indonesia Bebas TAR (KABAR) dengan mengusung tema <strong>“Penerapan Pengurangan Bahaya dalam Menekan Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular di Kota Medan”</strong> di Medan, Sabtu (23/11/2024). Narasumber diskusi ini antara lain Guru Besar Kehormatan Universitas Prima, Prof. dr. Mariatul Fadilah, MARS., Sp.KKLP., Ph.D, Praktisi Kesehatan, Dr. dr. Cashtry Meher, M.Kes, M.H.Kes., Sp. DVE, dan Akademisi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran, Dr. Indra Mustika S.P, drg., Sp. Perio (K).</p>
<p><strong>Guru Besar Kehormatan Universitas Prima Indonesia, Prof. dr. Mariatul Fadilah, MARS., Sp.KKLP., Ph.D,</strong> menjelaskan kebiasaan merokok merupakan salah satu faktor utama pemicu berbagai PTM kronis, termasuk stroke, jantung, dan kanker.</p>
<p>“Dengan tingginya prevalensi merokok di Indonesia yang sudah melebihi 70 juta orang, maka hal ini akan berdampak signifikan terhadap peningkatan kasus Penyakit Tidak Menular di masyarakat. Permasalahan ini perlu diselesaikan dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan terkait agar prevalensi merokok semakin berkurang sehingga memperkecil risiko terpapar Penyakit Tidak Menular demi terciptanya peningkatan kualitas hidup masyarakat,” kata Prof. Mariatul.</p>
<p>Menurut Prof. Mariatul, perokok dewasa mengalami kesulitan untuk berhenti kebiasaan merokok secara langsung (<em>cold turkey</em>). Oleh sebab itu, perlu adanya kolaborasi dengan para pemangku kepentingan terkait seperti pemerintah pusat dan daerah, kementerian/lembaga, akademisi, praktisi kesehatan, hingga komunitas untuk mengedukasi penerapan pola hidup sehat, seperti mulai dari menjaga pola makan, rutin berolahraga, tidur teratur, dan menghindari kebiasaan merokok.</p>
<p>“Perokok dewasa perlu mendapatkan edukasi mengenai penerapan pola hidup sehat yang membantunya untuk keluar dari kebiasaan merokok. Upaya tersebut tentunya perlu dibarengi dengan dukungan moril dari lingkungan terdekat agar perokok dewasa memiliki keyakinan kuat untuk berhenti dari kebiasaan merokok demi memperbaiki kualitas hidupnya,” kata Prof. Mariatul.</p>
<p><strong>Praktisi Kesehatan, Dr. dr. Cashtry Meher, M.Kes, M.H.Kes., M.Ked (DV), Sp. DV,</strong> menambahkan, berhenti merokok secara langsung memang sangat sulit dilakukan. Sebab, perokok dewasa berpotensi untuk mengalami gejala relapse atau kembali ke kebiasaan merokok. Oleh sebab itu, selain mendorong penerapan pola hidup sehat, perlu adanya upaya edukatif lainnya seperti penerapan konsep pengurangan bahaya tembakau (<em>tobacco harm reduction</em>) yang memanfaatkan inovasi teknologi terkini untuk mengurangi kebiasaan merokok. Dengan mengoptimalkan upaya alternatif tersebut, prevalensi merokok, terutama di Kota Medan, diharapkan dapat turun.</p>
<p>“Memaksimalkan konsep pengurangan bahaya tembakau melalui pemanfaatan produk tembakau alternatif dapat menjadi opsi terbaik bagi perokok dewasa untuk mengurangi kebiasaan merokok sekaligus membantu Pemerintah Kota Medan dalam menurunkan prevalensi merokok serta angka Penyakit Tidak Menular,” jelas Dr. Cashtry dalam paparannya.</p>
<p>Berdasarkan data Badan Kesehatan Dunia (WHO), kebiasaan merokok meningkatkan risiko terpapar PTM. Adapun menurut data Survei Ekonomi Nasional (Susenas) 2023 menunjukkan angka perokok aktif cukup tinggi di Kota Medan, terutama di kalangan pria dewasa dengan persentase mencapai 42% di kalangan usia 24 hingga 54 tahun.</p>
<p>Dr. Cashtry meneruskan, upaya edukatif dapat dilakukan oleh tenaga medis, sebagai garda terdepan dalam menyebarluaskan konsep pengurangan bahaya tembakau. Sebab, tenaga medis, seperti dirinya, berinteraksi langsung dengan perokok. Selain itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Medan dapat menyelaraskan upaya edukatif seperti penerapan konsep pengurangan bahaya tembakau dengan program skrining Penyakit Tidak Menular di tingkat Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas). Pendekatan tersebut dapat menjadi langkah konkret mengurangi masalah Penyakit Tidak Menular sehingga target Pemkot Medan dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat dapat terealisasikan.</p>
<p>“Pemkot Medan bersama seluruh pemangku kepentingan juga dapat berkolaborasi untuk memasifkan konsep pengurangan bahaya tembakau agar semakin efektif dalam menurunkan prevalensi merokok dan angka Penyakit Tidak Menular. Dengan demikian, pendekatan pengurangan bahaya tembakau selaras dengan program pembangunan Sumber Daya Manusia di Kota Medan,” tegasnya.</p>
<p><strong>Akademisi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran, Dr. Indra Mustika S.P, drg., Sp. Perio (K),</strong> menjelaskan penerapan konsep pengurangan bahaya tembakau diimplementasikan dengan mendorong perokok dewasa memanfaatkan produk tembakau alternatif, seperti vape dan produk tembakau yang dipanaskan untuk opsi beralih, yang secara kajian ilmiah terbukti memiliki risiko lebih rendah dari rokok.</p>
<p>Bukti bahwa produk tembakau alternatif lebih rendah risiko diperkuat dengan kajian ilmiah bertajuk “Pemeriksaan Kadar TNF-α dan Kapasitas Antioksidan Saliva pada Perokok yang Beralih ke Produk Yang Tidak Dibakar: Sebuah Uji Coba Terkontrol Secara Acak” yang dipublikasikan pada 2023. Penelitian ini melibatkan 34 peserta berusia 18-65 tahun dengan <em>gingivitis</em> yang terbagi secara acak ke dalam dua kelompok. Hasilnya, kelompok yang beralih ke produk tembakau alternatif memiliki total kapasitas antioksidan di dalam tubuh yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok perokok. Sementara itu, kadar TNF-α yang merupakan faktor penting dalam proses peradangan dalam penelitian ini ditemukan lebih rendah pada kelompok yang beralih daripada kelompok yang terus merokok. Dengan demikian, kajian ilmiah tersebut membuktikan bahwa risiko pada produk tembakau alternatif lebih rendah daripada rokok.</p>
<p>“Hasil studi klinis tersebut memberikan bukti ilmiah bahwa produk tembakau alternatif berhasil menerapkan pengurangan risiko karena terjadi penurunan profil risiko dari penggunaannya. Dengan fakta tersebut, Pemkot Medan dapat memaksimalkan produk tersebut sebagai intervensi dalam menurunkan prevalensi merokok di Kota Medan. Harapannya, turunnya angka perokok akan berdampak signifikan terhadap berkurangnya angka Penyakit Tidak Menular sehingga terciptanya perbaikan kualitas kesehatan masyarakat,” tutup Indra.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2024/12/04/Kunci-Tingkatkan-Kualitas-Hidup-Masyarakat-di-Kota-Medan-Edukasi-Pengurangan-Bahaya-Tembakau.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="700"
				height="466">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[Kunci Tingkatkan Kualitas Hidup Masyarakat di Kota Medan Edukasi Pengurangan Bahaya Tembakau]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2024/12/04/Kunci-Tingkatkan-Kualitas-Hidup-Masyarakat-di-Kota-Medan-Edukasi-Pengurangan-Bahaya-Tembakau-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[Kunci Tingkatkan Kualitas Hidup Masyarakat di Kota Medan Edukasi Pengurangan Bahaya Tembakau]]></media:description>
													<media:copyright>Tim Press Release</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
	</channel>
</rss>
