<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" >

<channel>
	<title>Kumpulan Pos AI &#8211; Bisnis Cilacap.info</title>
	<atom:link href="https://bisnis.cilacap.info/tag/ai/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://bisnis.cilacap.info</link>
	<description>Media Online Masa Kini, Akurat, Mengedepankan Etika</description>
	<lastBuildDate>Sat, 11 Jul 2026 10:57:02 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	
<image>
<url>https://img.cilacap.info/images/bisnis/favicon-32x32.png</url><title>Kumpulan Pos AI &#8211; Bisnis Cilacap.info</title>
<link>https://bisnis.cilacap.info</link>
<width>32</width><height>32</height><description>Berita Seputar Bisnis</description>
</image>
	<item>
		<title>Penggunaan AI Tembus 45 Miliar Sesi per Bulan, Cara Konsumen Cari Informasi Mulai Berubah</title>
		<link>https://bisnis.cilacap.info/ci-96074/penggunaan-ai-tembus-45-miliar-sesi-per-bulan-cara-konsumen-cari-informasi-mulai-berubah</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Press Release]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 11 Jul 2026 08:42:12 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[AI]]></category>
		<category><![CDATA[pencarian informasi]]></category>
		<category><![CDATA[strategi brand]]></category>
		<category><![CDATA[Transformasi Digital]]></category>
		<category><![CDATA[visibilitas digital]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bisnis.cilacap.info/ci-96074/penggunaan-ai-tembus-45-miliar-sesi-per-bulan-cara-konsumen-cari-informasi-mulai-berubah</guid>

					<description><![CDATA[JAKARTA, CILACAP.INFO &#8211; Penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk mencari dan mengakses informasi terus meningkat.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JAKARTA</strong>, <a href="https://bisnis.cilacap.info" aria-label="Bisnis Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk mencari dan mengakses informasi terus meningkat.</p>
<p>Perkembangan ini mulai mengubah cara konsumen menemukan jawaban, dari yang sebelumnya mengandalkan pencarian melalui berbagai situs web, menjadi langsung berinteraksi dengan sistem AI yang mampu merangkum informasi secara instan.</p>
<p>Perubahan tersebut terlihat dari riset terbaru Graphite yang menunjukkan bahwa volume sesi penggunaan AI secara global kini telah mencapai sekitar 56 persen dari ukuran aktivitas mesin pencari dunia.</p>
<p>Dari jumlah tersebut, sekitar 28 persen secara langsung berkaitan dengan kebutuhan pencarian informasi, sementara ChatGPT sendiri diperkirakan telah mewakili sekitar 20 persen aktivitas pencarian berbasis pertanyaan secara global.</p>
<p>Data yang sama juga menunjukkan bahwa penggunaan AI telah mencapai sekitar 45 miliar sesi per bulan, dengan mayoritas aktivitas dilakukan melalui perangkat mobile.</p>
<p>Kondisi ini mencerminkan semakin besarnya peran AI dalam kehidupan digital sehari-hari, termasuk dalam proses pencarian dan konsumsi informasi.</p>
<p>Seiring dengan meningkatnya adopsi AI, perilaku pengguna internet pun mulai berubah.</p>
<p>Jika sebelumnya pengguna terbiasa membuka banyak halaman untuk membandingkan informasi dari berbagai sumber, kini mereka semakin mengandalkan jawaban yang telah dirangkum dan disajikan secara langsung oleh sistem AI.</p>
<p>Perubahan ini turut memengaruhi cara brand membangun visibilitas digital. Ketika pengguna memperoleh jawaban langsung dari AI, keberadaan sebuah brand tidak lagi hanya ditentukan oleh posisinya di mesin pencari atau jumlah kunjungan ke website.</p>
<p>Menurut Avonetiq, perusahaan yang berfokus pada penguatan otoritas dan visibilitas brand di era AI, fenomena tersebut menandai pergeseran penting dalam lanskap digital.</p>
<p>Visibilitas kini semakin ditentukan oleh kemampuan sebuah brand untuk dikenali, dipahami, dan dipercaya oleh sistem AI saat menghasilkan jawaban bagi pengguna.</p>
<p>“Ketika AI menjadi titik awal dalam pencarian informasi, brand tidak lagi hanya bersaing untuk mendapatkan klik. Mereka harus memastikan informasi tentang bisnisnya cukup jelas, konsisten, dan kredibel sehingga layak dijadikan referensi oleh sistem AI,” ujar Alexandro Wibowo, Partner Avonetiq.</p>
<p>Berbeda dengan mesin pencari tradisional yang menampilkan daftar tautan, sistem AI bekerja dengan mengumpulkan informasi dari berbagai sumber, mengevaluasi relevansinya, lalu menyusun jawaban yang dianggap paling membantu bagi pengguna.</p>
<p>Dalam proses tersebut, kualitas dan konsistensi jejak digital menjadi faktor yang semakin penting.</p>
<p>Karena itu, banyak perusahaan mulai mengevaluasi kembali strategi visibilitas digital mereka.</p>
<p>Tidak cukup hanya memiliki website atau menghasilkan konten dalam jumlah besar, tetapi juga memastikan informasi mengenai brand tersedia secara konsisten di berbagai kanal dan dapat divalidasi oleh sumber-sumber terpercaya.</p>
<p>Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Avonetiq mengembangkan AVO AI, platform yang membantu perusahaan memahami bagaimana brand mereka dipersepsikan oleh berbagai sistem AI, mengidentifikasi kesenjangan informasi, serta menemukan peluang untuk meningkatkan visibilitas dan otoritas digital.</p>
<p>Melalui analisis berbasis AI, platform ini membantu perusahaan memantau representasi brand dalam berbagai sistem AI, mengidentifikasi kesenjangan informasi, serta memberikan rekomendasi untuk memperkuat otoritas digital agar lebih mudah dikenali dan dipercaya.</p>
<p>“Banyak perusahaan masih mengukur visibilitas digital dari traffic dan peringkat pencarian. Padahal, di era AI, pertanyaan yang lebih penting adalah apakah brand kita muncul ketika pengguna meminta rekomendasi atau mencari informasi melalui AI. Karena itu, fokusnya tidak lagi sekadar get found, tetapi get chosen, yaitu menjadi jawaban yang dipilih ketika AI membantu pengguna mengambil keputusan,” tambah Alexandro.</p>
<p>Dengan penggunaan AI yang terus meningkat dalam aktivitas pencarian, perusahaan didorong untuk memahami perubahan perilaku konsumen yang sedang berlangsung.</p>
<p>Tantangan ke depan bukan lagi sekadar bagaimana ditemukan di internet, tetapi bagaimana memastikan brand tetap relevan ketika AI semakin berperan sebagai sumber jawaban utama bagi pengguna.</p>
<p>Informasi lebih lanjut mengenai AVO AI dapat diakses melalui getavo.ai.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2026/07/11/Penggunaan-AI-Tembus-45-Miliar-Sesi-per-Bulan.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1152"
				height="768">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[Penggunaan AI Tembus 45 Miliar Sesi per Bulan]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2026/07/11/Penggunaan-AI-Tembus-45-Miliar-Sesi-per-Bulan-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[Penggunaan AI Tembus 45 Miliar Sesi per Bulan]]></media:description>
													<media:copyright>Tim Press Release</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Simbiosis Manusia-AI: Bagaimana Pasar Berkembang Lebih Dulu Membangun Masa Depan</title>
		<link>https://bisnis.cilacap.info/ci-92576/simbiosis-manusia-ai-bagaimana-pasar-berkembang-lebih-dulu-membangun-masa-depan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Press Release]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 01 Jun 2026 04:31:08 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[AI]]></category>
		<category><![CDATA[Artificial Intelligence]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia Open Network]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bisnis.cilacap.info/ci-92576/simbiosis-manusia-ai-bagaimana-pasar-berkembang-lebih-dulu-membangun-masa-depan</guid>

					<description><![CDATA[JAKARTA, CILACAP.INFO &#8211; Selama empat dekade terakhir, pasar berkembang menempuh jalur yang berbeda dalam mencapai kematangan teknologi.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JAKARTA</strong>, <a href="https://bisnis.cilacap.info" aria-label="Bisnis Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Selama empat dekade terakhir, pasar berkembang menempuh jalur yang berbeda dalam mencapai kematangan teknologi.</p>
<p>Alih-alih mengikuti model yang digunakan negara maju, mereka justru melompati infrastruktur lama dan langsung membangun sistem berbasis cloud-native serta API-driven sejak awal.</p>
<p>Kini, ketika Artificial Intelligence (AI) mulai mengubah cara perusahaan beroperasi, pertanyaannya bukan lagi siapa yang paling cepat mengadopsi teknologi, melainkan siapa yang memiliki fondasi yang tepat untuk menggunakannya secara bertanggung jawab.</p>
<p>Tulisan ini membahas bagaimana lahirnya generasi baru &#8220;perancang sistem&#8221; mampu mengisi kekosongan dalam ekosistem teknologi, serta mengapa AI justru memperkuat keunggulan organisasi yang memiliki infrastruktur modern dan pengambilan keputusan manusia yang disiplin.</p>
<h2><strong>Tiga Era Teknologi di Pasar Berkembang</strong> </h2>
<p><strong>Era 1: Ketergantungan pada Produk MNC (1980-an–2000-an)</strong> </strong>
Pada masa awal, perusahaan besar di pasar berkembang hanya memiliki dua pilihan: menggunakan produk perusahaan multinasional (MNC) yang mahal dan kaku seperti SAP, Oracle, atau mainframe, atau membangun solusi seadanya yang sulit dipertahankan dalam jangka panjang.</p>
<p>Sebagian besar perusahaan menengah memilih opsi kedua. Mereka membangun sistem tambal sulam yang dipimpin programmer senior berbakat, tetapi tanpa disiplin arsitektur yang matang.</p>
<p>Pada masa itu, desain sistem belum dianggap sebagai disiplin tersendiri. Yang penting sistem bisa berjalan.</p>
<p>Spreadsheet digunakan untuk menutupi berbagai kekurangan. Akibatnya, sistem menjadi rapuh, mahal dirawat, dan sulit berkembang ketika bisnis mulai membesar.
<strong>Era 2: Munculnya Perancang Sistem (2005–2020)</strong> </strong>
Perubahan besar mulai terjadi ketika generasi baru teknolog dari India, Vietnam, dan Filipina tidak lagi sekadar mengeksekusi spesifikasi, tetapi mulai merancang sistem secara menyeluruh.</p>
<p>Perusahaan seperti Infosys, Wipro, TCS, dan berbagai perusahaan teknologi boutique menghadirkan sesuatu yang sebelumnya sulit diakses perusahaan menengah: arsitek teknologi kelas dunia dengan biaya jauh lebih terjangkau dibanding perusahaan multinasional besar.</p>
<p>Untuk pertama kalinya, perusahaan menengah dapat berkata:
<strong>Era 3: Keunggulan Leapfrog (2020–Sekarang)</strong> </strong>
Ketika negara maju menghabiskan dekade 2010-an untuk memodernisasi sistem lama yang rumit, pasar berkembang justru sudah lebih dulu membangun fondasi berbasis cloud-native dan API-first.</p>
<p>Hasilnya, banyak perusahaan di India, Vietnam, dan pasar berkembang lainnya kini memiliki arsitektur teknologi yang lebih modern dibanding sejumlah perusahaan di negara maju.</p>
<p>Ini bukan kebetulan. Pasar berkembang terpaksa membangun dengan cara berbeda karena mereka tidak mampu membayar &#8220;biaya mahal&#8221; produk MNC. Keterbatasan itulah yang akhirnya berubah menjadi keunggulan kompetitif.</p>
<h2><strong>Paradigma Baru: AI sebagai Kolaborasi yang Disiplin</strong> </h2>
<p>AI adalah lompatan besar berikutnya dalam produktivitas, tetapi hanya jika diperlakukan sebagai kecerdasan kolaboratif, bukan solusi otomatis sepenuhnya.</p>
<p>Nilai AI sesungguhnya bertumpu pada dua hal utama:</p>
<p><strong>1. Human-in-the-loop</strong> </p>
<p>AI adalah asisten yang sangat cerdas, tetapi bukan pengganti manusia sepenuhnya. Nilainya bergantung pada kualitas prompt, penilaian, dan validasi manusia di setiap tahap.</p>
<p>Developer yang memahami logika bisnis, konteks industri, dan batasan arsitektur akan mendapatkan manfaat jauh lebih besar dari AI dibanding mereka yang menganggap AI sebagai pengganti proses berpikir.</p>
<p>Dan itu memang tujuan desain AI sejak awal.</p>
<p><strong>2. Guard Rails</strong> </p>
<p>AI juga membawa risiko baru, mulai dari kode dengan dependensi tersembunyi, logika probabilistik dalam sistem penting, hingga kasus-kasus tertentu yang belum mampu ditangani dengan baik oleh model AI saat ini.</p>
<p>Tanpa guard rails, penggunaan AI dalam pengembangan justru berpotensi menciptakan technical debt baru.</p>
<p>Guard rails mencakup automated testing, code review, audit trail, hingga mekanisme fallback yang memastikan kode hasil AI tetap memenuhi standar produksi.</p>
<h2><strong>Kesimpulan: Integrator yang Bijak Akan Menjadi Pemenang</strong> </h2>
<p>Paradoks adopsi teknologi menunjukkan satu hal menarik: terlambat mengadopsi sistem lama justru membuat pasar berkembang lebih cepat memasuki era arsitektur modern.</p>
<p>Pasar berkembang bukan sekadar mengejar ketertinggalan dari Barat. Mereka melewati jalan buntu tersebut dan langsung membangun fondasi masa depan.</p>
<p>Organisasi yang memiliki fondasi modern, talenta dengan kemampuan desain sistem, dan disiplin produksi tidak hanya mampu mengadopsi AI lebih cepat, tetapi juga lebih baik.</p>
<p>Mereka menggabungkan seni (design thinking), sains (validasi yang ketat), dan kecerdasan (pengembangan berbasis AI) menjadi hasil yang berkelanjutan.</p>
<p>Pada akhirnya, masa depan bukan milik mereka yang paling cepat mengadopsi teknologi baru, melainkan mereka yang paling bijak mengintegrasikannya — mereka yang memahami bahwa kecerdasan bukan tentang mesin menggantikan manusia, tetapi manusia yang mampu mengarahkan mesin dengan disiplin dan tujuan yang jelas.</p>
<p>Bagi pasar berkembang, inilah momen untuk memimpin.</p>
<p><strong>­­Press Release ini juga sudah tayang di VRITIMES</strong> </p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2026/06/01/Simbiosis-Manusia-.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="700"
				height="394">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[Simbiosis Manusia-AI: Bagaimana Pasar Berkembang Lebih Dulu Membangun Masa Depan]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2026/06/01/Simbiosis-Manusia--100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[Simbiosis Manusia-AI: Bagaimana Pasar Berkembang Lebih Dulu Membangun Masa Depan]]></media:description>
													<media:copyright>Tim Press Release</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Optimalkan AI, MiiTel Ubah Percakapan Bisnis Jadi Data Strategis</title>
		<link>https://bisnis.cilacap.info/ci-90578/optimalkan-ai-miitel-ubah-percakapan-bisnis-jadi-data-strategis</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Press Release]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 30 Apr 2026 15:04:26 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[AI]]></category>
		<category><![CDATA[MiiTel]]></category>
		<category><![CDATA[Optimalkan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bisnis.cilacap.info/ci-90578/optimalkan-ai-miitel-ubah-percakapan-bisnis-jadi-data-strategis</guid>

					<description><![CDATA[JAKARTA, CILACAP.INFO &#8211; Seiring berkembangnya pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) di dunia bisnis, perusahaan kini tidak lagi hanya membutuhkan AI sebagai alat bantu, tetapi juga sebagai sistem yang dapat mendukung pengambilan keputusan berbasis data nyata.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JAKARTA</strong>, <a href="https://bisnis.cilacap.info" aria-label="Bisnis Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Seiring berkembangnya pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) di dunia bisnis, perusahaan kini tidak lagi hanya membutuhkan AI sebagai alat bantu, tetapi juga sebagai sistem yang dapat mendukung pengambilan keputusan berbasis data nyata.</p>
<p>Dalam konteks ini, sebagai penyedia solusi <strong>AI </strong> <strong><em>voice analytics</em></strong>, MiiTel melihat bahwa salah satu sumber data paling kaya namun paling sering terabaikan adalah percakapan suara yang terjadi setiap hari dalam aktivitas bisnis. </p>
<p>Percakapan seperti <em>meeting</em> dengan klien, layanan pelanggan via telepon, hingga diskusi internal tim di kantor sebenarnya menyimpan banyak informasi penting. Namun, dalam praktiknya, sebagian besar percakapan tersebut hanya direkam dan disimpan sebagai arsip tanpa dianalisis lebih lanjut.</p>
<p>Akibatnya, perusahaan kehilangan potensi <em>insight</em> yang sebenarnya dapat digunakan untuk meningkatkan performa penjualan, kualitas layanan, hingga strategi bisnis secara keseluruhan.</p>
<p>Hal ini dikenal sebagai <strong><em>&#8220;black box problem&#8221;</em></strong>, yaitu kondisi ketika perusahaan tidak benar-benar mengetahui apa yang terjadi dalam percakapan antara tim dan pelanggan. Padahal, di dalam percakapan tersebut terdapat data yang sangat berharga untuk memahami pola keberhasilan, kegagalan, hingga kebutuhan pelanggan secara lebih akurat.</p>
<p><strong>Mengubah Percakapan Suara Menjadi Aset Data Strategis</strong> </p>
<p>Untuk menjawab tantangan tersebut, MiiTel hadir sebagai solusi berbasis AI yang mengubah percakapan suara menjadi data yang dapat dianalisis dan dimanfaatkan. </p>
<p>Sistem ini bekerja dengan cara merekam percakapan, mengubahnya menjadi teks secara otomatis, kemudian menganalisis isi percakapan untuk menghasilkan <em>insight</em> yang relevan bagi bisnis.</p>
<p>Proses ini berjalan melalui tiga tahap yang saling terhubung. Percakapan suara dari berbagai aktivitas bisnis terlebih dahulu ditangkap sebagai input data. Selanjutnya, AI MiiTel melakukan transkripsi otomatis dan analisis percakapan untuk mengekstrak berbagai informasi penting seperti pola komunikasi, kata kunci, hingga evaluasi performa percakapan. Hasil akhirnya adalah data teks yang terstruktur, mudah dicari, dan dapat digunakan kembali untuk analisis maupun pengembangan AI perusahaan di masa depan.</p>
<p>Dengan pendekatan ini, MiiTel tidak hanya berfungsi sebagai alat perekam percakapan, tetapi juga sebagai sistem yang membangun <em>database</em> komunikasi perusahaan secara berkelanjutan. </p>
<p>Data tersebut kemudian dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, seperti peningkatan kualitas <em>coaching</em> tim<em> sales</em>, evaluasi performa komunikasi, hingga pengembangan strategi bisnis berbasis data.</p>
<p><strong>Dengan MiiTel, Ciptakan AI yang Memahami Bisnis Anda</strong> </p>
<p>Seiring waktu, akumulasi data percakapan tersebut menciptakan nilai yang semakin besar. Perusahaan dapat mulai mengidentifikasi pola yang sebelumnya tidak terlihat, seperti faktor utama keberhasilan <em>closing</em>, penyebab kegagalan <em>deal</em>, hingga cara komunikasi yang paling efektif dalam meningkatkan konversi. </p>
<p>Berdasarkan data yang telah dikumpulkan, perusahaan juga dapat mengembangkan model AI custom yang mampu memberikan rekomendasi dan prediksi bisnis secara lebih presisi.</p>
<p>Pendekatan ini sejalan dengan perkembangan teknologi MiiTel yang telah digunakan oleh ribuan perusahaan di berbagai negara. Solusi ini tidak hanya membantu meningkatkan produktivitas tim <em>sales</em>, tetapi juga memperkuat kualitas pengambilan keputusan berbasis data percakapan yang sebelumnya tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal.</p>
<p>Di tengah semakin luasnya penggunaan AI di berbagai industri, perbedaan utama antar perusahaan tidak lagi terletak pada akses terhadap teknologi, melainkan pada kepemilikan data yang digunakan untuk melatih AI tersebut. </p>
<p>Perusahaan yang hanya menggunakan AI generik akan memiliki keterbatasan karena tidak memiliki konteks internal bisnisnya sendiri. Sebaliknya, perusahaan yang mampu mengelola data percakapan secara konsisten akan memiliki keunggulan kompetitif yang sulit ditiru.</p>
<p>MiiTel menegaskan komitmennya untuk membantu perusahaan bertransformasi dari sekadar pengguna AI menjadi pemilik kecerdasan berbasis data mereka sendiri. </p>
<p>Dengan mengubah percakapan menjadi aset digital yang terstruktur dan dapat dikembangkan, MiiTel membuka peluang bagi perusahaan untuk membangun sistem AI yang lebih akurat, relevan, dan berkelanjutan sesuai kebutuhan bisnis masing-masing.</p>
<p><strong>About RevComm</strong> </p>
<p>Berangkat dari visi &#8220;Reinventing communication to create a society where people think of others,&#8221; RevComm adalah perusahaan yang mengoptimalkan teknologi Voice dan AI untuk mengatasi masalah komunikasi dalam bisnis. </p>
<p>Melalui produk seperti &#8220;MiiTel Phone&#8221; untuk analisis percakapan telepon dan &#8220;MiiTel Meetings&#8221; untuk analisis online dan offline meeting, kami mewujudkan big data dari setiap komunikasi suara.</p>
<p>RevComm menjadi salah satu perusahaan teknologi Jepang dengan pertumbuhan tercepat. Dalam lima tahun, RevComm menjadi unicorn dan meraih berbagai penghargaan: Forbes Japan’s Startup of the Year, Google for Startups, AWS Summit, Mizuho Innovation Award, Japan Venture Awards, dan menjadi satu-satunya perusahaan Asia dalam daftar Forbes AI 50 2023.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2026/04/30/Screenshot-2026-04-30-203053.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="728">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[Ilustrasi Berita (Sumber: RevComm)]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2026/04/30/Screenshot-2026-04-30-203053-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[Ilustrasi Berita (Sumber: RevComm)]]></media:description>
													<media:copyright>Tim Press Release</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>57% Jawaban AI Tidak Menyebut Brand, Apa Dampaknya bagi Bisnis?</title>
		<link>https://bisnis.cilacap.info/ci-90563/57-jawaban-ai-tidak-menyebut-brand-apa-dampaknya-bagi-bisnis</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Press Release]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 30 Apr 2026 14:53:54 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[AI]]></category>
		<category><![CDATA[Bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[Brand]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bisnis.cilacap.info/ci-90563/57-jawaban-ai-tidak-menyebut-brand-apa-dampaknya-bagi-bisnis</guid>

					<description><![CDATA[JAKARTA, CILACAP.INFO &#8211; Penggunaan AI mengubah cara pengguna internet cari informasi, brand kini harus masuk dalam jawaban AI agar tetap terlihat.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JAKARTA</strong>, <a href="https://bisnis.cilacap.info" aria-label="Bisnis Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Penggunaan AI mengubah cara pengguna internet cari informasi, brand kini harus masuk dalam jawaban AI agar tetap terlihat.</p>
<p>Perubahan besar sedang terjadi terkait cara konsumen mencari informasi di internet. Jika sebelumnya pencarian didominasi oleh klik ke berbagai situs web melalui mesin pencari, kini semakin banyak pengguna yang langsung mendapatkan jawaban instan dari sistem berbasis kecerdasan buatan (AI).</p>
<p>Data terbaru menunjukkan bahwa perubahan ini bukan sekadar tren sementara. Riset terhadap 5.600 pencarian menemukan bahwa lebih dari separuh respons Google AI Overviews, yakni sebesar <strong>57,5%, tidak menyebutkan </strong> <strong><em>brand</em></strong> <strong> apa pun</strong> . Artinya, dalam banyak kasus, pengguna mendapatkan jawaban tanpa eksposur terhadap <em>brand</em> tertentu.</p>
<p>Fenomena ini diperkuat oleh perubahan perilaku pencarian. Laporan <em>SparkToro</em> mencatat bahwa <strong>58,5% pencarian Google berakhir tanpa klik ke situs eksternal</strong> . Sementara itu, <em>Ahrefs</em> menemukan bahwa kehadiran AI Overviews dapat menurunkan <em>click-through rate</em> (CTR) hasil pencarian nomor satu hingga 58%, dengan <em>zero-click rate</em> mencapai 83% pada jenis pencarian tertentu.</p>
<p>Di Indonesia, tren serupa juga mulai terlihat. Dalam riset yang dipublikasikan oleh Dedy Budiman, Champion Sales Trainer sekaligus Founder Sales Director Indonesia (SDI), sebanyak <strong>74,6% pengguna internet</strong> aktif menggunakan AI untuk riset produk, dan <strong>52,3% keputusan pembelian dipengaruhi oleh brand yang disebut dalam jawaban AI</strong> .</p>
<p>Temuan ini menunjukkan bahwa visibilitas dalam sistem AI tidak hanya berdampak pada pencarian informasi, tetapi juga pada tahap awal pengambilan keputusan konsumen. <em>Brand</em> yang tidak muncul dalam jawaban AI berisiko tidak masuk dalam pertimbangan sejak awal.</p>
<p>Menurut analisis Avonetiq, kondisi ini menciptakan perubahan mendasar dalam cara <em>brand</em> bersaing di ranah digital. Jika sebelumnya keberhasilan diukur dari peringkat dan <em>traffic</em>, kini visibilitas ditentukan oleh apakah sebuah <em>brand</em> dianggap cukup kredibel untuk dirangkum sebagai jawaban.</p>
<p>&#8220;Dulu kompetisinya soal <em>ranking</em>. Sekarang, kompetisinya soal kepercayaan. AI tidak menampilkan semua opsi, [melainkan] hanya yang dianggap paling relevan dan bisa diverifikasi,&#8221; ujar Alexandro Wibowo, Co-Founder &amp; Managing Partner dari Avonetiq.</p>
<p>Berbeda dengan mesin pencari tradisional, sistem berbasis AI bekerja dengan menggabungkan berbagai sumber informasi, mengevaluasi konsistensi narasi, serta menilai kredibilitas sebelum menyusun jawaban. Dalam sistem ini, <em>brand</em> dengan jejak digital yang tidak konsisten atau minim validasi eksternal berisiko tidak muncul sama sekali.</p>
<p>Sejumlah praktisi mulai melihat bahwa perubahan ini menandai fase baru dalam strategi digital. Fokus tidak lagi hanya pada optimasi <em>website</em>, tetapi pada bagaimana sebuah <em>brand</em> dipahami sebagai entitas yang kredibel di berbagai sumber.</p>
<p>Pendekatan ini sering dikaitkan dengan konsep <strong>AI Visibility Optimization (AVO)</strong>, yaitu strategi yang berfokus pada pembangunan otoritas digital secara menyeluruh agar <em>brand</em> dapat dikenali, dipahami, dan dipercaya oleh sistem AI.</p>
<p>AVO melibatkan kombinasi antara struktur konten yang lebih mudah diproses oleh AI, konsistensi narasi lintas platform, serta penguatan referensi eksternal melalui publikasi dan validasi pihak ketiga.</p>
<p>&#8220;Di era AI, visibilitas bukan lagi soal seberapa sering <em>brand</em> muncul, tetapi apakah <em>brand</em> tersebut cukup jelas, konsisten, dan memiliki bukti yang bisa diverifikasi,&#8221; tambah Alexandro.</p>
<p>Dengan semakin dominannya peran AI dalam proses pencarian, perusahaan didorong untuk mengevaluasi ulang strategi digital mereka. Tantangan utama tidak lagi sekadar menarik <em>traffic</em>, tetapi memastikan <em>brand</em> tetap relevan dalam sistem yang kini menjadi perantara utama antara informasi dan keputusan konsumen.</p>
<p>Dalam lanskap baru ini, hanya <em>brand</em> yang mampu membangun kredibilitas secara konsisten yang memiliki peluang untuk tetap muncul—bukan hanya di hasil pencarian, tetapi dalam jawaban AI itu sendiri.</p>
<p><strong>About Avonetiq</strong> </p>
<p>Avonetiq adalah Digital Authority Firm yang berfokus pada penguatan otoritas brand di era kecerdasan buatan (AI). Avonetiq membantu brand tetap terlihat dan relevan ketika konsumen beralih dari mesin pencari ke answer engine, seperti Google Gemini, ChatGPT, dan lainnya. Melalui AI Visibility Optimization (AVO), Avonetiq membangun fondasi otoritas digital brand agar dapat dikenali, dipahami, dan dipercaya oleh sistem AI sebagai sumber jawaban yang kredibel. </p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2026/04/30/57-Jawaban-AI-Tidak-Menyebut-Brand-Apa-Dampaknya-bagi-Bisnis-1.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="728">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[Ilustrasi Berita (Sumber: Avonetiq)]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2026/04/30/57-Jawaban-AI-Tidak-Menyebut-Brand-Apa-Dampaknya-bagi-Bisnis-1-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[Ilustrasi Berita (Sumber: Avonetiq)]]></media:description>
													<media:copyright>Tim Press Release</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>60% Pengguna Internet Akui Jawaban AI Lebih Jelas, Brand Harus Apa?</title>
		<link>https://bisnis.cilacap.info/ci-89775/60-pengguna-internet-akui-jawaban-ai-lebih-jelas-brand-harus-apa</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Press Release]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 21 Apr 2026 15:39:12 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[AI]]></category>
		<category><![CDATA[Akui]]></category>
		<category><![CDATA[Pengguna Internet]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bisnis.cilacap.info/ci-89775/60-pengguna-internet-akui-jawaban-ai-lebih-jelas-brand-harus-apa</guid>

					<description><![CDATA[JAKARTA, CILACAP.INFO &#8211; Perilaku konsumen dalam mencari informasi digital mulai berubah cukup signifikan. Jika sebelumnya orang langsung pergi ke mesin telusur, seperti Google, sekarang sebagian pengguna justru memulai pencarian dari kecerdasan buatan (AI).]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JAKARTA</strong>, <a href="https://bisnis.cilacap.info" aria-label="Bisnis Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Perilaku konsumen dalam mencari informasi digital mulai berubah cukup signifikan. Jika sebelumnya orang langsung pergi ke mesin telusur, seperti Google, sekarang sebagian pengguna justru memulai pencarian dari kecerdasan buatan (AI).</p>
<p>Studi yang dikutip oleh <em>Search Engine Land</em> menunjukkan bahwa sekitar <strong>37% konsumen kini mengawali pencarian mereka melalui AI</strong> . Artinya, titik awal perjalanan konsumen mulai bergeser.</p>
<p>Temuan ini juga diperkuat oleh laporan dari <em>Priority Pixels</em> yang menyebutkan bahwa <strong>60% pengguna merasa jawaban dari AI lebih jelas dibandingkan hasil pencarian tradisional</strong> . Ini menunjukkan bahwa bukan hanya penggunaannya yang meningkat, tetapi juga kepercayaan terhadap AI sebagai sumber informasi.</p>
<p>Perubahan ini membuat peran AI tak lagi sekadar alat bantu. AI mulai menjadi tempat utama orang mencari dan memahami informasi. Namun, di balik kemudahan tersebut, ada risiko baru yang sering luput dari perhatian <em>brand</em>.</p>
<p>Dalam sistem AI, pengguna tidak lagi melihat banyak pilihan seperti di halaman hasil pencarian. AI akan menyaring dan merangkum hanya beberapa <em>brand</em> yang dianggap paling relevan dan kredibel. Akibatnya, jumlah <em>brand</em> yang masuk ke tahap pertimbangan jadi jauh lebih sedikit.</p>
<p>&#8220;Ketika konsumen mulai dari AI, mereka tidak lagi melihat banyak opsi seperti di mesin pencari. Mereka langsung mendapatkan ringkasan. Artinya, <em>brand</em> yang tidak masuk dalam ringkasan tersebut bisa kehilangan peluang bahkan sebelum dipertimbangkan,&#8221; ujar Alexandro Wibowo, Co-Founder Avonetiq, sebuah Digital Authority Firm yang berfokus pada penguatan otoritas <em>digital brand</em> di era AI.</p>
<p>Situasi ini menciptakan risiko yang sifatnya tidak terlihat langsung, tetapi berdampak besar. <em>Brand</em> bisa saja masih aktif, memiliki produk yang bagus, bahkan mendapatkan peringkat tinggi di mesin pencari, tetapi tetap tidak muncul dalam jawaban AI.</p>
<p>Apabila ini terjadi, <em>brand</em> bisa kehilangan peluang sejak awal tanpa ada tanda yang jelas dari sisi performa.</p>
<p>&#8220;Ini yang sering tidak disadari. <em>Brand</em> merasa performanya masih stabil, padahal pelan-pelan mereka mulai tidak masuk dalam percakapan. Dampaknya baru terasa belakangan, saat peluang sudah lewat,&#8221; jelas Alexandro.</p>
<p>Melihat perubahan ini, muncul pendekatan baru yang dikenal sebagai <strong>AI Visibility Optimization (AVO)</strong> . Pendekatan ini berfokus pada bagaimana <em>brand</em> membangun struktur informasi yang jelas, konsistensi narasi, serta sinyal kredibilitas agar lebih mudah dipahami dan dipercaya oleh sistem AI.</p>
<p>&#8220;AI tidak hanya mencari informasi, tapi juga menyusun jawaban dan memilih. Kalau <em>brand</em> tidak cukup jelas, tidak konsisten, atau tidak punya validasi yang kuat, AI tidak punya alasan untuk menyebutnya,&#8221; tambah Alexandro.</p>
<p>Seiring makin banyaknya konsumen yang memulai pencarian dari AI, perusahaan perlu mulai mengevaluasi kembali strategi visibilitas digital mereka. Persaingan sekarang bukan hanya soal siapa yang muncul, tetapi siapa yang masuk dalam jawaban.</p>
<p>Di era ini, kehilangan visibilitas tidak selalu terlihat dari angka, melainkan sering terjadi saat <em>brand</em> tidak lagi muncul di momen yang paling menentukan.</p>
<p><strong>About Avonetiq</strong> </p>
<p>Avonetiq adalah Digital Authority Firm yang berfokus pada penguatan otoritas brand di era kecerdasan buatan (AI). Avonetiq membantu brand tetap terlihat dan relevan ketika konsumen beralih dari mesin pencari ke answer engine, seperti Google Gemini, ChatGPT, dan lainnya. Melalui AI Visibility Optimization (AVO), Avonetiq membangun fondasi otoritas digital brand agar dapat dikenali, dipahami, dan dipercaya oleh sistem AI sebagai sumber jawaban yang kredibel. </p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2026/04/21/60-Pengguna-Internet-Akui-Jawaban-AI-Lebih-Jelas-Brand-Harus-Apa-1.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="728">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[Ilustrasi Berita (Sumber: Avonetiq)]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2026/04/21/60-Pengguna-Internet-Akui-Jawaban-AI-Lebih-Jelas-Brand-Harus-Apa-1-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[Ilustrasi Berita (Sumber: Avonetiq)]]></media:description>
													<media:copyright>Tim Press Release</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>7 Kesalahan yang Membuat Konten Anda Tidak Pernah Dipilih AI</title>
		<link>https://bisnis.cilacap.info/ci-89061/7-kesalahan-yang-membuat-konten-anda-tidak-pernah-dipilih-ai</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Press Release]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 06 Apr 2026 13:01:21 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[AI]]></category>
		<category><![CDATA[Kesalahan]]></category>
		<category><![CDATA[Konten]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bisnis.cilacap.info/ci-89061/7-kesalahan-yang-membuat-konten-anda-tidak-pernah-dipilih-ai</guid>

					<description><![CDATA[JAKARTA, CILACAP.INFO &#8211; Banyak konten tidak pernah muncul di jawaban AI bukan karena kualitas, tetapi karena kesalahan strategi. Artikel ini membahas tujuh kesalahan yang perlu dihindari.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JAKARTA</strong>, <a href="https://bisnis.cilacap.info" aria-label="Bisnis Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Banyak konten tidak pernah muncul di jawaban AI bukan karena kualitas, tetapi karena kesalahan strategi. Artikel ini membahas tujuh kesalahan yang perlu dihindari.</p>
<p><strong>Konten Bagus Tidak Selalu Dipilih</strong> </p>
<p>Banyak brand merasa sudah melakukan semuanya dengan benar. Konten rutin diproduksi, SEO dijalankan, bahkan traffic terus meningkat. Namun ketika diuji di AI, baik melalui chatbot maupun sistem pencarian berbasis AI, nama brand mereka tetap tidak muncul.</p>
<p>Masalahnya sering kali bukan pada kualitas konten, tetapi pada cara konten tersebut dipahami oleh sistem.</p>
<p>Di era AI, menjadi &#8220;bagus&#8221; saja tidak cukup. Konten harus bisa dikenali, dipercaya, dan mudah diambil sebagai jawaban.</p>
<ol>
<li><strong> Terlalu Fokus pada Keyword, Bukan Jawaban</strong> </li>
</ol>
<p>Salah satu kesalahan paling umum adalah terlalu fokus mengejar keyword.</p>
<p>Padahal, AI tidak bekerja seperti mesin pencari tradisional. Ia tidak sekadar mencocokkan kata, tetapi mencoba memahami konteks dan mencari jawaban terbaik. Konten yang hanya dioptimasi untuk keyword tanpa benar-benar menjawab pertanyaan cenderung diabaikan.</p>
<ol start="2">
<li><strong> Jawaban Terlalu Berputar-putar</strong> </li>
</ol>
<p>Banyak konten dibuat dengan pembukaan panjang sebelum masuk ke inti.</p>
<p>Untuk pembaca manusia, ini mungkin masih bisa diterima. Namun bagi AI, struktur seperti ini membuat informasi menjadi lebih sulit diekstrak. Konten yang langsung memberikan jawaban di awal memiliki peluang lebih besar untuk dipilih.</p>
<ol start="3">
<li><strong> Tidak Memiliki Struktur yang Jelas</strong> </li>
</ol>
<p>Konten yang padat tanpa struktur yang rapi akan sulit dipahami, baik oleh manusia maupun AI.</p>
<p>Penggunaan heading yang tidak konsisten, paragraf yang terlalu panjang, atau alur pembahasan yang tidak jelas dapat mengurangi kemungkinan konten diambil sebagai referensi.</p>
<ol start="4">
<li><strong> Tidak Konsisten dalam Topik</strong> </li>
</ol>
<p>Brand yang membahas terlalu banyak hal tanpa fokus yang jelas akan sulit dikenali sebagai ahli di satu bidang.</p>
<p>AI cenderung lebih percaya pada sumber yang memiliki konsistensi topik. Jika hari ini membahas marketing, besok teknologi, lalu keuangan tanpa benang merah, maka sinyal otoritas menjadi lemah.</p>
<ol start="5">
<li><strong> Minim Kehadiran di Platform Eksternal</strong> </li>
</ol>
<p>Banyak brand hanya mengandalkan website sendiri.</p>
<p>Padahal, AI juga melihat bagaimana sebuah brand muncul di berbagai sumber lain. Tanpa kehadiran di media, publikasi, atau platform eksternal, tingkat kepercayaan yang terbentuk menjadi terbatas.</p>
<p>Konten yang berdiri sendiri tanpa dukungan ekosistem cenderung kurang dipercaya.</p>
<ol start="6">
<li><strong> Tidak Memiliki Sinyal Kredibilitas</strong> </li>
</ol>
<p>Konten tanpa referensi, data, atau bukti pendukung akan sulit dipercaya.</p>
<p>AI cenderung memilih informasi yang dapat diverifikasi. Jika sebuah artikel tidak menunjukkan dasar yang jelas, maka peluangnya untuk dijadikan jawaban akan menurun.</p>
<ol start="7">
<li><strong> Masih Berpikir Seperti Publisher, Bukan Sumber</strong> </li>
</ol>
<p>Kesalahan terbesar sering kali bukan pada teknis, tetapi pada cara berpikir.</p>
<p>Banyak brand masih berfokus pada produksi konten sebanyak mungkin, tanpa memikirkan apakah mereka benar-benar dianggap sebagai sumber yang layak dirujuk.</p>
<p>Di era AI, yang dibutuhkan bukan sekadar publisher, tetapi entitas yang memiliki otoritas.</p>
<p>Pendekatan seperti AI Visibility Optimization (AVO) mulai digunakan untuk menjawab tantangan ini, dengan fokus pada bagaimana brand dikenali, dipahami, dan dipercaya oleh sistem AI secara menyeluruh.</p>
<p>Untuk brand yang ingin melangkah lebih jauh, pendekatan ini biasanya tidak hanya menyentuh konten, tetapi juga bagaimana keseluruhan jejak digital mereka terbentuk. Di sinilah peran pihak seperti Avonetiq menjadi relevan, terutama dalam membantu brand membangun visibilitas yang tidak hanya terlihat, tetapi juga diakui sebagai sumber jawaban.</p>
<p><strong>Saatnya Mengubah Cara Bermain</strong> </p>
<p>Kesalahan-kesalahan ini sering kali tidak terlihat karena secara kasat mata semuanya tampak berjalan baik.</p>
<p>Namun di balik itu, cara kerja sistem sudah berubah.</p>
<p>Konten tidak lagi dinilai dari seberapa banyak dikunjungi, tetapi dari seberapa layak untuk dijadikan jawaban. Dalam sistem seperti ini, hanya brand yang mampu membangun kepercayaan yang akan benar-benar terlihat.</p>
<p><strong>About Avonetiq</strong> </p>
<p>Avonetiq adalah Digital Authority Firm yang berfokus pada penguatan otoritas brand di era kecerdasan buatan (AI). Avonetiq membantu brand tetap terlihat dan relevan ketika konsumen beralih dari mesin pencari ke answer engine, seperti Google Gemini, ChatGPT, dan lainnya. Melalui AI Visibility Optimization (AVO), Avonetiq membangun fondasi otoritas digital brand agar dapat dikenali, dipahami, dan dipercaya oleh sistem AI sebagai sumber jawaban yang kredibel. </p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2026/04/06/7-Kesalahan-yang-Membuat-Konten-Anda-Tidak-Pernah-Dipilih-AI-1.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="728">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[Ilustrasi Berita (Sumber: Avonetiq)]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2026/04/06/7-Kesalahan-yang-Membuat-Konten-Anda-Tidak-Pernah-Dipilih-AI-1-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[Ilustrasi Berita (Sumber: Avonetiq)]]></media:description>
													<media:copyright>Tim Press Release</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>AI Kini Jadi Penentu Awal Pilihan Konsumen, Brand Berisiko Tersaring dari Persaingan</title>
		<link>https://bisnis.cilacap.info/ci-88131/ai-kini-jadi-penentu-awal-pilihan-konsumen-brand-berisiko-tersaring-dari-persaingan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Press Release]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 08 Mar 2026 09:44:41 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[AI]]></category>
		<category><![CDATA[Brand]]></category>
		<category><![CDATA[konsumen]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bisnis.cilacap.info/ci-88131/ai-kini-jadi-penentu-awal-pilihan-konsumen-brand-berisiko-tersaring-dari-persaingan</guid>

					<description><![CDATA[JAKARTA, CILACAP.INFO &#8211; AI kini berfungsi sebagai gerbang awal persaingan brand dengan menyaring dan merekomendasikan hanya beberapa nama yang dianggap paling kredibel. Dengan meningkatnya adopsi dan kepercayaan terhadap AI secara global, brand yang tidak membangun otoritas digital berisiko tersaring dari consideration set sejak tahap awal pengambilan keputusan konsumen.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JAKARTA</strong>, <a href="https://bisnis.cilacap.info" aria-label="Bisnis Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; AI kini berfungsi sebagai gerbang awal persaingan brand dengan menyaring dan merekomendasikan hanya beberapa nama yang dianggap paling kredibel. Dengan meningkatnya adopsi dan kepercayaan terhadap AI secara global, brand yang tidak membangun otoritas digital berisiko tersaring dari consideration set sejak tahap awal pengambilan keputusan konsumen.</p>
<p>Peran kecerdasan buatan (AI) dalam proses pengambilan keputusan konsumen kini berkembang jauh melampaui fungsi pencarian informasi. AI mulai berperan sebagai &#8220;penjaga gerbang&#8221; yang menentukan brand mana yang masuk dalam daftar pertimbangan awal sebelum konsumen melakukan evaluasi lebih lanjut.</p>
<p>Saat pengguna bertanya kepada sistem, seperti AI Overviews atau ChatGPT, mengenai rekomendasi produk, layanan, atau solusi tertentu, AI tidak menampilkan seluruh pemain di pasar. Sistem tersebut menyaring sejumlah brand yang dinilai paling relevan dan kredibel, lalu merangkumnya menjadi jawaban instan.</p>
<p>Perubahan ini terjadi di tengah meningkatnya adopsi dan kepercayaan terhadap AI secara global. Survei internasional yang melibatkan lebih dari 48.000 responden di 47 negara menunjukkan bahwa sekitar dua per tiga responden kini menggunakan AI secara rutin, dan 83% percaya bahwa AI akan memberikan manfaat dalam kehidupan mereka, termasuk dalam membantu pengambilan keputusan.</p>
<p>Di sisi korporasi, laporan global menunjukkan lebih dari 70% organisasi telah mengintegrasikan AI dalam berbagai fungsi bisnis, seperti pemasaran, analitik, dan pengambilan keputusan strategis. Artinya, AI tidak lagi menjadi eksperimen teknologi, melainkan telah menjadi infrastruktur kompetitif di berbagai industri.</p>
<p>Dalam konteks ini, AI tidak hanya memfasilitasi pencarian, tetapi membentuk persepsi awal konsumen terhadap brand. Jika sebuah brand tidak disebut dalam jawaban AI, maka ia berpotensi tidak dipertimbangkan sejak awal.</p>
<p>&#8220;Masalahnya bukan lagi soal ditemukan atau tidak. Masalahnya sekarang siapa yang masuk ke daftar pilihan awal yang disaring oleh AI. Kalau tidak masuk, brand praktis tidak ikut dipertimbangkan,&#8221; ujar Alexandro Wibowo, Co-Founder Avonetiq, sebuah Digital Authority Firm yang berfokus pada penguatan otoritas digital brand di era AI.</p>
<p>Menurut Alexandro, sistem AI bekerja dengan logika seleksi yang berbeda dari mesin pencari tradisional. AI mengumpulkan berbagai sumber informasi, mengevaluasi konsistensi narasi, reputasi digital, serta validasi eksternal, lalu merangkum brand yang dianggap paling layak direkomendasikan.</p>
<p>Penelitian McKinsey &amp; Company tentang bagaimana kecerdasan buatan mampu mendorong produktivitas dan inovasi juga menunjukkan bahwa meskipun mayoritas perusahaan mulai merangkul penggunaan AI, hanya sebagian kecil yang benar-benar mampu mengekstraksi nilai strategis secara menyeluruh. Hal ini mengindikasikan adanya kesenjangan kompetitif antara brand yang sekadar menggunakan kecerdasan buatan dengan brand yang memahami cara membangun posisi dalam ekosistem AI.</p>
<p>Fenomena ini berpotensi menciptakan efek konsentrasi di berbagai industri. Akibatnya, hanya segelintir brand yang terus disebut dan diperkuat oleh sistem AI, sementara lainnya semakin jarang terlihat.</p>
<p>&#8220;AI sekarang berperan seperti asisten pribadi konsumen. Dan asisten ini tidak menampilkan semua opsi, hanya yang dianggap paling kredibel dan relevan. Kalau brand tidak membangun fondasi otoritas digitalnya, AI tidak punya alasan untuk menyebutnya,&#8221; jelas Alexandro.</p>
<p>Perusahaan yang tidak menyesuaikan strategi visibilitasnya berisiko mengalami erosi daya saing secara perlahan. Bukan karena produknya tidak kompetitif, melainkan karena tidak masuk dalam radar sistem yang kini menjadi perantara utama antara brand dan konsumen.</p>
<p>Di era AI, persaingan tidak lagi dimulai ketika konsumen membuka website atau marketplace. Persaingan sudah dimulai pada tahap yang lebih awal, di algoritma yang menentukan siapa yang layak direkomendasikan.</p>
<p><strong>About Avonetiq</strong> </p>
<p>Avonetiq adalah Digital Authority Firm yang berfokus pada penguatan otoritas brand di era kecerdasan buatan (AI). Avonetiq membantu brand tetap terlihat dan relevan ketika konsumen beralih dari mesin pencari ke answer engine, seperti Google Gemini, ChatGPT, dan lainnya. </p>
<p>Melalui AI Visibility Optimization (AVO), Avonetiq membangun fondasi otoritas digital brand agar dapat dikenali, dipahami, dan dipercaya oleh sistem AI sebagai sumber jawaban yang kredibel.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2026/03/08/AI-Kini-Jadi-Penentu-Awal-Pilihan-Konsumen-Brand-Berisiko-Tersaring-dari-Persaingan-1.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="728">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[Ilustrasi Berita (Sumber: Avonetiq)]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2026/03/08/AI-Kini-Jadi-Penentu-Awal-Pilihan-Konsumen-Brand-Berisiko-Tersaring-dari-Persaingan-1-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[Ilustrasi Berita (Sumber: Avonetiq)]]></media:description>
													<media:copyright>Tim Press Release</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Open Networks dan AI Dorong Transformasi Digital Global South</title>
		<link>https://bisnis.cilacap.info/ci-87578/open-networks-dan-ai-dorong-transformasi-digital-global-south</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Press Release]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 25 Feb 2026 16:35:34 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[AI]]></category>
		<category><![CDATA[Open Networks]]></category>
		<category><![CDATA[Transformasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bisnis.cilacap.info/ci-87578/open-networks-dan-ai-dorong-transformasi-digital-global-south</guid>

					<description><![CDATA[JAKARTA, CILACAP.INFO &#8211; Open network dan kecerdasan artifisial (AI) dinilai menjadi fondasi baru bagi transformasi ekonomi digital di negara-negara Global South. Hal ini mengemuka dalam panel How Open Networks Are Transforming the Global South pada ajang India AI Impact Summit 2026 di New Delhi, Jumat (20/2/2026).]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JAKARTA</strong>, <a href="https://bisnis.cilacap.info" aria-label="Bisnis Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Open network dan kecerdasan artifisial (AI) dinilai menjadi fondasi baru bagi transformasi ekonomi digital di negara-negara Global South. Hal ini mengemuka dalam panel How Open Networks Are Transforming the Global South pada ajang India AI Impact Summit 2026 di New Delhi, Jumat (20/2/2026).</p>
<p>Panel menghadirkan Aniket Doegar (Founder &amp; CEO Haqdarshak) sebagai pembuka, T Koshy (Founding MD &amp; CEO ONDC) sebagai pembicara kunci, serta dimoderatori Savita Muley (CTO Haqdarshak). Diskusi juga diikuti Sujith Nair (CEO Beckn Labs &amp; CO-Founder Networks for Humanity), Shamina Singh (Founder &amp; President Mastercard Center for Inclusive Growth), dan Sachin Gopalan (Founder &amp; CEO Indonesia Economic Forum).</p>
<p>Akses Harus Disertai Kepercayaan</p>
<p>Founder &amp; CEO Haqdarshak, Aniket Doegar, menekankan bahwa transformasi digital harus dimulai dari akses yang bermakna. &#8220;Akses bukan sekadar soal ketersediaan. Yang lebih penting adalah kepercayaan dan rasa memiliki kendali. Tanpa itu, masyarakat tidak benar-benar bisa merasakan manfaat ekonomi digital,&#8221; katanya. Ia menjelaskan bahwa open network membuka ruang partisipasi yang lebih setara. &#8220;Open network memindahkan kekuatan dari sistem tertutup menuju infrastruktur bersama, sehingga warga tidak terkunci pada satu platform dan tetap memiliki pilihan serta martabat dalam bertransaksi.&#8221;</p>
<p>Open Network sebagai Pilihan Tata Kelola</p>
<p>Dalam keynote, T Koshy menegaskan bahwa open network adalah keputusan tata kelola, &#8220;Ini bukan hanya pilihan teknologi, melainkan pilihan tata kelola. Kita memilih memisahkan infrastruktur dari inovasi agar lebih banyak pihak bisa berpartisipasi,&#8221; ujar Koshy. Menurutnya, open network merancang ulang cara pasar bekerja. &#8220;Open network tidak menggantikan pasar, tetapi merancang ulang pasar. Dengan rel interoperabel yang sama, pelaku usaha kecil bisa masuk tanpa hambatan besar.&#8221; Ia juga mengingatkan agar AI tidak menciptakan konsentrasi kekuasaan baru. &#8220;Pertanyaan terpenting bukan apakah kita bisa membangun sistem yang canggih, tetapi siapa yang diuntungkan, siapa yang mengendalikan, dan siapa yang tertinggal.&#8221;</p>
<p>AI untuk Mempermudah, Bukan Mempersulit</p>
<p>CEO Beckn Labs, Sujith Nair, menyebut bahwa open network menempatkan manusia sebagai pusat, &#8220;Jaringan terbuka menempatkan orang dan pelaku usaha di pusat, memberi mereka pilihan dan kendali,&#8221; ujarnya. Menurutnya, AI berfungsi menyederhanakan kompleksitas teknis. &#8220;Peran AI adalah menyembunyikan kerumitan di belakang layar. Pengguna tidak perlu memahami detail teknis, yang penting mereka bisa mendapatkan harga lebih baik dan peluang pasar lebih luas.&#8221; Ia menambahkan bahwa arsitektur terdesentralisasi mencegah penumpukan kekuatan di satu titik.</p>
<p>Data Harus Melindungi dan Memberdayakan</p>
<p>Dari perspektif global, Shamina Singh menekankan pentingnya prinsip pengelolaan data, &#8220;Data harus dimiliki oleh konsumen, memberi manfaat bagi konsumen, dan menjadi tanggung jawab kita untuk melindunginya,&#8221; ujar Shamina. Menurutnya, AI hanya bermakna jika berdampak nyata pada kehidupan masyarakat. &#8220;AI harus memberi manfaat bagi manusia dan menjaga martabat mereka, bukan sekadar menjadi simbol kecanggihan teknologi.&#8221;</p>
<p>Indonesia dan Akselerasi di ASEAN</p>
<p>Founder &amp; CEO Indonesia Economic Forum, Sachin Gopalan, menjelaskan bahwa Indonesia mengadopsi pendekatan open network karena kebutuhan nyata di lapangan. &#8220;Ini lahir dari kebutuhan. Tantangan UMKM, koperasi, dan pasar tradisional menunjukkan bahwa interoperabilitas adalah solusi yang relevan,&#8221; ujar Sachin. Ia optimistis kombinasi open network dan AI dapat membuka potensi generasi muda. &#8220;AI bukan untuk menggantikan manusia, tetapi untuk membebaskan potensi manusia, terutama di desa dan kota kecil.&#8221;</p>
<p>Panel ini menegaskan bahwa masa depan ekonomi digital Global South tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi oleh komitmen membangun sistem yang terbuka, adil, dan inklusif. Open network dan AI diposisikan sebagai instrumen untuk memperluas partisipasi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2026/02/25/Open-Networks-dan-AI-Dorong-Transformasi-Digital-Global-South.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="728">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[Ilustrasi Berita (Sumber: Indonesia Economic Forum)]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2026/02/25/Open-Networks-dan-AI-Dorong-Transformasi-Digital-Global-South-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[Ilustrasi Berita (Sumber: Indonesia Economic Forum)]]></media:description>
													<media:copyright>Tim Press Release</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Telkom AI Center Bali Gelar AI Connect Online Series Bahas Peran AI dalam Keberlanjutan Lingkungan dan Transformasi Digital</title>
		<link>https://bisnis.cilacap.info/ci-86215/telkom-ai-center-bali-gelar-ai-connect-online-series-bahas-peran-ai-dalam-keberlanjutan-lingkungan-dan-transformasi-digital</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Press Release]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 01 Feb 2026 08:38:58 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[AI]]></category>
		<category><![CDATA[inovasi]]></category>
		<category><![CDATA[Keberlanjutan]]></category>
		<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[Transformasi Digital]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bisnis.cilacap.info/ci-86215/telkom-ai-center-bali-gelar-ai-connect-online-series-bahas-peran-ai-dalam-keberlanjutan-lingkungan-dan-transformasi-digital</guid>

					<description><![CDATA[JAKARTA, CILACAP.INFO &#8211; Telkom AI Center Bali menyelenggarakan AI Connect Online Series dengan tema &#8220;The Intersection of Sustainability and AI&#8221; pada Sabtu (17/1). Kegiatan yang digelar secara daring melalui Zoom Meeting ini berlangsung selama kurang lebih tiga jam dan diikuti oleh peserta dari berbagai latar belakang profesional, mulai dari pelaku industri digital, praktisi teknologi, hingga pemerhati isu keberlanjutan.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JAKARTA</strong>, <a href="https://bisnis.cilacap.info" aria-label="Bisnis Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Telkom AI Center Bali menyelenggarakan AI Connect Online Series dengan tema &#8220;The Intersection of Sustainability and AI&#8221; pada Sabtu (17/1). Kegiatan yang digelar secara daring melalui Zoom Meeting ini berlangsung selama kurang lebih tiga jam dan diikuti oleh peserta dari berbagai latar belakang profesional, mulai dari pelaku industri digital, praktisi teknologi, hingga pemerhati isu keberlanjutan.</p>
<p>Webinar ini bertujuan memberikan pemahaman komprehensif mengenai peran strategis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam mendukung pelestarian lingkungan serta mendorong transformasi digital yang berkelanjutan dan bertanggung jawab. Melalui forum ini, Telkom AI Center Bali menegaskan komitmennya dalam memperkuat literasi AI yang tidak hanya berorientasi pada inovasi teknologi, tetapi juga pada dampak sosial dan lingkungan.</p>
<p>Sesi pertama menghadirkan Wira Atmana Wibisana, Product Design Lead Clamby.id, yang membahas pentingnya keseimbangan tiga pilar keberlanjutan, yakni perlindungan lingkungan, sistem ekonomi yang bertanggung jawab, dan keadilan sosial. Dalam paparannya, Wira membagikan praktik nyata penerapan AI melalui Clamby, sebuah tech startup binaan Apple Developer Academy yang memanfaatkan AI untuk mengurangi limbah industri fesyen. Platform ini membantu pengguna mendata isi lemari pakaian secara digital dan memberikan rekomendasi padu padan, sehingga mendorong konsumsi fesyen yang lebih sadar dan berkelanjutan.</p>
<p>Selain itu, Wira juga menyoroti berbagai contoh global pemanfaatan AI untuk sustainability, seperti Too Good To Go yang berfokus pada pengurangan limbah makanan, Google DeepMind yang berhasil menekan konsumsi energi pusat data hingga 40 persen, serta Pachama yang memanfaatkan citra satelit dan AI untuk memantau kondisi hutan secara real-time.</p>
<p>Pada sesi kedua, Soviani Sopandi, Founder Bestari Amerta Nusantara, mendemonstrasikan pemanfaatan ChatGPT-5 Mini sebagai asisten otomatis dalam mendukung komunikasi dan pemasaran digital perusahaan. Dalam sesi ini, Soviani memperlihatkan berbagai fitur AI, mulai dari pembuatan kalender konten, penulisan blog, carousel content creator, hingga reels creator yang dinilai mampu meningkatkan efisiensi dan konsistensi strategi digital marketing secara signifikan.</p>
<p>Program Lead Telkom AI Connect, Mizan Lazuardi, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya Telkom dalam membangun ekosistem AI yang berdampak nyata bagi keberlanjutan. &#8220;Melalui AI Connect Online Series, kami ingin mendorong pemanfaatan AI yang tidak hanya canggih secara teknologi, tetapi juga memiliki tanggung jawab terhadap lingkungan dan masyarakat. AI harus menjadi solusi nyata untuk tantangan global, termasuk isu keberlanjutan,&#8221; ujar Mizan.</p>
<p>Ia menambahkan, Telkom AI Connect akan terus menghadirkan ruang kolaborasi dan pembelajaran bagi pelaku industri, kreator, dan talenta digital agar mampu mengembangkan inovasi berbasis AI yang selaras dengan prinsip sustainable development.</p>
<p>Selama kegiatan berlangsung, para peserta tampak antusias mengikuti setiap sesi dan aktif berdiskusi mengenai peluang implementasi AI di berbagai sektor. Diskusi interaktif ini menunjukkan tingginya minat terhadap pemanfaatan AI sebagai alat strategis untuk mendukung keberlanjutan lingkungan dan transformasi digital bisnis di Indonesia.</p>
<p>Melalui penyelenggaraan AI Connect Online Series ini, Telkom AI Center Bali berharap dapat memperluas kesadaran publik mengenai pentingnya integrasi AI dan sustainability, sekaligus mendorong lahirnya inovasi-inovasi digital yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan lingkungan.
Tentang Telkom AI Connect</strong>
Telkom AI Connect merupakan bagian dari inisiatif Telkom AI Center of Excellence (AI CoE) yang diinisiasi oleh PT Telkom Indonesia. AI Connect menghadirkan program pembelajaran, showcase inovasi, dan konsultasi bisnis untuk mendorong adopsi AI serta mempercepat transformasi digital di Indonesia. Telkom AI Connect hadir di sembilan kota di Indonesia, dengan komitmen membangun kapabilitas AI yang merata, relevan, dan berkelanjutan di seluruh daerah.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2026/02/01/Telkom-AI-Center-Bali-Gelar-AI-Connect-Online-Series.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1366"
				height="768">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[Telkom AI Center Bali Gelar AI Connect Online Series]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2026/02/01/Telkom-AI-Center-Bali-Gelar-AI-Connect-Online-Series-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[Telkom AI Center Bali Gelar AI Connect Online Series]]></media:description>
													<media:copyright>Tim Press Release</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Editage berkolaborasi dengan Universitas Hasanuddin menyediakan Alat Bantu Penulisan Riset Berbasis AI</title>
		<link>https://bisnis.cilacap.info/ci-81695/editage-berkolaborasi-dengan-universitas-hasanuddin-menyediakan-alat-bantu-penulisan-riset-berbasis-ai</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Press Release]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 22 Oct 2025 17:33:09 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[AI]]></category>
		<category><![CDATA[Editage]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Hasanuddin]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bisnis.cilacap.info/ci-81695/editage-berkolaborasi-dengan-universitas-hasanuddin-menyediakan-alat-bantu-penulisan-riset-berbasis-ai</guid>

					<description><![CDATA[JAKARTA CILACAP.INFO &#8211; Editage, merek utama dari Cactus Communications, bekerja sama dengan Universitas Hasanuddin (UNHAS) untuk menyediakan alat riset berbasis AI canggih bagi komunitas akademiknya.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JAKARTA</strong> <a href="https://bisnis.cilacap.info" aria-label="Bisnis Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Editage, merek utama dari Cactus Communications, bekerja sama dengan Universitas Hasanuddin (UNHAS) untuk menyediakan alat riset berbasis AI canggih bagi komunitas akademiknya.</p>
<p>Editage, merek utama dari Cactus Communications (CACTUS), bekerja sama dengan Universitas Hasanuddin (UNHAS) untuk menyediakan alat riset berbasis AI canggih bagi komunitas akademiknya. Seiring Indonesia mempercepat fokus pada keunggulan riset dan visibilitas global, kolaborasi ini hadir pada waktu yang tepat.</p>
<p>Kemitraan ini dirancang untuk membekali peneliti UNHAS dengan teknologi mutakhir yang meningkatkan kualitas, kecepatan, dan dampak penelitian mereka.</p>
<p>Melalui kemitraan ini, peneliti di UNHAS akan mendapatkan akses ke Editage Plus, sebuah paket lengkap alat berbasis AI yang mendukung setiap tahap proses penelitian. Toolkit ini mengintegrasikan solusi untuk penulisan akademik, penemuan literatur, ilustrasi ilmiah, dan pemilihan jurnal, sehingga memungkinkan peneliti bekerja lebih efisien dan mempublikasikan dengan percaya diri. Paket ini mencakup:</p>
<p>· Paperpal: asisten penulisan akademik all-in-one yang dipercaya oleh lebih dari 2 juta peneliti di seluruh dunia.
· R Discovery: platform pencarian literatur dan pembacaan riset dengan peringkat teratas dan lebih dari 3 juta pengguna.
· Mind the Graph: alat ilustrasi ilmiah yang digunakan oleh lebih dari 100 institusi terkemuka.
· Global Journal Database: alat pencarian jurnal dengan basis data lebih dari 43.000 jurnal terverifikasi.</p>
<p>Ruchi Chauhan, Vice President &amp; Head of Marketing (ROW) di Cactus Communications, mengatakan, &#8220;AI dengan cepat mengubah cara hasil penelitian didokumentasikan, dan institusi di Indonesia menunjukkan minat yang kuat untuk mengintegrasikannya ke dalam alur kerja akademik mereka. Di Editage, kami berkomitmen untuk memberdayakan peneliti dengan solusi yang menyederhanakan perjalanan riset mereka dan memperkuat visibilitas global. Bermitra dengan Universitas Hasanuddin adalah langkah strategis untuk memajukan riset yang memenuhi standar global dan membentuk masa depan penciptaan pengetahuan bagi peneliti Indonesia.&#8221;</p>
<p>Prof. Ir. Andi Dirpan, S.TP., M.Si., PhD (Sekretaris Pusat Manajemen Publikasi), Universitas Hasanuddin, menambahkan, &#8220;Kolaborasi ini menandai langkah penting bagi Universitas Hasanuddin ketika kami mengadopsi solusi canggih berbasis AI dari Editage ke dalam ekosistem riset kami. Dengan memberikan akses kepada dosen kami terhadap solusi lengkap untuk penulisan riset, kami bertujuan mempercepat keberhasilan publikasi, memperkuat dampak global, dan menumbuhkan budaya inovasi. Kami sangat puas dengan dukungan dari tim Editage yang selaras dengan praktik terbaik internasional sekaligus mendorong ambisi kami untuk kemajuan riset Indonesia ke depan.&#8221;</p>
<p>Dengan mengadopsi Editage Plus, Universitas Hasanuddin menegaskan kembali komitmennya untuk memberdayakan peneliti dan memajukan keunggulan riset global. Kemitraan ini juga menjadi preseden bagi universitas lain di seluruh Indonesia untuk menjajaki solusi teknologi inovatif yang meningkatkan kualitas dan dampak penelitian.
<strong>About Editage</strong>
Selama lebih dari 23 tahun, Editage — merek unggulan dari Cactus Communications — telah memberdayakan para peneliti melalui rangkaian lengkap solusi riset, termasuk layanan profesional dan produk berbasis AI terdepan seperti Mind the Graph, Paperpal, dan R Discovery.</p>
<p>Cactus Communications adalah perusahaan teknologi terkemuka yang berspesialisasi dalam layanan ahli dan produk berbasis AI untuk meningkatkan cara riset didanai, diterbitkan, dikomunikasikan, dan ditemukan. Dengan kantor perwakilan di Princeton, London, Singapura, Beijing, Shanghai, Seoul, Tokyo, dan Mumbai, serta tenaga kerja global lebih dari 4.000 ahli, CACTUS merupakan pelopor dalam praktik kerja terbaik dan secara konsisten diakui sebagai tempat kerja yang luar biasa.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2025/10/23/Editage-berkolaborasi-dengan-Universitas-Hasanuddin-menyediakan-Alat-Bantu-Penulisan-Riset-Berbasis-AI.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="728">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[Ilustrasi Berita (Sumber: Editage)]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2025/10/23/Editage-berkolaborasi-dengan-Universitas-Hasanuddin-menyediakan-Alat-Bantu-Penulisan-Riset-Berbasis-AI-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[Ilustrasi Berita (Sumber: Editage)]]></media:description>
													<media:copyright>Tim Press Release</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
	</channel>
</rss>
