JAKARTA, CILACAP.INFO – Siang-siang Rayyan biasanya dihabiskan di atas sepeda motor. Pemuda berusia 23 tahun yang lahir di Bali itu berpindah dari satu titik ke titik lain, mengikuti pesanan yang muncul di layar ponselnya sebagai pengemudi ojek daring.
Namun, satu perjalanan membawanya lebih jauh dari sekadar alamat tujuan.
Semua bermula ketika salah seorang karyawan FLOQ menggunakan jasa Rayyan. Seperti banyak percakapan singkat antara pengemudi dan penumpang, obrolan awalnya berlangsung sederhana. Hingga pembicaraan mengarah pada pekerjaan, investasi, dan aset kripto.
Dari percakapan itu, karyawan FLOQ mengetahui bahwa Rayyan ternyata sedang memulai perjalanan investasinya. Kripto bukan sesuatu yang sepenuhnya asing baginya. Ia sudah lebih dulu mengenalnya melalui berbagai konten edukasi di internet, salah satunya dari Akademi Crypto, platform pembelajaran yang membahas aset kripto dan ekosistemnya.
Rasa ingin tahu itu kemudian mendorong Rayyan membuka akun di FLOQ.
Ia tidak langsung menjadi trader yang setiap hari memandangi pergerakan grafik harga. Justru sebaliknya, Rayyan mengaku masih belum berani melakukan trading aktif.
Ia memilih berjalan perlahan.
Alih-alih mengejar pergerakan harga jangka pendek, Rayyan menggunakan pendekatan dollar cost averaging (DCA), yakni membeli aset kripto tertentu secara bertahap dalam periode tertentu.
Di sela aktivitasnya sebagai pengemudi ojol, ia juga terus mengikuti konten edukasi untuk memahami dunia yang baru dimasukinya itu.
Bagi Rayyan, langkah pertamanya di kripto bukan dimulai dari keberanian mengambil risiko besar, melainkan dari belajar.
Undangan yang Membuka Pintu Lebih Lebar
Pertemuan sederhana antara pengemudi dan penumpang tersebut kemudian berkembang menjadi pengalaman yang tidak diduga Rayyan.
Sebagai bentuk apresiasi terhadap semangat belajarnya, FLOQ mengundang Rayyan menghadiri Coinfest Asia 2026. Festival kripto tersebut berlangsung pada 20-21 Agustus 2026 di Melasti Beach, Bali, dan mempertemukan pelaku industri, komunitas, pengembang, hingga trader dari berbagai negara.
Bagi seseorang yang sebelumnya mengenal kripto terutama melalui layar ponsel, kesempatan itu menawarkan pengalaman berbeda.
Di Coinfest Asia, Rayyan dapat melihat bahwa dunia kripto bukan hanya tentang harga Bitcoin yang naik dan turun. Di baliknya terdapat komunitas, perusahaan teknologi, pengembang blockchain, pelaku industri keuangan, regulator, hingga orang-orang yang sedang membangun berbagai layanan berbasis aset digital.
Perjalanan itu seakan mempertemukan dua dunia.
Di satu sisi adalah keseharian Rayyan di jalanan Bali, menerima pesanan demi pesanan melalui aplikasi. Di sisi lain adalah sebuah industri digital yang berkembang cepat dan semakin banyak diakses masyarakat melalui perangkat yang sama: ponsel di genggaman.
Cerita Rayyan menjadi potret kecil dari perubahan yang sedang berlangsung di Indonesia.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat jumlah akun konsumen pedagang aset keuangan digital telah mencapai 22,69 juta pada Juni 2026. Pada bulan yang sama, nilai transaksi aset kripto tercatat Rp28,58 triliun, meningkat 24,20 persen dibanding bulan sebelumnya.
Angka tersebut menunjukkan bahwa aset kripto semakin dekat dengan masyarakat. Namun, semakin mudahnya akses juga membawa pekerjaan rumah lain: literasi.
Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2025 yang dilakukan OJK bersama Badan Pusat Statistik mencatat indeks inklusi keuangan Indonesia telah mencapai 80,51 persen. Sementara indeks literasi keuangan berada pada 66,46 persen.
Jarak antara akses dan pemahaman itu menjadi penting. Memiliki aplikasi keuangan di ponsel belum tentu berarti seseorang telah memahami produk yang digunakan, termasuk risiko di dalamnya.
Di sinilah perjalanan Rayyan menjadi relevan.
Ia tidak memulai dengan transaksi besar atau keputusan yang rumit. Ia memulai dengan menonton, membaca, bertanya, kemudian mencoba memahami sebelum mengambil langkah berikutnya.
Tampilkan Semua