Bitcoin Tertekan di US$63.000, FLOQ Ungkap Peluang Rebound hingga Akhir 2026

Bitcoin Tertekan di US 63 000 FLOQ Ungkap Peluang Rebound hingga Akhir 2026
Bitcoin Tertekan di US 63 000 FLOQ Ungkap Peluang Rebound hingga Akhir 2026
Selain itu, arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau The Fed juga menjadi katalis penting. Pelonggaran kebijakan moneter berpotensi meningkatkan minat investor terhadap aset berisiko, termasuk Bitcoin. Sebaliknya, jika Bitcoin gagal mempertahankan area support di kisaran US$60.000, tekanan jual berpotensi meningkat dan membuka ruang untuk koreksi lebih lanjut.

ETF, The Fed, Makroekonomi, dan Geopolitik Jadi Penentu

Yudho melihat setidaknya empat faktor utama yang dapat memengaruhi pergerakan Bitcoin, yakni kebijakan suku bunga The Fed, arus dana ETF BTC spot, kondisi makroekonomi dan geopolitik global, serta faktor teknikal dan siklus pasar Bitcoin. Perubahan data inflasi Amerika Serikat, pergerakan yield obligasi AS, hingga perkembangan konflik dan ketegangan geopolitik dapat memengaruhi tingkat toleransi risiko investor global. Di sisi lain, Bitcoin masih sangat sensitif terhadap aktivitas investor institusional. Perlambatan arus masuk ETF BTC, misalnya, dapat menunjukkan bahwa sebagian investor besar masih mengambil sikap wait and see daripada melakukan akumulasi secara agresif. Dari sisi domestik, Yudho menilai Indonesia bukan penentu utama harga Bitcoin karena pembentukan harga BTC tetap berlangsung di pasar global. Meski demikian, kondisi dalam negeri dapat memengaruhi respons investor Indonesia terhadap volatilitas pasar. Faktor yang perlu diperhatikan antara lain perkembangan regulasi aset kripto, pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, serta semakin beragamnya produk investasi aset digital di pasar domestik. Pergerakan rupiah juga menjadi perhatian karena harga Bitcoin di Indonesia merupakan hasil konversi harga BTC dalam dolar AS ke rupiah. Artinya, pelemahan rupiah dapat membuat harga BTC dalam denominasi rupiah meningkat meskipun dalam dolar AS relatif tidak berubah.

Pasar Waspadai BI dan The Fed Pekan Depan

Perhatian pasar selanjutnya akan tertuju pada Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 18–19 Agustus serta rilis notulen FOMC pada 19 Agustus. Kedua agenda tersebut berlangsung berdekatan dan berpotensi meningkatkan volatilitas rupiah maupun Bitcoin. Di dalam negeri, sentimen pasar turut dipengaruhi perkembangan pencalonan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia. Rupiah sempat menguat ke Rp17.750 per dolar AS pada 10 Agustus sebelum kembali bergerak di kisaran Rp17.855–Rp17.881. Sementara itu, IHSG naik ke level 6.373,85 pada 12 Agustus.

Tampilkan Semua
Cilacap Info
IKUTI BERITA LAINNYA DIGOOGLE NEWS

Berita Terkait