Perbedaan inilah yang kini menjadi semakin penting.
Ketika teknologi digital semakin mudah diakses oleh semua pihak, keunggulan kompetitif tidak lagi berasal dari teknologinya semata.
Artificial Intelligence, cloud computing, platform otomatisasi, hingga teknologi mobile kini dapat dimanfaatkan hampir oleh setiap organisasi.
Teknologi telah menjadi sebuah komoditas.
Yang menjadi pembeda justru kemampuan organisasi dalam menciptakan model bisnis baru.
Bagi industri perbankan, hal ini berarti bertransformasi dari sekadar lembaga keuangan menjadi platform gaya hidup digital.
Upaya tersebut sebenarnya sudah mulai dilakukan oleh sejumlah bank di Indonesia melalui berbagai fitur dalam aplikasi mobile banking mereka, seperti menu Lifestyle pada aplikasi myBCA, layanan Sukha di Livin’ by Mandiri, maupun menu Lifestyle di aplikasi Wondr by BNI. Meski demikian, keberhasilannya masih relatif terbatas.
Hal serupa juga terjadi pada industri telekomunikasi. Operator seluler berupaya berkembang dari penyedia layanan konektivitas menjadi platform perdagangan digital.
Contohnya dapat dilihat pada fitur Lifestyle di aplikasi Telkomsel maupun myIM3 milik Indosat. Namun hasil yang dicapai pun belum sepenuhnya memenuhi harapan.
Sementara itu, sektor ritel mulai mengintegrasikan layanan keuangan, logistik, serta berbagai kemitraan dalam satu ekosistem.
Pemerintah pun semakin berfokus menciptakan lingkungan yang memungkinkan inovasi berkembang lintas sektor, bukan hanya di dalam masing-masing industri.
Dengan demikian, masa depan transformasi digital bukan lagi sekadar memperbaiki proses bisnis yang telah ada, melainkan membuka ruang bagi lahirnya bentuk-bentuk kolaborasi ekonomi yang sama sekali baru.
Indonesia Tidak Membutuhkan Marketplace Baru
Indonesia telah memiliki salah satu ekosistem perdagangan digital paling dinamis di Asia Tenggara. Berbagai platform e-commerce bersaing ketat memperebutkan konsumen.
Industri perbankan terus memperluas layanan digitalnya. Perusahaan telekomunikasi menggelontorkan investasi besar untuk berbagai layanan digital.
Perusahaan ritel mengembangkan kanal penjualan daring yang semakin canggih. Startup teknologi pun terus menghadirkan berbagai inovasi baru.
Dari luar, Indonesia tampak telah memiliki seluruh elemen yang dibutuhkan untuk membangun ekonomi digital yang maju.
Namun, di balik perkembangan tersebut masih terdapat persoalan mendasar.
Ekosistem digital Indonesia masih berjalan secara terfragmentasi.
Setiap organisasi membangun platformnya sendiri. Setiap perusahaan mengembangkan jaringan merchant sendiri.
Setiap pelaku usaha melakukan integrasi teknologi, membangun tata kelola, menyusun skema kerja sama komersial, serta menjalin kemitraannya masing-masing.
Pekerjaan yang sama akhirnya dilakukan berulang kali oleh ribuan organisasi di berbagai sektor.
Akibatnya, perusahaan harus menghabiskan sumber daya yang besar hanya untuk saling terhubung sebelum benar-benar dapat menciptakan nilai bagi pelanggan.
Tampilkan Semua

